SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Upaya mitigasi konflik manusia dan buaya di Desa Ganepo, Kecamatan Seranau, Kabupaten Kotawaringin Timur, dinilai berhasil menurunkan potensi serangan satwa liar yang selama ini menghantui warga.
Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah, menyebut keberhasilan tersebut tak lepas dari kerja sama aktif antara pihak desa dan BKSDA dalam menekan aktivitas warga di Sungai Mentaya lokasi yang kerap menjadi titik kemunculan buaya muara.
Salah satu capaian terbesar dari upaya mitigasi di Desa Ganepo adalah berkurangnya aktivitas mandi di Sungai Mentaya. “Hampir tidak ada lagi warga yang mandi di sungai,” ungkap Muriansyah, Selasa (18/11/2025)
Padahal, aktivitas ini sebelumnya menjadi salah satu faktor pemicu terjadinya konflik antara warga dan buaya.
Ia menjelaskan bahwa kasus serangan buaya di masa lalu banyak dipicu oleh interaksi langsung manusia di sungai, terutama untuk mandi, mencuci, atau mengambil air.
Saat itu, larangan untuk tidak mandi di sungai dinilai tidak mungkin diterapkan tanpa memberikan solusi alternatif kepada warga.
Karena itu, BKSDA bersama pihak desa melakukan pendekatan bertahap dengan memberikan edukasi, sosialisasi, serta mendorong penyediaan sarana MCK yang lebih aman.
“Dulu kami bersama pihak desa memikirkan bagaimana cara mengurangi aktivitas warga di sungai, utamanya MCK. Melarang tanpa solusi jelas tentu tidak mungkin,” jelasnya.
Menurutnya, salah satu kunci keberhasilan mitigasi di Desa Ganepo adalah tingginya dukungan dari pihak desa.
Program-program sosialisasi BKSDA dinilai sangat diterima, bahkan pihak desa aktif memberikan masukan dan siap menerapkan langkah-langkah tambahan demi keselamatan warganya.
“Desa Ganepo ini termasuk yang sangat mendukung. Sosialisasi kami diterima baik dan warga mengikuti imbauan. Salah satunya dibuktikan dengan mereka rela menganggarkan melalui dana desa untuk pengadaan penampungan air dan mesin sedot,” kata Muriansyah.
Ditambahka Muriansyah, meski demikian upaya pemerintah desa ini tak bisa dilakukan secara sekaligus. Butuh waktu selama 7 tahun agar warga bisa beralih aktivitas MCK-nya ke darat sepenuhnya.
Berkurangnya aktivitas warga di sungai membuat potensi konflik dengan buaya menurun drastis. Meski buaya masih muncul di sekitar tepian Sungai Mentaya, risiko pertemuan langsung dengan warga kini jauh lebih kecil.
BKSDA berharap keberhasilan Desa Ganepo dapat menjadi contoh bagi desa-desa lain di sepanjang Sungai Mentaya yang masih bergantung pada sungai sebagai sumber aktivitas harian.
Hal tersebut disampaikan, saat pihaknya kembali melakukan kegiatan sosialisasi terkait satwa liar dilindungi dan mitigasi konflik buaya.
Sosialisasi berlangsung di aula SMK Ambarwati, Desa Ganepo, dengan peserta sebanyak 54 siswa dari SMK Ambarwati dan SMP Meranti Mustika.
Dalam kegiatan tersebut, BKSDA memberikan materi tentang tugas BKSDA, jenis satwa dilindungi, sanksi hukum, tata cara menghadapi satwa liar, serta jenis dan perilaku buaya muara.
Termasuk di dalamnya penjelasan mengenai penyebab buaya mendekati permukiman, seperti perubahan ekosistem, ketersediaan mangsa, hingga aktivitas manusia yang terlalu dekat dengan habitat buaya.
Setelah pemaparan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, pembagian suvenir, dan makan siang bersama. Menurut Muriansyah, kegiatan berjalan lancar dan mendapat respons positif dari pihak sekolah maupun desa. (oes)
Editor : Slamet Harmoko