Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

BPBD Kotim Bersiap Gelar Rapat Evaluasi Status Siaga Karhutla Hari Ini

Slamet Harmoko • Kamis, 22 Januari 2026 | 08:05 WIB
Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam
Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam

SAMPIT, Radarsampit.jawapos.com – Meningkatnya jumlah titik panas (hotspot) dan kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mendorong Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat menggelar rapat evaluasi penetapan status siaga karhutla, Kamis (22/1/2026).

Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam, mengungkapkan sejak awal Januari 2026 telah terjadi peningkatan signifikan, baik dari sisi jumlah hotspot maupun kejadian kebakaran di lapangan. Kondisi ini dinilai tidak lazim karena Januari biasanya masih didominasi musim hujan.

“Sejak Januari 2026 memang terjadi peningkatan, baik titik panas maupun kejadian kebakaran. Curah hujan yang kami pantau setiap hari tidak signifikan. Bahkan hari ini (kemarin. red) hampir bersamaan terjadi tiga kebakaran, yakni di Jalan Bawi Jahawen, Jalan Robby, dan Desa Luwuk Bunter,” ujarnya.

Menurut Multazam, kebakaran di Desa Luwuk Bunter masih dalam proses verifikasi petugas lapangan.

Namun secara umum, situasi yang terjadi saat ini menjadi perhatian serius karena bersifat anomali cuaca.

Berdasarkan data BPBD Kotim, akumulasi hotspot pada bulan Januari selama periode 2023 hingga 2026 tercatat 54 titik, dengan Januari 2026 menjadi yang tertinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

“Kalau dibandingkan tahun demi tahun khusus bulan Januari, tahun 2026 ini paling tinggi. Ini di luar prediksi, karena biasanya Januari masih hujan bahkan ada banjir di beberapa daerah,” kata Multazam.

Data tersebut selaras dengan update BMKG Stasiun Meteorologi H. Asan Sampit, yang mencatat 16 titik panas dalam 24 jam terakhir, tersebar di sejumlah kecamatan dengan dominasi di wilayah pedalaman seperti Antang Kalang. Sebagian besar hotspot terdeteksi pada tingkat kepercayaan tinggi (level 8).

Multazam menjelaskan, dalam rapat evaluasi BPBD akan menelaah tiga parameter utama sebagai dasar penetapan status siaga.

Pertama, kejadian kebakaran langsung (fire spot) yang sudah melampaui ambang batas. Kedua, kondisi muka air tanah, yang saat ini mengalami penyusutan signifikan hingga banyak drainase tidak lagi ditemukan air. Ketiga, jumlah dan sebaran hotspot.

Ia juga mengingatkan bahwa sebagian besar kejadian karhutla dipicu oleh aktivitas pembakaran lahan secara sengaja, terutama untuk membuka ladang, khususnya di wilayah rawan seperti Teluk Sampit dan Pulau Hanaut yang merupakan kawasan rawa.

“Kami berharap pihak kecamatan, aparat desa, dan masyarakat lebih berhati-hati. Kebakaran ini akan terus terjadi kalau tidak ada kesadaran bersama. Kita tidak ingin mengulang bencana seperti tahun-tahun sebelumnya,” tegas Multazam.

Selain faktor cuaca dan aktivitas manusia, BPBD Kotim juga menghadapi kendala berat di lapangan, terutama keterbatasan akses darat dan sumber air di lokasi kebakaran. Kondisi ini membuat pemadaman darat sering kali tidak optimal.

“Yang paling berat, lokasi karhutla banyak yang tidak memiliki akses jalan dan tidak ada air. Kalau tidak bisa dijangkau dan tidak ada air, mau tidak mau harus menggunakan satgas udara, sementara biaya satgas udara sangat mahal,” pungkasnya. (oes)

Editor : Slamet Harmoko
#siaga karhutla #evaluasi #rapat #sampit #bpbd kotim #karhutla