Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Dibalik Event Gelora Kriya Dekranasda Kotim

Heny Pusnita • Jumat, 9 Januari 2026 | 08:47 WIB

MENJAWET UWEI : Para pengrajin anyaman rotan yang ikut menjadi peserta dalam lomba menjawet uwei atau menganyam rotan di Gedung Futsal Indoor Stadion 29 November, Kamis (8/1/2026).HENY/RADAR SAMPIT 
MENJAWET UWEI : Para pengrajin anyaman rotan yang ikut menjadi peserta dalam lomba menjawet uwei atau menganyam rotan di Gedung Futsal Indoor Stadion 29 November, Kamis (8/1/2026).HENY/RADAR SAMPIT 

Jaga Kearifan Lokal, Produk Anyaman Rotan di Kotim Bertahan Lewat Tangan Para Lansia

Anyaman rotan yang dulu akrab di setiap rumah kini perlahan menghilang ditelan zaman. Melalui lomba Menjawet Uwei dalam event Gelora Kriya Dekranasda 2026, Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur berupaya menyalakan kembali semangat pelestarian budaya dengan melibatkan pengrajin lintas generasi.


HENY, Sampit

Jumlah pengrajin yang kian berkurang dari tahun ke tahun, menjadi tantangan serius bagi Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dalam menjaga kelestarian kearifan budaya lokal.

Melalui event Gelora Kriya Dekranasda 2026 yang digelar bersamaan dengan Expo Sampit dan Festival Habaring Hurung pada 7–14 Januari 2026, Pemerintah Kabupaten Kotim bersama Dekranasda berupaya menanamkan kecintaan terhadap budaya kepada generasi muda sebagai wujud pelestarian tradisi dan kreativitas daerah.

“Selama event ini berlangsung, kami menggelar sejumlah lomba, salah satunya lomba menjawet uwei atau menganyam rotan yang diikuti para pengrajin dari beberapa kecamatan,” kata Ketua Harian Dekranasda Kotim Johny Tangkere, yang juga menjabat Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Kotim, Selasa (8/1).

Selain lomba anyam rotan, panitia juga menyelenggarakan lomba membuat taplak meja dengan teknik ecoprinting yang akan diikuti 20 pelajar tingkat SMA pada Minggu (11/1), serta lomba mewarnai tingkat PAUD dengan 100 peserta pada Senin (12/1).

“Hari ini lomba menjawet uwei diikuti tujuh peserta. Sebenarnya kami berharap ada perwakilan dari 17 kecamatan se-Kotim, namun yang siap mengikuti lomba hanya tujuh orang,” ujarnya.

Minimnya jumlah peserta menjadi gambaran bahwa pengrajin anyaman rotan semakin langka. Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi Dekranasda Kotim untuk terus menjaga keberlanjutan produk kearifan lokal tersebut.

Dari tujuh peserta, sebagian besar sudah lanjut usia. Bahkan, peserta tertua berusia 80 tahun, Rukayah asal Desa Telaga Baru, turut ambil bagian membuat bakul dari anyaman rotan.

Rukayah mengaku kesulitan menganyam rotan karena bahan rotan yang lentur dengan bilahan tipis. Meski sudah menjadi pengrajin sejak muda, ia jarang menggunakan bahan rotan. Biasanya, ia menganyam menggunakan tali miliar dari plastik keras dan pipih untuk membuat berbagai produk seperti lanjung, tikar, tanggok ayakan, tampah, bakul, dan bintingan.

“Sudah dua kali merombak anyaman. Ini sudah mengulang yang ketiga kalinya. Bilah rotannya kecil dan lentur, jadi agak susah,” tutur Rukayah.

Ia sempat merasa minder melihat peserta lain yang hampir menyelesaikan karyanya. Dari tujuh peserta, empat di antaranya membuat bakul dari rotan.

“Yang lain sudah mau selesai, ini masih belum tinggi anyamannya,” ucapnya, sedikit kesal.

Meski begitu, Kepala Desa Telaga Baru, Nur Firmansyah, yang mengantar-jemput serta mendampingi Rukayah selama lomba, terus memberikan semangat hingga proses menganyam selesai.

"Beliau pernah meraih juara dua dalam lomba kerajinan anyaman rotan tingkat Desa Telaga Baru Oktober lalu. Yang pernah juara 1 tidak ikut jadi peserta karena kesibukan mengurus kebun," kata Nur Firmansyah.

Pantauan Radar Sampit, Rukayah menjadi satu-satunya peserta yang didampingi langsung oleh kepala desanya. Sementara peserta lain datang sendiri tanpa pendamping.

“Bersyukur pian diantar dan ditemani kades sampai selesai. Saya datang sendiri saja, kadesnya tidak tahu ke mana,” ujar Yusrana (68), peserta tertua kedua asal Terantang yang membuat pot bunga.

Selain Rukayah dan Yusrana, peserta lainnya yakni Musi dari Kecamatan Telaga Antang, Winda dari Kotabesi, Sri Astuti dari Mentaya Hilir Utara, Siti Murniyati dari Tualan Hulu, serta peserta terjauh Lili dari Kecamatan Bukit Santuai juga terlihat fokus menganyam rotan dengan kedua tangan terampilnya.

Lomba menganyam digelar di Gedung Futsal Indoor mulai pukul 11.00 WIB hingga 16.00 WIB dan belum juga rampung. Juri akhirnya memberikan kelonggaran waktu agar peserta dapat menyelesaikan karya mereka.

“Tadi sempat beberapa kali mati listrik. Peserta menganyam hanya dengan penerangan lampu ponsel, sampai akhirnya meminta pindah ke teras gedung karena pencahayaannya lebih terang,” kata Ketua Pelaksana Gelora Kriya Dekranasda, Alfisah, yang juga Sekretaris Diskoperindag Kotim.

Panitia menyediakan makanan dan minuman serta terus menyemangati peserta. Wakil Bupati Kotim Irawati juga menyempatkan hadir menyaksikan langsung proses menganyam.

“Tadinya waktu lomba sampai jam tiga sore. Namun melihat semua peserta belum selesai, akhirnya waktu kami perpanjang sampai selesai,” ujar Alfisah.

Selama lomba berlangsung, sejumlah pelajar SMP bersama guru turut berkunjung untuk menyaksikan langsung proses menganyam rotan.

“Kami juga memberikan edukasi kepada para pelajar. Mereka bisa melihat langsung bagaimana para pengrajin bekerja,” tambahnya.

Hasil karya peserta dinilai oleh tiga juri, yakni dr Retno Pecinta Seni, Ahmad Yuliansyah (Guru SMA PGRI Terantang) dan Yusniardi, pengrajin rotan asal Kelurahan Baamang Hulu.

“Penilaian meliputi kerapian, kerapatan, kekuatan, ketahanan, kreativitas, estetika, dan orisinalitas,” jelas Alfisah.

Selama event Gelora Kriya Dekranasda Kotim, tersedia pula 14 booth yang diisi para pengrajin binaan Dekranasda Kotim.

“Kami menghadirkan sekitar 17 pengrajin dengan banyak produk siap jual, mulai dari tas anyaman rotan, patung, pakaian adat, kain ecoprinting, batik Sampit, mandau, babukung, kerajinan tempurung kelapa, hingga produk binaan desa dan perusahaan,” ujarnya.

Ia berharap peringatan Hari Jadi Kotim ke-73 yang jatuh pada 7 Januari 2026 dan dirangkai dengan berbagai kegiatan ini tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi UMKM, tetapi juga menjadi momentum penting mengenalkan serta menjaga kelestarian kearifan budaya lokal.

“Kemarin kita sudah melihat proses melamang dan mangenta. Hari ini lomba menjawet uwei. Selama sepekan juga ada 17 atraksi perlombaan dalam Festival Habaring Hurung yang diharapkan menarik pengunjung sekaligus memperkenalkan budaya Kotim,” tandasnya. (hgn)

Editor : Slamet Harmoko
#gelora kriyan dekranasda