SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Masyarakat di wilayah pesisir Kotawaringin Timur (Kotim) kini menghadapi ancaman ganda.
Di tengah naiknya banjir rob sejak awal Desember, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Sampit mengingatkan bahwa saat ini buaya juga memasuki fase kawin dan bertelur, sehingga perilakunya jauh lebih agresif.
Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah, menjelaskan bahwa secara siklus, periode akhir tahun hingga awal tahun merupakan masa aktif buaya berkembang biak.
“Secara siklus, ini sudah masuk fase kawin dan bertelur buaya. Akhir tahun (tiga bulan) dan awal tahun (tiga bulan) itu masa kawin dan bertelur. Pada fase ini buaya menjadi lebih agresif,” jelasnya, Ahad (7/12/2025).
Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut bertepatan dengan musim penghujan dan gelombang pasang, yang membuat populasi buaya lebih sering berpindah tempat dan muncul di lokasi-lokasi yang selama ini jarang tersentuh.
Saat pasang naik, terutama ketika rob mencapai puncaknya pada malam hari, buaya semakin mudah masuk ke anak-anak sungai dan kanal pemukiman.
“Menuju arah selatan seperti Kecamatan Mentaya Hilir Selatan dan Teluk Sampit, anak-anak sungai banyak yang dibersihkan dan dikeruk. Saat terjadi pasang atau banjir rob, potensi serangan akan tinggi karena buaya mudah masuk ke anak-anak sungai yang bersih,” ujar Muriansyah.
Beberapa hari terakhir, banjir rob memang telah menggenangi pesisir Kotim, termasuk Desa Babaung di Pulau Hanaut serta Kelurahan Samuda Kota di Mentaya Selatan.
Gelombang pasang juga mulai merambat ke kawasan kota, seperti Baamang dan Mentawa Baru Ketapang. Genangan terjadi terutama pada malam hari, waktu yang sama ketika buaya biasanya lebih aktif bergerak.
Muriansyah mengingatkan warga agar meningkatkan kewaspadaan, terutama saat beraktivitas di sepanjang Sungai Mentaya, Sungai Cempaga, dan sungai-sungai kecil lainnya.
“Kami tidak bosan-bosannya mengingatkan warga agar lebih berhati-hati dan waspada, terutama di malam hari,” tegasnya.
Ia juga memberi perhatian khusus kepada warga yang memelihara ternak di belakang rumah, karena kawasan pekarangan yang berbatasan dengan sungai atau parit menjadi titik rawan saat buaya mencari makan atau berpindah lokasi pada saat air pasang.
“Bagi warga yang memelihara ternak di belakang rumah, ini harus lebih ekstra waspada,” tambahnya.
Dengan puncak rob yang diperkirakan berlangsung hingga 13–15 Desember dan meningkatnya agresivitas buaya akibat fase kawin, BKSDA meminta masyarakat tidak mengabaikan potensi ancaman. Koordinasi dengan aparat desa dan RT/RW diminta terus diperkuat untuk meminimalkan risiko serangan. (oes)
Editor : Slamet Harmoko