radarsampit.jawapos.com- Banjir yang merendam pemukiman dan lahan pertanian masih rawan terjadi di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), ketika musim hujan. Langkah antisipasi pun terus dilakukan. Di 2026 ini, ada puluhan program pekerjaan untuk memberbaiki saluran air yang tersebar di beberapa kecamatan.
------------------------------------
Berdasarkan data teknis dari Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, Bina Konstruksi, Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DSDABMBKPRKP) Kotim, kondisi infrastruktur pengairan di kabupaten ini pada tahun 2025, terdiri dari saluran primer total panjang 1.099,74 kilometer.
Rinciannya, dalam kondisi baik sepanjang 770,17 kilometer, rusak ringan 229,09 kilometer, dan rusak berat 100,49 kilometer. Sementara itu, untuk saluran sekunder dengan total panjang 1.164,84 kilometer. Tercatat kondisi baik sepanjang 657,59 kilometer, rusak ringan 250,64 kilometer, dan rusak berat 273,72 kilometer.
Diungkapkan Kepala DSDABMBKPRKP Kotim, Mentana Dhinar Tistama, melanjutkan rehabilitasi saluran ring drain utara jadi salah satu langkah strategis Pemkab Kotim untuk mengatasi persoalan banjir.
Menurutnya, rehabilitasi besar-besaran terhadap infrastruktur sumber daya air yang mengalami kerusakan jadi fokus utama. Upaya tersebut didasarkan pada capaian kinerja Bidang Sumber Daya Air selama periode 2022–2025 yang menunjukkan tren positif, khususnya pada peningkatan kualitas saluran primer di wilayah Kotim.
“Berdasarkan capaian tersebut, terlihat adanya peningkatan signifikan kondisi saluran primer. Pada tahun 2024, panjang saluran primer dalam kondisi baik tercatat sebesar 678,21 kilometer,” ujar Mentana, belum lama tadi, (23/1).
Ia menjelaskan, melalui berbagai program pembangunan dan rehabilitasi, saluran primer yang kondisinya baik diproyeksi jauh meningkat di tahun 2025. Pihaknya menargetkan penambahan sepanjang 91,962 kilometer, sehingga total saluran primer dalam kondisi baik mencapai 770,17 kilometer hingga akhir 2025.
“Pekerjaan rehabilitasi dan pembangunan ini tersebar secara masif di delapan kecamatan,” sebut Mentana.
Baca Juga: Rimbun: Drainase Penyebab Banjir Harus Dibongkar
Adapun wilayah yang menjadi sasaran utama program tersebut meliputi Kecamatan Baamang, Mentawa Baru Ketapang, Kota Besi, Cempaga, Mentaya Hilir Selatan, Mentaya Hilir Utara, Pulau Hanaut, dan Teluk Sampit.
Mentana melanjutkan, selain perbaikan saluran, juga akan dilakukan pengaturan debit air melalui penambahan unit pintu air. Pada tahun 2026 ini, satu unit pintu air baru dibangun di wilayah Sei Sugih II, Kecamatan Kota Besi.
“Penambahan pintu air ini sangat krusial untuk mengatur irigasi, agar lahan pertanian warga tidak terendam saat musim hujan dan tetap mendapatkan suplai air pada musim kemarau,” terangnya.
Selain itu tambahnya, sejumlah pekerjaan strategis juga tengah berjalan. Di antaranya rehabilitasi jaringan irigasi saluran Simpang Pinang di Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, rehabilitasi saluran Sei Kuda Marleh, serta rehabilitasi Saluran Primer Bapanggang di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.
“Langkah-langkah tersebut diharapkan mampu mendukung ketahanan pangan di Kabupaten Kotim, mengingat ketersediaan dan pengelolaan infrastruktur air yang baik menjadi kunci utama bagi sektor pertanian dan kawasan permukiman yang sehat,” papar Mentana.
Kepala Bidang Sumber Daya Air DSDABMBKPRKP Kotim, Muhammad Hairul Saleh, juga memaparkan, di tahun 2026 terdapat 34 paket kegiatan yang meliputi rehabilitasi saluran, operasi dan pemeliharaan, serta perencanaan. Total pagu anggaran yang dialokasikan mencapai Rp8,357 miliar.
“Pagu terbesar mencapai Rp400 juta di beberapa titik. Anggaran ini difokuskan untuk mendukung program ketahanan pangan sekaligus pengendalian banjir,” sebutnya, Minggu (25/1).
Diuraikannya, salah satu kegiatan pengendalian banjir yang dilanjutkan pada tahun 2026 adalah rehabilitasi saluran ring drain utara. Pada tahun 2025 lalu, rehabilitasi saluran ini telah diselesaikan sepanjang 2 kilometer dengan anggaran sebesar Rp199,5 juta. Sedangkan pada tahun 2026, rehabilitasi kembali dianggarkan sebesar Rp400 juta untuk penanganan sepanjang 4 kilometer.
“Total panjang saluran ring drain utara mencapai 20 kilometer dengan lebar antara 6 hingga 8 meter. Namun pengerjaannya dilakukan secara bertahap,” sebut Hairul.
Ditambahkannya, di tahun 2026, rehabilitasi saluran ring drain utara dikerjakan dari dua arah, yakni dari Jalan Jenderal Sudirman Kilometer 5 ke arah utara serta dari arah Jalan Tjilik Riwut ke arah utara.
“Pekerjaan ini ditujukan untuk menangani persoalan banjir di Jalan Jenderal Sudirman Sampit kilometer 4, hingga ke arah utara Jalan Ir Soekarno. Kemudian dari arah Jalan Tjilik Riwut, rehabilitasi dikerjakan sekitar 200 meter dari SPBU ke arah utara, sepanjang kurang lebih 2 kilometer,” pungkas Muhammad Hairul Saleh. (*/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama