SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Mangaruhi, tradisi masyarakat Dayak dalam menangkap ikan dengan tangan kosong, kembali dihadirkan dalam Festival Budaya Habaring Hurung (FBHH) Kotawaringin Timur (Kotim) 2026, Sabtu (10/1/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-73 Kabupaten Kotim.
Koordinator Lomba Mangaruhi Anton Sumaryanto, menjelaskan Mangaruhi merupakan tradisi turun-temurun masyarakat Dayak Kalimantan Tengah yang biasanya dilakukan saat musim kemarau, ketika air sungai mulai surut. Tradisi tersebut kemudian dikemas dalam bentuk perlombaan sebagai upaya pelestarian budaya.
“Mangaruhi adalah tradisi menangkap ikan dengan tangan kosong tanpa alat bantu. Biasanya dilakukan saat air sungai surut, dan sekarang kita lestarikan melalui lomba,” ujar Anton.
Pada FBHH Kotim 2026, lomba mangaruhi diikuti 34 tim yang terdiri dari 23 tim putri dan 11 tim putra. Setiap tim beranggotakan dua orang, dengan peserta berasal dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD), sekolah, hingga perwakilan kecamatan.
“Antusiasme peserta tahun ini meningkat dibandingkan tahun lalu, bahkan didominasi oleh tim putri,” katanya.
Sekitar 30 kilogram atau kurang lebih 200 ekor ikan lele dilepas ke dalam kolam terpal berukuran 6 x 8 meter. Para peserta ditantang menangkap ikan-ikan tersebut hanya dengan mengandalkan ketangkasan tangan, tanpa bantuan alat apa pun.
Suasana lomba berlangsung meriah. Sorak sorai penonton menggema di sekitar arena, memberikan semangat kepada para peserta, terutama saat berhasil menangkap ikan.
Lomba mangaruhi tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga hiburan yang sarat nilai budaya. Penentuan juara didasarkan pada jumlah ikan yang berhasil ditangkap masing-masing tim, tanpa memperhitungkan bobot ikan.
“Yang dinilai adalah jumlah ikan yang didapat, bukan beratnya,” jelas Anton.
Lebih dari itu, mangaruhi juga mengandung pesan pelestarian lingkungan. Tradisi ini mengajarkan cara menangkap ikan secara alami tanpa merusak ekosistem perairan.
Baca Juga: Inilah Dugaan Penyebab Pembunuhan Montir Bengkel di Bukit Tunggal Palangka Raya
“Dulu, ikan ditangkap secukupnya dan tanpa merusak lingkungan. Tidak menggunakan alat dan tidak merusak habitat, sehingga alam tetap terjaga,” ungkap Anton.
Ia berharap kegiatan ini dapat terus dilaksanakan agar tradisi mangaruhi tetap hidup dan dikenal luas, sekaligus menanamkan kesadaran kepada generasi muda untuk mencintai dan menjaga alam.
“Lewat mangaruhi, kita ingin generasi muda mengenal budaya sekaligus belajar menjaga lingkungan,” pungkasnya. (oes)
Editor : Slamet Harmoko