Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Dua Anak Terpapar Konten Game Berbahaya dalam Pengawasan

Fahry Ilhami Samosir • Sabtu, 10 Januari 2026 | 21:40 WIB
Ilustrasi dua anak kecanduan game berbahaya
Ilustrasi dua anak kecanduan game berbahaya

SAMPIT,radarsampit.jawapos.com- Kepolisian Resor Kotawaringin Timur (Kotim) menyatakan, dua anak di daerah ini yang sebelumnya dikabarkan terpapar radikalisme melalui aktivitas Game Online, adalah korban Branwash (cuci otak) secara digital.

Kapolres Kotim AKBP Resky Maulana Zulkarnain mengatakan, dalam penanganan kasus ini Polres Kotim berkoordinasi dengan satuan yang menjadi leading sektor di tingkat nasional.Kepolisian daerah, kata dia, turut berperan dalam proses pembinaan awal sebelum penanganan lanjutan diserahkan kepada pemerintah daerah.

"Pada prinsipnya kami berkoordinasi dengan satuan yang menjadi leading sektor, seperti yang disampaikan Bapak Kabareskrim. Kami juga turut memberikan pembinaan pada saat itu, dan selanjutnya dikembalikan kepada pemerintah daerah untuk pembinaan lebih lanjut,” ujarnya, Jumat (9/1).

Ia menegaskan, anak-anak tersebut merupakan korban dari proses brainwash atau pencucian pemikiran yang difasilitasi oleh ruang digital. "Kami sampaikan bahwa ini bukan paham radikal, tetapi brainwash yang difasilitasi oleh digital. Ini yang perlu menjadi perhatian bersama, karena korbannya adalah anak-anak," tegas Resky.

Dirinya menilai kondisi tersebut menjadi alarm bagi semua pihak akan pentingnya literasi digital, khususnya bagi generasi muda. Tanpa pendampingan yang memadai, anak-anak sangat rentan terpapar konten berbahaya yang disusupkan melalui aktivitas digital yang tampak biasa.

"Perlu literasi digital kepada anak muda saat ini. Apalagi ini menyasar anak-anak, yang secara psikologis masih sangat mudah dipengaruhi," katanya.

Terkait langkah pencegahan ke depan, Polres Kotim memastikan akan terus menjalankan upaya edukasi secara berkelanjutan melalui program Kepolisian yang menyentuh langsung lingkungan sekolah. Sosialisasi tersebut akan difokuskan pada bahaya konten digital dan penguatan karakter pelajar.

"Itu juga menjadi bagian dari program kami, seperti Police Go to School. Setiap kami menjadi pembina apel di sekolah-sekolah, hal-hal seperti ini selalu kami sampaikan," imbuh Resky.

Ia berharap, sinergi antara kepolisian, pemerintah daerah, sekolah, dan orang tua dapat menjadi benteng utama dalam melindungi anak-anak dari pengaruh negatif dunia digital yang berpotensi mengarah pada paham menyimpang.

Sebelumnya, Wakil Bupati Kotim Irawati mengungkapkan, dua anak itu terpengaruh konten berbahaya lantaran direkrut lewat game online. Setelah itu dibawa bergabung ke WhatsApp grup.

Di dalam grup tersebut lanjutnya,  anak-anak tidak hanya diperkenalkan pada perilaku kekerasan, tetapi juga diajarkan ujaran kebencian dan paham radikal yang mengatasnamakan agama.

 “Di dalam grup itu diajarkan kekerasan, seperti bagaimana membunuh dan bagaimana membenci orang lain, apalagi kalau dia pernah dibully, itu semakin cepat pengaruh tidak baiknya," beber Irawati.

Menurutnya, kedua anak itu pun berada dalam pengawasan ketat aparat keamanan dan pemerintah daerah. Pendampingan dilakukan oleh Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polwan, serta Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kotim. Mereka diberi pembinaan agar memiliki pemahaman serta perilaku yang baik.

“Usia 5 sampai 15 tahun itu paling mudah dipengaruhi. Mereka belum bisa memilah mana yang baik dan mana yang berbahaya. Karena itu saya mengimbau kepada para orang tua agar lebih waspada dan membatasi penggunaan gadget kepada anak-anak,” pungkas Irawati.

Ia menambahkan, dirinya akan mendiskusikan persoalan ini  ke bupati agar nantinya ada instruksi terkait batasan penggunaan gadget bagi anak usia sekolah. (sir/gus)

 

Editor : Agus Jaka Purnama
#cuci otak #Brainwash #paham radikal #pengawasan #Kapolres Kotim AKBP Resky Maulana Zulkarnain #Kotawaringin Timur (Kotim) #sampit #konten berbahaya #dua anak #wakil bupati kotim irawati