PALANGKA RAYA,radarsampitjawapos.com- Sejumlah titik kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di beberapa wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng), mereda dalam dua hari terakhir, seiring datangnya hujan disertai angin kencang dan badai petir bersahutan, sejak Kamis (29/1) malam, dan Jumat (30/1).
Di Palangka Raya, cuaca ekstrem serta sambaran kilat dan petir terlihat jelas, disertai suaranya menggelegar. Di tengah kondisi itu, sebuah rumah warga di Jalan Karanggan, Kelurahan Panarung, dilaporkan hangus terbakar, terkena sambaran petir saat hujan deras berlangsung.
Peristiwa itu menimpa rumah milik Mulyadi (47). Api tiba-tiba berkobar dan dengan cepat melalap bangunan rumah semi permanen, beserta sarang burung walet yang berada di lokasi yang sama.
Beberapa saksi di lapangan menyebutkan, api di rumah itu muncul di tengah cuaca hujan, sesaat setelah terdengar suara petir yang menyambar area sekitar rumah tersebut. Beruntung tidak ada korban jiwa dan luka-luka dalam peristiwa itu. Namun pemilik rumah mengalami kerugian materiil yang ditaksir mencapai ratusan juta rupiah.
Proses pemadaman api melibatkan Tim Pemadam Kebakaran Kota Palangka Raya yang dibantu unsur TNI, Polri, Dinas Kehutanan Provinsi, PLN, TSAK, serta sejumlah relawan pemadam swasta. Api berhasil dipadamkan setelah petugas berjibaku di tengah hujan dan kondisi cuaca yang masih tidak bersahabat.
Plt Kadis Damkarmat Palangka Raya Urianinu Napulangit menyampaikan, menurut keterangan saksi mata di lapangan, api muncul sesaat setelah suara petir menggelegar di area pemukiman tersebut. Lalu, api juga menjalar ke bangunan sarang burung walet di dekatnya.
"Penyebab pastinya masih dalam penyelidikan pihak berwenang, namun berdasarkan keterangan saksi-saksi di lokasi, api dipicu oleh sambaran petir," tegasnya.
Sementara itu, cuaca ekstrem yang juga melanda Kotawaringin Barat (Kobar) Jumat (30/1) menyebabkan kerusakan.
Salah satunya, bangunan milik unit PDAM Kelurahan Candi, Kecamatan Kumai atapnya diterbangkan angin kencang. Selain itu, beberapa atap rumah warga setempat juga bernasib sama.
Tak hanya itu, di Kecamatan Pangkalan Banteng, sebuah pohon kelapa terbakar terkena sambaran petir.
Forecaster On Duty (Prakirawan), Stasiun Meteorologi (Stamet), Bandara Iskandar, Pangkalan Bun, Maulidianto menyampaikan, terkait petir dan angin kencang saat hujan di wilayah Kobar dan sekitarnya kemarin, diakibatkan kondisi kelembapan udara yang sebelumnya relatif rendah.
"Kelembapan rendah lantaran adanya gangguan cuaca berupa bibit siklon dan siklon tropis yang berada di udara dan Selatan Indonesia," terangnya, Jumat (30/1).
Menurutnya saat ini, kondisi kelembapan udara sudah mulai meningkat, seiring dengan melemahnya pengaruh dari gangguan cuaca yang terjadi sebelumnya.Selain itu terdapat juga konvergensi atau pertemuan di Kalimantan Tengah dan sekitarnya, termasuk Kotawaringin Barat yang meningkatkan potensi pembentukan awan-awan hujan
"Seperti yang telah disampaikan sebelumnya juga dimana secara klimatologi, pada bulan Januari, Kotawaringin Barat dan sekitarnya masih dalam musim penghujan. Kita imbau warga dapat berhati-hati dan waspada," imbuh Maulidianto.
Sementara itu di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Hujan disertai angin kencang dan badai petir terjadi sekitar pukul 12.40 WIB atau sesaat setelah umat muslim menggelar salat Jumat dan bertahan hingga sekitar pukul 13.20 WIB. Hujan sedang juga terjadi pada malam hari, namun tidak disertai badai.
“Alhamdulillah hujan. Tapi agak ngeri juga karena hujannya tidak seperti biasa, disertai angin, guntur, hingga petir,” ujar Sugianto, salah seorang warga Sampit.
Warga berharap hujan ini dapat membantu mengurangi dampak kekeringan yang belakangan terjadi, seperti potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta krisis air bersih, khususnya di wilayah selatan Kotim.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kotim, kondisi cuaca di Sampit pada pukul 13.00 WIB tercatat hujan ringan disertai petir. Jarak pandang mencapai 6 kilometer, dengan suhu udara 24 derajat Celsius dan kelembaban udara mencapai 95 persen.
BMKG juga mencatat arah angin bertiup dari selatan dengan kecepatan sekitar 16 kilometer per jam.
Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim, Multazam, mengatakan pihaknya masih memantau dampak hujan terhadap kondisi kebakaran lahan.
“Sebagai indikator, kami masih menunggu hasil pengecekan ground check di lokasi Bengkuang Makmur. Saat ini masih dalam proses,” ujar Multazam secara terpisah.
Ia menambahkan, hujan yang terjadi pada malam sebelumnya, Kamis (29/1) belum sepenuhnya mampu membasahi lahan gambut secara menyeluruh, sehingga potensi karhutla masih perlu diantisipasi.
BPBD bersama instansi terkait terus memantau perkembangan cuaca dan kondisi lapangan, serta mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap perubahan cuaca ekstrem yang dapat terjadi sewaktu-waktu, terutama hujan disertai angin kencang dan petir.(daq/tyo/oes/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama