Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Sayang Sekali! Pesut Dilindungi Ditemukan Mati di Perairan Kotim

Usay Nor Rahmad • Rabu, 14 Januari 2026 | 18:06 WIB
Pesut pesisir yang ditemukan warga sudah mati di perairan Kecamatan Pulau Hanaut. (Facebook Wuri Mandasari)
Pesut pesisir yang ditemukan warga sudah mati di perairan Kecamatan Pulau Hanaut. (Facebook Wuri Mandasari)

SAMPIT, Radarsampit.jawapos.com – Seekor pesut diduga jenis pesut pesisir, dilindungi ditemukan mati di perairan Cemeti, Kecamatan Pulau Hanaut, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah (Kalteng).

Temuan ini kembali menyoroti pentingnya perlindungan mamalia air tersebut, mengingat wilayah perairan Kotim diketahui menjadi jalur perlintasan pesut.

Warga setempat, Wuri Mandasari, membenarkan penemuan bangkai pesut tersebut. Ia mengatakan, pesut masih sesekali terlihat di kawasan perairan Cemeti, namun jumlahnya sangat terbatas.

“Di daerah Cemeti memang masih ada pesut, tapi tidak banyak. Sekarang justru ditemukan dalam kondisi mati,” ujar Wuri, Rabu (14/1/2026).

Ia mengaku prihatin dengan kondisi pesut yang merupakan satwa langka dan dilindungi.

Menurutnya, kematian pesut tersebut diduga berkaitan dengan menurunnya ketersediaan pakan di habitat alaminya, meski faktor lain juga masih mungkin terjadi.

“Kemungkinan mati karena makanannya sudah hampir tidak ada, atau bisa juga karena faktor lain. Kita tidak tahu pasti penyebabnya,” katanya.

Pesut merupakan mamalia air yang dilindungi berdasarkan peraturan perundang-undangan. Di Indonesia, terdapat dua jenis pesut yang kerap dikenal masyarakat, yakni pesut Mahakam dan pesut pesisir.

Pesut Mahakam merupakan spesies air tawar yang habitat utamanya berada di Sungai Mahakam, Kalimantan Timur, sedangkan pesut pesisir umumnya hidup di perairan muara dan pesisir yang memiliki campuran air tawar dan air laut.

Keberadaan pesut pesisir memungkinkan satwa tersebut muncul di perairan Sungai Mentaya, terutama di wilayah muara dan perairan yang masih terhubung langsung dengan laut.

Oleh karena itu, temuan pesut mati di Pulau Hanaut ini diduga merupakan pesut pesisir, meskipun identifikasi lebih lanjut tetap diperlukan untuk memastikan jenisnya.

Penemuan ini diharapkan menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah, instansi terkait, serta masyarakat untuk bersama-sama menjaga kelestarian habitat pesut di perairan Kotim, yang terus tertekan oleh aktivitas manusia dan perubahan lingkungan.

Wuri berharap pemerintah dapat mengambil langkah konkret dalam upaya perlindungan pesut, termasuk menjaga kualitas perairan dan menyediakan kawasan yang aman agar satwa tersebut dapat berkembang biak secara alami.

“Semoga pemerintah bisa lebih memperhatikan hewan-hewan yang hampir punah. Kalau bisa disediakan kawasan yang aman agar pesut tetap bisa berkembang biak,” harapnya.

Sementara itu, Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah, menyampaikan bahwa berdasarkan informasi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), perairan Sungai Mentaya memang menjadi salah satu jalur perlintasan pesut.

“Keterangan yang saya terima dari pihak KKP, perairan Sungai Mentaya, khususnya di sekitar muara, merupakan jalur perlintasan pesut,” ujarnya.

Ia menegaskan, temuan tersebut harus menjadi perhatian bersama, mengingat kawasan perairan Mentaya memiliki peran penting sebagai habitat dan jalur migrasi satwa dilindungi. (oes)

Editor : Slamet Harmoko
#pesut mahakam #Pulau Hanaut #sampit #kotim #pesut