SAMPIT-radarsampitjawapos.com-Rencana produksi film Tanah Dayak yang mengambil latar peristiwa konflik di Sampit tahun 2001 silam, mendapat perhatian kalangan Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).
Pihaknya menyatakan dukungan terhadap proyek yang digarap rumah produksi Borneo Picture tersebut, dengan catatan dilakukan secara profesional dan menghormati nilai-nilai budaya.
Ketua Harian DAD Kotim, Gahara mengatakan pihaknya menyambut baik adanya sineas yang tertarik mengangkat kisah berlatar Kalimantan Tengah ke layar lebar. Menurutnya, dunia perfilman dapat menjadi sarana memperkenalkan budaya dan kearifan lokal kepada masyarakat luas.
“Kami pada prinsipnya mendukung jika memang tujuannya untuk mengangkat budaya daerah. Namun tentu harus disajikan secara bijak, menghormati adat istiadat, serta berdasarkan referensi sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya, Selasa (10/2/2026).
Ia menilai, meskipun dikemas dalam nuansa horor dan dramatik, cerita tetap perlu menghadirkan sudut pandang yang berimbang, termasuk sisi kemanusiaan dan konteks sosial pada masanya. Hal itu penting agar karya yang dihasilkan tidak hanya menarik secara sinematik, tetapi juga edukatif dan ber-etika.
Menurut Gahara, film berlatar budaya lokal sebaiknya tidak terpaku pada satu unsur saja. Perpaduan antara cerita, budaya, dan nilai-nilai kehidupan justru akan membuat film lebih hidup dan mudah diterima penonton.
Ia mencontohkan sejumlah film daerah yang berhasil dikenal luas karena mampu menghadirkan unsur budaya secara kuat dan natural dalam alur cerita.
Selain itu, DAD Kotim juga mengapresiasi rencana pelibatan aktor dan aktris lokal dalam produksi film tersebut. Langkah itu dinilai dapat membuka ruang bagi talenta daerah untuk berkembang di industri kreatif.
“Keterlibatan putra-putri daerah tentu menjadi kebanggaan bersama. Ini kesempatan baik untuk menunjukkan potensi lokal,” katanya.
Gahara menegaskan, DAD Kotim berharap film Tanah Dayak dapat digarap secara serius dan bertanggung jawab, sehingga tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga media pengenalan budaya Kalimantan Tengah kepada masyarakat Indonesia secara luas.(ang/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama