SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Perusahaan Umun Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) Cabang Kotawaringin Timur (Kotim) mengungkapkan adanya kendala dalam penyaluran jagung pipil kering program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).
Akibat terbentur aturan persyaratan pembeli, puluhan ton jagung hasil serapan petani mengendap di gudang Bulog selama lebih dari setengah tahun.
Kepala Perum Bulog Cabang Kotawaringin Timur, Muhammad Azwar Fuad, menjelaskan bahwa Bulog sebenarnya mendapatkan penugasan khusus untuk menyerap jagung pipil kering dari hasil panen petani lokal.
Langkah ini diambil pemerintah sebagai upaya strategis untuk menekan angka impor bahan baku pakan yang selama ini masih dilakukan oleh Indonesia.
"Berdasarkan data, Indonesia sebenarnya masih mengimpor bahan baku pakan, sehingga pemerintah memerintahkan Bulog untuk menyerap hasil panen petani kita sendiri," ujar Muhammad Azwar Fuad.
Fuad mengungkapkan, pada tahun 2025 ini terdapat perintah penyaluran SPHP jagung dari pemerintah pusat.
Namun, pelaksanaan di lapangan menemui jalan buntu karena adanya persyaratan khusus terkait siapa yang diperbolehkan membeli jagung tersebut.
"Di tahun 2025 ada perintah SPHP jagung, tapi di situ dipersyaratkan pembelinya harus anggota Asosiasi Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar). Masalahnya, di Kalimantan Tengah ini belum ada kepengurusan Pinsar, sehingga kami tidak bisa menjual jagung SPHP tersebut kepada peternak lokal," jelasnya.
Kondisi ini menyebabkan stok jagung sebanyak 55 ton mengendap di Gudang Bulog Kotim sejak Juni 2025.
Padahal, keberadaan jagung tersebut sangat dibutuhkan oleh para peternak untuk menekan biaya produksi pakan.
Menyikapi regulasi yang mengikat tersebut, Bulog Kotim telah mengambil langkah proaktif dengan bersurat secara berjenjang, mulai dari tingkat Provinsi Kalimantan Tengah hingga ke tingkat pusat.
"Kami sudah bersurat terkait usulan SPHP jagung ini supaya ada diskresi atau izin agar bisa dijual langsung kepada peternak mandiri dengan harga Rp5.500 per kilogram," ujar Azwar Fuad.
Pihaknya berharap usulan tersebut segera disetujui oleh pemerintah pusat. Dengan demikian, stok 55 ton jagung yang ada di Gudang Bulog dapat segera didistribusikan.
"Harapannya usulan kami disetujui pusat dan boleh dibeli oleh peternak mandiri. Sehingga, jagung yang ada di gudang Bulog bisa segera keluar dan memberikan manfaat nyata bagi peternak, terutama dalam membantu menekan harga pakan," pungkasnya. (hgn)
Editor : Slamet Harmoko