SAMPIT, Radarsampit.jawapos.com – Jumlah titik panas atau hotspot di wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kembali mengalami peningkatan.
Berdasarkan update rekapitulasi hotspot BMKG Stasiun Meteorologi H. Asan Sampit, dalam 24 jam terakhir terdeteksi sebanyak 16 titik panas dengan tingkat kepercayaan menengah hingga tinggi.
Data yang diakses pada Kamis (22/1/2026) pukul 07.00 WIB menunjukkan, Kecamatan Antang Kalang menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 11 titik, tersebar di sejumlah desa seperti Tumbang Manya, Kuluk Telawang, dan Tumbang Ngahan.
Kondisi ini menandakan aktivitas panas permukaan lahan yang semakin intens di wilayah pedalaman Kotim.
Selain Antang Kalang, hotspot juga terpantau di beberapa kecamatan lain, antara lain Telaga Antang sebanyak 3 titik, Bukit Indah 3 titik, serta masing-masing 1 titik di Mentaya Hulu, Pahirangan, Seranau, dan Terantang.
Seluruh titik panas tersebut terpantau oleh satelit SNPP dan NOAA-20 dengan radius kemungkinan mencapai 321 meter.
BMKG mencatat, meskipun citra satelit cuaca Himawari-8 Infra Red Enhanced pada Kamis pagi tidak menunjukkan pertumbuhan awan signifikan di wilayah Kotim, potensi kebakaran lahan tetap tinggi.
Hal ini diperkuat dengan pola penjalaran angin dominan dari barat laut menuju tenggara, yang berpotensi mempercepat penyebaran api jika terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Sementara itu, analisis potensi kemudahan terjadinya kebakaran menunjukkan hampir seluruh wilayah Kalimantan Tengah, termasuk Kotim, berada dalam kategori sangat mudah terbakar untuk periode 22–23 Januari 2026.
Kondisi ini dipengaruhi oleh parameter cuaca seperti suhu udara, kelembapan rendah, serta minimnya curah hujan signifikan.
BMKG mengimbau pemerintah daerah, aparat terkait, serta masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan aktivitas pembakaran lahan.
Baca Juga: Pecahkan Misteri Tiga Mayat di Kawasan Tambang Barsel, Polisi Lakukan Otopsi di RSUD Jaraga Sasameh
Deteksi dini hotspot diharapkan dapat menjadi langkah awal pencegahan sebelum berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas. (oes)
Editor : Slamet Harmoko