SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Banjir rob kembali menyapa kawasan pesisir dan bantaran Sungai Mentaya.
Namun, kali ini warga merasakan ada yang berbeda. Genangan memang hanya 2–3 jam, tetapi dampaknya dinilai lebih berat dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Sudah sekitar sepekan, rob merendam sejumlah permukiman di wilayah selatan Kotawaringin Timur (Kotim) hingga sebagian area Kota Sampit di tepian sungai.
Wilayah terdampak mencakup Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Pulau Hanaut, Teluk Sampit, serta sebagian Kecamatan Seranau dan areal Kota Sampit di sekitar pinggiran Sungai Mentaya.
Warga menilai rob tahun ini lebih ”menggigit” karena air pasang mampu masuk hingga ke rumah, sesuatu yang jarang terjadi pada tahun-tahun lalu.
”Biarpun genangan banjir cuma sebentar, tetap saja warga yang tinggal di bantaran Sungai Mentaya merasakan dampak banjir. Sudah puluhan tahun tinggal di pinggir sungai, tidak pernah separah ini, air sampai masuk lantai rumah,” kata Aminah, warga Samuda.
Aminah mengusulkan agar Pemkab Kotim melakukan pengerukan Sungai Mentaya, karena diduga terjadi pendangkalan.
Ia menilai kondisi dasar sungai kini makin dangkal dan berpotensi memperburuk rob pada tahun-tahun mendatang.
”Rumah yang saya tempati ini sudah tinggi tiang penyangga rumahnya, sekarang dasar sungai sudah jelas terlihat dangkal, sangat perlu dikeruk, kalau tidak satu atau dua tahun ke depan, dampaknya akan semakin parah apalagi saat kondisi air pasang,” ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan Erna, warga Baamang Hulu yang juga tinggal di bantaran Sungai Mentaya.
Ia mengaku rumahnya biasanya tidak kebanjiran, namun rob tahun ini membuat lanting dan teras belakang rumah ikut terendam saat air pasang malam hari.
”Rumah saya tidak biasa banjir, tahun ini calap (terendam) lanting, teras belakang rumah terendam banjir saat air pasang malam hari,” ujar Erna.
Sementara itu, Camat Mentaya Hilir Selatan Wahyudah menyampaikan wilayahnya memang termasuk daerah langganan rob.
Meski genangan saat pasang umumnya terjadi 2–3 jam, pihak kecamatan telah melakukan langkah antisipasi dengan normalisasi anak sungai dan parit agar aliran air lebih lancar.
”Daerah kami ini memang sudah biasa menghadapi banjir ROB. Saat kondisi air pasang biasanya terjadi genangan banjir 2-3 jam. Kami juga sudah berupaya menormalisasi anak sungai dan drainase beberapa bulan lalu. Alhamdulillah di Kelurahan Basirih Hilir sudah tuntas, sekarang lanjut ke Kelurahan Samuda Kota hingga hilir,” kata Wahyudah.
Dia menambahkan, hasil normalisasi mulai terlihat di Desa Basirih Hilir. Daerah yang sebelumnya kerap tergenang kini tidak lagi mengalami genangan lama.
”Biasanya sampai tergenang berhari-hari, sekarang sudah tidak lama banjir. Asal tidak diiringi hujan deras, cepat saja surutnya. Saluran irigasi pertanian sampai ke muara Sungai Mentaya juga dinormalisasikan salurannya. Kami harapkan dapat mengurangi luapan banjir sampai ke badan jalan,” katanya. (hgn/ign)
Editor : Gunawan.