Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Habayang Masih Diminati, Tak Goyah Digerus Modernisasi

Usay Nor Rahmad • Kamis, 8 Januari 2026 | 14:20 WIB

 

TRADISI: Camat Telaga Antang Joko Aryadi Stewan memamerkan salah satu gasing terbuat dari kayu ulin khas dari Kalimantan. (Oes/Radar Sampit)
TRADISI: Camat Telaga Antang Joko Aryadi Stewan memamerkan salah satu gasing terbuat dari kayu ulin khas dari Kalimantan. (Oes/Radar Sampit)

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com — Di tengah derasnya arus modernisasi, permainan tradisional bagasing habayang masih bertahan di Kecamatan Telaga Antang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).

Di wilayah yang mayoritas penduduknya masyarakat Dayak lokal, gasing kayu itu tetap diminati dan menjadi bagian dari tradisi yang terus dijaga lintas generasi.

Bagi warga Telaga Antang, bagasing bukan sekadar permainan. Ia dimainkan pada momen-momen tertentu, terutama menjelang musim panen padi. Tradisi tersebut dipercaya mengandung filosofi harapan agar padi tumbuh sempurna, berisi, dan terhindar dari serangan hama.

Camat Telaga Antang Joko Aryadi Stewan, mengatakan tradisi bagasing masih sering dilakukan karena kuatnya ikatan masyarakat dengan budaya lokal.

“Menjelang panen, gasing biasanya ramai dimainkan. Harapannya, hasil padi juga bagus, tidak kempes, seperti putaran gasing,” ujarnya, Kamis (8/1/2026).

Menariknya, kini permainan bagasing justru lebih banyak dimainkan oleh anak-anak. Jika dulu didominasi orang tua, kini generasi muda menjadi pelaku utama pelestarian tradisi tersebut. Di tengah maraknya permainan digital, fenomena ini menjadi penanda bahwa bagasing masih memiliki tempat di hati masyarakat.

“Kami sebagai orang tua dan pemerintah kecamatan terus memberi motivasi kepada masyarakat, khususnya anak-anak, agar tetap mencintai dan memainkan budaya sendiri,” kata Joko.

Upaya pelestarian itu juga tercermin dari keikutsertaan aktif Kecamatan Telaga Antang dalam Festival Budaya Habaring Hurung (FBHH) Kotim 2026. Hampir seluruh cabang lomba diikuti, mulai dari begasing, belogo, menyumpit, lawang sekeping, hingga kerumut.

“Dalam FBHH, kami tidak hanya mengikuti lomba begasing, tetapi juga cabang lainnya. Hampir semua kami ikuti,” tuturnya.

Namun, keikutsertaan tersebut, lanjut Joko, bukan semata mengejar prestasi. Lebih dari itu, festival menjadi ruang menjaga kearifan lokal agar tetap hidup dan dikenal generasi muda.

Baca Juga: Terungkap! Dua Pelajar Kotim Ternyata Satu Jaringan dengan Pelaku Ledakan di SMAN 72 Jakarta

“Bukan soal juara. Yang terpenting partisipasi, supaya budaya bagasing dan permainan tradisional lainnya tetap lestari,” pungkasnya. (oes)

Editor : Slamet Harmoko
#gasing #telaga antang #Dayak #sampit expo #sampit #kotim #bagasing