Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Sekilas Sejarah Berdirinya Kabupaten Kotawaringin Timur dan Para Pemimpinnya sampai di Usia 73 Tahun

Yuni Pratiwi Iskandar • Rabu, 7 Januari 2026 | 04:00 WIB
Bupati Kotim Halikinnor dan unsur Forkopimda, berjabat tangan saat selesai menggelar rapat paripurna bersama anggota DPRD Kotim, beberapa waktu lalu.
Bupati Kotim Halikinnor dan unsur Forkopimda, berjabat tangan saat selesai menggelar rapat paripurna bersama anggota DPRD Kotim, beberapa waktu lalu.

Peringatan Hari Ulang Tahun ke 73 Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menjadi momentum untuk menengok kembali perjalanan panjang daerah ini. Sebuah wilayah yang tumbuh melalui proses sejarah yang berlapis, dari masa kerajaan, kolonialisme, perjuangan kemerdekaan, hingga menjadi daerah otonom yang terus bergerak maju.

---------------------------------

Secara historis, eksistensi Kotawaringin Timur tidak dapat dilepaskan dari pengaruh kerajaan-kerajaan besar Nusantara. Pada masa awal, wilayah pesisir Kalimantan Tengah bagian selatan berada dalam pengaruh Kerajaan Majapahit. Seiring masuk dan berkembangnya agama Islam sekitar tahun 1620, kawasan pesisir ini kemudian dikuasai oleh Kerajaan Demak.

Perkembangan selanjutnya ditandai dengan berdirinya Kerajaan Kotawaringin pada tahun 1679 oleh Kerajaan Banjar. Kerajaan ini berpusat di wilayah Arut Selatan, yang kini masuk Kabupaten Kotawaringin Barat, dengan kekuasaan meliputi daerah pesisir Kalimantan Tengah, termasuk Sampit, Mendawai, dan Kuala Pembuang.

Memasuki era kolonial, Belanda mulai menancapkan kekuasaannya di Kalimantan sejak 1598. Setelah ditandatanganinya perjanjian antara VOC dan Sultan Banjar pada 1767, wilayah Kotawaringin Timur secara bertahap berada di bawah kendali Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Pada tahun 1917, Belanda mulai mengangkat aparat pemerintahan dari kalangan pribumi, meski tetap berada di bawah pengawasan pejabat kolonial. Saat itu, Kotawaringin Timur dikenal sebagai wilayah Onder Afdeling Sampit.

Secara geografis, wilayah Kotawaringin Timur pada masa itu tidak banyak mengalami perubahan. Di sebelah utara berbatasan dengan Kalimantan Barat (Onder Afdeling Sintang), di timur dengan Sungai Kahayan (Onder Afdeling Beneden Dayak), di selatan dengan Laut Jawa, dan di barat dengan Kotawaringin Barat (Onder Afdeling Kotawaringin). Luas wilayahnya mencapai sekitar 50.700 kilometer persegi dan dilintasi tiga sungai besar, yakni Sungai Mentaya, Seruyan, dan Katingan.

Perubahan besar terjadi setelah era reformasi. Pada tahun 2002, wilayah Kotawaringin Timur dimekarkan menjadi dua kabupaten baru, yaitu Kabupaten Seruyan dan Kabupaten Katingan. Sejak pemekaran itu, Kotawaringin Timur hanya memiliki Sungai Mentaya sebagai sungai utama yang membelah Kota Sampit, sementara luas wilayahnya menyusut menjadi sekitar 17.000 kilometer persegi.

Momentum penting lainnya terjadi pada masa peralihan kekuasaan pasca Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Meski Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, pemerintahan Jepang di Sampit masih bertahan hingga awal September 1945. Penyerahan kekuasaan secara resmi baru dilakukan dalam sebuah upacara di Lapangan Tugu Sampit, ditandai dengan penurunan bendera Jepang dan pengibaran Sang Merah Putih yang disaksikan seluruh elemen masyarakat.

Situasi kembali bergejolak ketika Belanda melalui NICA mencoba menguasai Sampit. Namun upaya itu tidak berlangsung lama. Melalui perlawanan bersenjata yang dikenal sebagai Gerakan Operasi Subuh, para pejuang yang dipimpin tokoh-tokoh Pemuda Indonesia Merdeka (PIM) Sampit berhasil merebut kembali wilayah ini pada 29 November 1945, tepat pukul 04.00 subuh. Tujuh jam kemudian, pemerintahan Republik Indonesia di wilayah Sampit diresmikan melalui upacara pengibaran bendera Merah Putih.

Dalam upaya mempertahankan pengaruhnya, Belanda kemudian menerapkan politik devide et impera dengan membentuk negara-negara boneka. Namun strategi ini akhirnya gagal seiring konsolidasi pemerintahan Republik Indonesia.

Tonggak penting pembentukan pemerintahan daerah terjadi pada 3 Agustus 1950, ketika Gubernur Kalimantan mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 154/OPB/92/04 yang menyatukan Onder Afdeling Kotawaringin dengan tiga kewedanan—Sampit Barat, Sampit Timur, dan Sampit Utara—ke dalam wilayah Pemerintah Daerah Otonom Kotawaringin dengan ibu kota di Sampit.

Penguatan status otonomi kemudian ditegaskan melalui Undang-Undang Darurat Nomor 3 Tahun 1953. Pada 7 Januari 1953, secara resmi dibentuk daerah otonom Kabupaten Kotawaringin dalam lingkungan Provinsi Kalimantan, yang kemudian menjadi dasar penetapan 7 Januari sebagai Hari Jadi Kota Sampit.

Sejak saat itu, pemerintahan daerah otonom Kabupaten Kotawaringin berkedudukan di Sampit, dengan Mayor TNI AU Tjilik Riwut sebagai kepala daerah pertama yang memimpin pada periode 1950–1957. Dari sinilah roda pemerintahan terus berputar, melahirkan kepemimpinan dari masa ke masa hingga terbentuknya Kabupaten Kotawaringin Timur sebagai daerah otonom tersendiri.

Dalam perjalanan panjangnya, Kotawaringin Timur telah dipimpin oleh berbagai figur dengan latar belakang dan tantangan zaman yang berbeda. Mulai dari Tjilik Riwut, Muchtar Ali, Walter Coenraad, Cristoffel Mihing, Kenan Sandan, hingga para bupati di era reformasi dan otonomi daerah. Kepemimpinan terus berlanjut hingga saat ini di bawah Bupati Halikinnor dan Wakil Bupati Irawati, yang melanjutkan estafet pembangunan dan pengabdian untuk masyarakat Kotawaringin Timur.

Tujuh puluh tiga tahun bukan sekadar hitungan usia, melainkan catatan perjalanan panjang tentang perjuangan, pengabdian, dan transformasi. Dari wilayah kerajaan, daerah kolonial, medan perjuangan kemerdekaan, hingga menjadi kabupaten yang terus bertumbuh, Kotawaringin Timur membuktikan dirinya sebagai daerah yang tangguh dan adaptif. Sejarah panjang inilah yang menjadi fondasi kuat bagi Kotim untuk melangkah ke masa depan, dengan semangat sinergi dan kolaborasi demi kesejahteraan masyarakat.(*/gus)

Daftar Pimpinan  Kabupaten Kotim dari Masa ke Masa

Tjilik Riwut

1950 – 1957

Muchtar Ali

1957 – 1959

Walter Coenraad

1959 – 1961

Cristoffel Mihing

1961 – 1963

Kenan Sandan

1963 – 1970

Raden Rachmat

1970 – 1975

Andjar Soeganto, BA

1975 – 1980

Drs. Donnis Nixoni Singaraca

Penjabat (Pj) Bupati Kotawaringin Timur, 1980 – 1981

 Mukri

1981 – 1984

 Soehandoko

Penjabat (Pj) Bupati Kotawaringin Timur, 1984

Drs. H. A. Koesnan Dariyono

1984 – 1989

Drs. Barium Burdin

1989 – 1994

Kolonel TNI (Purn) Didik Salmijardi

Andreas P. Nandjan

1994 – 1999

 

Drs. H. M. Wahyudi Kaspul Anwar, M.M., M.AP.

Muhammad Thamrin Noor

2000 – 2005

Suwandi

Penjabat (Pj) Bupati Kotawaringin Timur, Maret – September 2005

 Jumbri Bustan

Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Kotawaringin Timur, September – Oktober 2005

Drs. H. M. Wahyudi Kaspul Anwar, M.M., M.AP.

Muhammad Amrullah Hadi

2005 – 2010

 Supian Hadi, S.I.Kom.

Drs. H. M. Taufik Mukri, S.H., M.M.

2010 – 2015

 

Putu Sudarsana

Pelaksana Harian (Plh) Bupati Kotawaringin Timur, 27 – 28 Oktober 2015

 Ir. Godlin

Penjabat (Pj) Bupati Kotawaringin Timur, Oktober 2015 – Februari 2016

 Supian Hadi, S.I.Kom.

Drs. H. M. Taufik Mukri, S.H., M.M.

2016 – 2021

 Akhmad Husain

Pelaksana Harian (Plh) Bupati Kotawaringin Timur, 17 – 26 Februari 2021

 Halikinnor, S.H., M.M.

Hj. Irawati, S.Pd.

2021 – 2025

 Salahuddin

Penjabat Sementara (Pjs) Bupati Kotawaringin Timur,

22 September – 23 November 2024

 Halikinnor, S.H., M.M.

Hj. Irawati, S.Pd.

25 November 2024 – sekarang

Editor : Agus Jaka Purnama
#73 tahun #para pemimpin #berdirinya #tahun 2026 #sampit #Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) #sekilas sejarah #Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng)