KUALA PEMBUANG,radarsampit.jawapos.com- Kabupaten Seruyan masuk dalam sasaran program strategis nasional cetak sawah dengan target luasan mencapai 6.442 hektare, yang dikerjakan hingga tahun 2029.
Program ini sepenuhnya merupakan kebijakan pemerintah pusat, sementara pemerintah daerah berperan melakukan pendampingan dan pengawalan pelaksanaan di lapangan.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Seruyan, Sri Susanti, mengatakan, sampai 2026 ini , realisasi cetak sawah di Seruyan telah mencapai 1.509 hektare. Namun, dari luasan tersebut, progres pengolahan tanah yang benar-benar baru masih sekitar 117 hektare.
“Pelaksana utamanya dari pemerintah pusat. Kami di daerah sifatnya mendampingi. Berdasarkan pemantauan terakhir, realisasi cetak sawah sudah 1.509 hektare, tetapi yang pengolahan tanah barunya sekitar 117 hektare,” ujar Sri Susanti, Jumat (23/1).
Ia menjelaskan, sisa anggaran program dari pemerintah pusat untuk tahun 2025 telah ditransfer dan masuk ke rekening penampungan pada akhir tahun lalu.Selanjutnya ungkap Sri Susanti pelaksanaan teknis di lapangan dilaksanakan oleh pihak TNI, sesuai dengan arahan Presiden Republik Indonesia.
Lebih lanjut diungkapkannya, dalam tahapan awal, DKPP Kabupaten Seruyan menawarkan lahan potensial seluas 2.627 hektare untuk mendukung program tersebut. Namun, setelah dilakukan survei oleh pihak Kodim, lahan yang dinyatakan siap dan memungkinkan untuk dikerjakan hanya seluas 1.148 hektare.
“Setelah survei, yang bisa disanggupi hanya 1.148 hektare. Lahan itu tersebar di dua kecamatan, yakni Seruyan Hilir dan Seruyan Hilir Timur,” sebut Sri Susanti.
Rinciannya, lahan tersebut berada di Desa Pematang Limau seluas 150 hektare, Desa Kartika Bakti 368 hektare, dan Desa Halimau Jaya 660 hektare. Seluruh area itu ditargetkan rampung dikerjakan hingga 31 Maret 2026 mendatang.
Sementara itu, beberapa lahan wilayah lain seperti Danau Sembuluh belum dapat digarap dalam waktu dekat. Faktor keterbatasan waktu dan kondisi lapangan menjadi pertimbangan utama.
Sri Susanti juga mengungkapkan, kendala terbesar dalam pelaksanaan program cetak sawah di Seruyan adalah persoalan akses. Di wilayah Danau Sembuluh, misalnya, belum tersedia jalan memadai sehingga alat berat tidak bisa masuk ke lokasi.
Selain itu, wilayah Hanau, Tanjung Paring, dan sekitarnya juga masih menghadapi hambatan berupa vegetasi pepohonan besar, serta tingginya debit air sungai. “Kondisi tersebut berisiko menimbulkan banjir dan dinilai belum aman untuk dikembangkan menjadi area persawahan,” pungkasnya.
Meski begitu tambah Sri, sejumlah wilayah telah masuk dalam daftar realisasi program cetak sawah rakyat, seperti Seruyan Hilir, Hanau, Danau Sembuluh, dan Batu Ampar. Hanya saja, pengolahan lahan di kawasan tersebut masih belum berjalan maksimal. (rdw/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama