NANGA BULIK, radarsampit.jawapos.com – Krisis bahan bakar minyak (BBM) di Kalimantan Tengah terus meluas ke sejumlah kabupaten lainnya.
Setelah sebelumnya dikeluhkan masyarakat di Palangka Raya, Sampit, dan Pangkalan Bun, kali ini Lamandau yang dibekap persoalan sama.
Warga Lamandau dibuat kelimpungan akibat kelangkaan BBM yang kian parah dalam beberapa hari terakhir.
Antrean panjang di SPBU tak terhindarkan, sementara harga eceran di pinggir jalan melonjak tajam hingga menembus Rp18.000 per liter.
Pantauan di lapangan, stok BBM di sejumlah SPBU di Nanga Bulik dan sekitarnya sering kosong.
Baik Pertalite maupun Pertamax. Kondisi itu memicu antrean kendaraan mengular hingga menyebabkan kemacetan di sekitar lokasi pengisian.
”Sudah beberapa hari ini saya kesulitan mencari bensin. Ke SPBU selalu habis, antreannya juga panjang sekali,” ujar Rina, warga Nanga Bulik, Rabu (22/10/2025).
Krisis juga terasa di tingkat pengecer. Banyak pedagang BBM eceran terpaksa tutup karena kehabisan stok. Kalaupun ada yang masih menjual, harganya jauh di atas normal.
Di dalam kota tembus Rp13.000–Rp15.000 per liter. Di desa lebih parah lagi. Mencapai Rp18.000 per liter.
Roni, warga lainnya, mengaku frustrasi karena tidak menemukan penjual BBM meski sudah berkeliling.
”Saya sudah keliling mencari bensin, tapi tidak ada yang jual. Terpaksa saya dorong motor sampai dapat,” keluhnya.
Kelangkaan BBM melumpuhkan aktivitas warga. Banyak masyarakat menunda perjalanan dan tak sedikit pekerja harian yang terpaksa berhenti beroperasi karena kendaraan mereka tak bisa jalan.
Masyarakat berharap pemerintah daerah bersama aparat dan pihak Pertamina segera turun tangan untuk menormalkan distribusi.
Langkah cepat dinilai perlu agar krisis BBM ini tidak semakin meluas dan harga bisa kembali stabil. (mex/ign)
Editor : Gunawan.