Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Ditampung Panti Asuhan Annida Qolbu, Pria Ini Malah Berbuat Sejahat Ini sampai Mengancam Membunuh

Heny Pusnita • Sabtu, 15 November 2025 | 10:25 WIB
DIRAWAT: Sri Rohani, Ketua Yayasan Panti Asuhan Annida Qolbu menunjukkan hasil rontgen keretakan tulang pipi dan rahang akibat pemukulan, Jumat (14/11).
DIRAWAT: Sri Rohani, Ketua Yayasan Panti Asuhan Annida Qolbu menunjukkan hasil rontgen keretakan tulang pipi dan rahang akibat pemukulan, Jumat (14/11).

Kebaikan dibalas dengan penyiksaan. Itulah yang dialami Sri Rohani. Ujian hidup bertubi-tubi memperjuangkan Panti Annida Qolbu dalam kondisi sakit, tak menghentikannya berbuat kebaikan. Saat menampung pria terlantar, yang ditolong malah berbuat jahat.

HENY, radarsampit.jawapos.com

Kehidupan anak-anak Panti Asuhan Annida Qolbu yang tadinya tenang dengan fasilitas yang apa adanya berubah mencekam.

Selama kurang lebih sebulan, sekitar 40-an anak panti beserta pengurus hidup dalam tekanan ancaman.

Dalam gelapnya malam yang sunyi, mereka tidur dalam suasana hati yang tak tenang sejak kehadiran Rahmad Ramadhoni (40).

Pria yang mengaku terlantar itu ditampung Sri Rohani, Ketua Yayasan Panti Asuhan Annida Qolbu sejak pertengahan Oktober 2025 lalu.

Gelagat tak beres sebenarnya sudah terlihat Sunarti, Pengurus Panti Asuhan Annida Qolbu.

Ia bersama pengurus lainnya, sudah menyarankan Sri Rohani agar tak menampung pria temperamental tersebut.

Namun, karena kebaikan hati Sri Rohani, dia bersikeras tetap menampungnya. Bahkan, beberapa kali diberi uang Rp100-150 ribu.

Padahal, kesehariannya sebagian besar tidur, tak banyak membantu panti.

”Saya memang kenal dengan orang ini. Dulu tetangga saat rumah di Jalan Ahmad Yani. Tapi, saya tidak begitu mengetahui karakternya. Saya sudah disarankan anak-anak panti agar tidak usah menampungnya, tetapi karena saya berpikir, kita tidak boleh menilai orang dari tampak luarnya, siapa tahu masih ada sisi baik dalam dirinya," ucap Sri Rohani yang akrab disapa Ummi saat ditemui Radar Sampit di Panti Asuhan Annida Qolbu, Jumat (14/11)

Selama kurang lebih sebulan pria itu hanya makan dan tidur tanpa membantu. Bahkan, berani mengancam anak panti, Gading Martin alias Iyut yang masih berusia 10 tahun.

Iyut dihasut mencuri beras 10 kg, stok persediaan untuk anak-anak panti. Pencurian itu sudah dilakukan beberapa kali.

”Iyut diancam. Kalau tidak ambil beras, Rahmad ini mau mematahkan tangannya. Anak masih kelas 4 SD pasti takut diancam seperti itu, akhirnya terpaksa menuruti dengan masuk lewat jendela," ujar wanita berusia 53 tahun ini.

Sri Rohani yang mengetahui kejadian tersebut langsung menegur Rahmad agar tidak bertindak hal yang tak pantas. Apalagi sampai mengajarkan anak-anak panti mencuri.

”Saya tidak pernah mengajarkan anak-anak mencuri. Saya tidak pernah ajarkan anak-anak bertindak kasar.  Makanya, saya tegur Rahmad baik-baik. Tetapi dia malah mengancam ingin membunuh saya," ucapnya.

Tak terima ditegur, Rahmad menampar leher kanan dan memukul pipi hingga mata sebelah kanan Sri Rohani.

Sri Rohani yang berada di kursi roda, langsung jatuh tersungkur. Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 10.40 WIB Kamis (13/11). Sekitar pukul 11.30 WIB, Sri Rohani dilarikan ke RSUD dr Murjani Sampit, karena mengalami pendarahan di hidung dan keluar darah dari mulut.

”Saya mengira Rahmad ini mau ke belakang mau mandi. Tidak menyangka dia datang membawa parang mengancam mau membunuh saya," ucapnya.

Kejadian itu disaksikan Zaki, pengurus panti yang langsung syok.

Dia terdiam, tak membantu karena baru pertama kali menghadapi situasi yang mencekam nyawa. Rahmad kemudian kabur dan hingga kini tak jelas keberadaannya.

”Saya sudah pulang jam 11 malam tadi, padahal masih muntah-muntah. Saya kepikiran keselamatan anak panti, khawatir kalau Rahmad datang mengancam anak-anak lagi," ujarnya.

Atas kejadian tersebut, Sri Rohani mengalami keretakan di rahang, tulang pipi dan tulang bawah mata serta mengalami luka lebam pada bagian mata sebelah kanan.

”Ini diminta observasi dua hari, dokter menyarankan di operasi, semoga saja tidak sampai dioperasi. Berat sekali ujian Ummi. Bolak-balik rumah sakit, kaki sebelah kiri sudah tiga kali diamputasi. Ini diuji lagi dengan penyiksaan sampai mengancam membunuh," ujarnya.

Sri Rohani berharap aparat kepolisian segera menangkap pria yang juga residivis, pernah dipenjara akibat melakukan KDRT ke istrinya.

Pelaku juga diketahui pemakai sabu-sabu dan mempengaruhi anak-anak panti agar mencoba barang haram.

”Kami sudah laporkan pelaku ke Polsek Baamang. Selama ini, setiap kali ada kejadian pencurian, tidak pernah ada tindak lanjutnya. Saya berharap kepolisian bisa menindaklanjuti agar anak-anak panti bisa tidur dengan tenang tanpa khawatir terancam dengan kemunculannya," katanya. (***/ign)

Editor : Gunawan.
#pencurian #Kebaikan #penganiayaan #panti asuhan