NANGA BULIK, radarsampit.jawapos.com – Insiden perkelahian yang melibatkan Camat Belantikan Raya, Kepala Desa (Kades) Benuatan, dan seorang warga bernama Sunardi alias Ujang, berakhir damai. Proses mediasi berlangsung di Mapolres Lamandau awal pekan ini.
Peristiwa itu dipicu kesalahpahaman akibat pengaruh minuman keras. Pada Rabu (29/10), digelar pesta makan dan minum di rumah Kades Karang Besi yang dihadiri sejumlah kepala desa serta camat.
Di tengah suasana santai itu, datang Ujang dalam keadaan sudah mabuk. Awalnya mereka masih berbincang biasa, namun situasi berubah saat Ujang terlibat cekcok dengan Kades Benuatan.
Saat Camat berusaha menengahi, Ujang justru menolak disuruh pulang secara baik-baik dan berupaya memukul sang kades. Secara spontan, Camat langsung melayangkan pukulan.
Kapolres Lamandau AKBP Joko Handono melalui Kasatreskrim AKP Jhon Digul Manra mengatakan, pihaknya menindaklanjuti kasus itu sesuai prosedur.
”Kami menindaklanjuti laporan yang masuk. Jika kedua belah pihak sepakat untuk berdamai, itu adalah hak mereka, dan restorative justice diperbolehkan. Kami tidak bisa menghalangi,” ujar Jhon.
Dia menjelaskan, pasal yang dikenakan adalah penganiayaan dengan ancaman hukuman kurang dari enam bulan penjara, sehingga tergolong tindak pidana ringan (tipiring).
”Kami mengimbau masyarakat agar tidak mengonsumsi miras secara berlebihan. Jika ada masalah, selesaikan dengan kepala dingin. Upayakan penyelesaian kekeluargaan atau hukum adat sesuai kearifan lokal. Namun jika melapor ke polres tentu akan kami layani,” tegasnya.
Ujang menyatakan, telah memaafkan pihak yang memukulnya dan menegaskan bahwa keputusan damai dilakukan tanpa tekanan.
”Saya sudah memaafkan, karena kami sebenarnya juga teman lama. Mari kejadian ini kita jadikan pelajaran agar tidak terulang kembali. Semoga pertemanan dan persaudaraan kita semakin erat,” ujarnya.
Camat Belantikan Raya Ferry juga menyampaikan permohonan maaf atas kekhilafannya. Dia berharap peristiwa itu menjadi pelajaran bersama.
”Saya berterima kasih karena moto Bahaum Bakuba, musyawarah untuk mufakat, masih dipegang teguh oleh masyarakat, sehingga permasalahan seperti ini dapat diselesaikan dengan baik,” katanya. (mex/ign)
Editor : Gunawan.