Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Harga Pangan di Sampit Bergejolak Jelang Ramadan, Penyebabnya Sungguh Tak Terduga

Usay Nor Rahmad • Rabu, 11 Februari 2026 | 12:08 WIB
Suasana pasar Pusat Perbelanjaan Mentaya Sampit. (Oes/Radar Sampit)
Suasana pasar Pusat Perbelanjaan Mentaya Sampit. (Oes/Radar Sampit)

SAMPIT, Radarsampit.jawapos.com – Menjelang masuknya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi, harga sejumlah kebutuhan pokok di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), mulai bergejolak.

Kenaikan harga ini diduga dipicu terganggunya distribusi bahan pangan akibat cuaca buruk dan gelombang tinggi di jalur laut.

Sebagian besar pasokan bahan pangan di Sampit berasal dari Pulau Jawa dan dikirim melalui jalur laut.

Ketika kondisi perairan Laut Jawa tidak bersahabat, pengiriman pun tersendat, sehingga berdampak pada ketersediaan stok di pasaran.

Pantauan di Pasar Pusat Perbelanjaan Mentaya (PPM) Sampit, Rabu (11/2/2026), menunjukkan sejumlah komoditas strategis mengalami kenaikan harga, di antaranya bawang merah, bawang putih, dan telur ayam ras.

Salah seorang pedagang bawang di Pasar PPM, Nana, mengatakan harga bawang merah mengalami kenaikan signifikan.

Dari sebelumnya berkisar Rp30 ribu per kilogram, kini naik menjadi Rp40 ribu hingga Rp45 ribu per kilogram.

Sementara itu, harga bawang putih yang sebelumnya dijual Rp35 ribu hingga Rp38 ribu per kilogram, kini naik menjadi sekitar Rp40 ribu per kilogram.

“Kemungkinan besar karena gelombang tinggi, sehingga distribusi terhambat. Stok di Sampit jadi cepat kosong. Biasanya dua hari sudah habis, kalau pengiriman terlambat barang jadi tidak ada,” ujarnya.

Di sisi lain, harga cabai rawit justru mengalami penurunan. Setelah sebelumnya sempat menyentuh Rp110 ribu per kilogram, kini turun menjadi sekitar Rp85 ribu per kilogram. Meski demikian, harga komoditas tersebut dinilai masih fluktuatif dan berpotensi kembali naik.

“Kalau cuaca seperti ini terus, tidak menutup kemungkinan harga cabai naik lagi,” tambah Nana.

Cuaca buruk juga memaksa sebagian pengiriman dialihkan melalui jalur lain, seperti Banjarmasin, sebelum diteruskan ke Sampit melalui jalur darat.

Jalur distribusi yang lebih panjang ini berdampak pada meningkatnya biaya angkut serta risiko kerusakan barang, terutama komoditas sayur-mayur.

“Biasanya barang dari Jawa dikirim dulu ke Banjarmasin, lalu ke Sampit lewat darat. Biaya jadi lebih mahal dan banyak sayuran yang rusak di jalan,” jelasnya.

Kenaikan harga turut terjadi pada telur ayam ras. Pedagang telur di Pasar PPM, Mansur, menyebut harga telur saat ini berada di kisaran Rp60 ribu hingga Rp65 ribu per sap, tergantung ukuran.

Angka tersebut meningkat cukup tajam dibandingkan harga sebelumnya yang berkisar Rp19 ribu hingga Rp21 ribu per sap.

“Harga telur menyesuaikan permintaan. Kami juga tidak bisa memprediksi naik turunnya harga, termasuk saat Ramadan atau menjelang Lebaran. Kalau permintaan tinggi, harga bisa ikut naik,” katanya.

Ketidakstabilan harga membuat sebagian warga memilih berbelanja secukupnya. Salah seorang pembeli, Resty, mengaku tidak berani membeli bahan pokok dalam jumlah banyak karena harga yang belum menentu.

“Harganya tidak stabil, jadi beli sesuai kebutuhan saja. Tidak berani menyetok karena tidak tahu besok naik atau turun,” ujarnya.

Para pedagang berharap pemerintah daerah dapat mengambil langkah konkret untuk menjaga stabilitas harga dan kelancaran distribusi bahan pangan, terutama menjelang Ramadan yang biasanya diiringi dengan peningkatan kebutuhan masyarakat. (oes)

Editor : Slamet Harmoko
#bergejolak #Harga Kebutuhan #jelang ramadan #sampit