SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) memastikan bahwa rencana pembangunan permanen Jembatan Sei Mentawa atau yang dikenal warga sebagai Jembatan Patah di Jalan Kapten Mulyono, Sampit, masih membutuhkan waktu.
Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, Bina Konstruksi, Perumahan Rakyat, dan Kawasan Permukiman (SDABMBKPRKP) Kotim menyebut, kajian teknis dan studi kelayakan atau Feasibility Study (FS) menjadi kunci utama sebelum proyek ini bisa dilaksanakan.
Kepala Dinas SDABMBKPRKP Kotim Mentana Dhinar Tistama, menjelaskan bahwa pihaknya sempat menganggarkan kegiatan FS dan perencanaan untuk dua jembatan penting, yakni Jembatan Sei Mentawa 1 (Jembatan Patah) dan Sei Mentawa 2 di Jalan Iskandar, pada tahun 2023 lalu.
Namun, rencana itu terkena efisiensi anggaran sehingga harus ditunda.
“Jembatan Patah sudah sempat kami anggarkan untuk FS dan perencanaan tahun 2023, tapi karena efisiensi akhirnya belum terlaksana. Tahun ini insyaallah akan kami lanjutkan lagi untuk dua jembatan tersebut,” kata Mentana, Selasa (21/10/2025).
Menurutnya, proses ini tidak bisa dilakukan tergesa-gesa karena terdapat tantangan teknis dan historis yang cukup kompleks.
“Lokasi jembatan ini agak sulit karena ada keterkaitan dengan lahan di sekitarnya. Selain itu, konstruksi lama jembatan belum diketahui secara detail sejarah dan strukturnya, jadi kami perlu kajian mendalam untuk menentukan jenis konstruksi yang paling tepat,” jelasnya.
Mentana menegaskan bahwa kajian FS tersebut akan menjadi dasar utama untuk menentukan apakah jembatan akan dibangun ulang secara permanen atau diperkuat dengan struktur tertentu.
“Kalau FS sudah dikerjakan, barulah kita bisa memutuskan konstruksi apa yang paling cocok. Tapi yang pasti, Jembatan Patah tetap menjadi perhatian serius kami,” tegasnya.
Sembari menunggu hasil kajian tersebut, pemerintah daerah melalui UPTD Pemeliharaan Jalan dan Jembatan terus melakukan perbaikan rutin agar jembatan tetap bisa difungsikan dengan aman.
Sebelumnya, tim lapangan telah memperbaiki lantai kayu, pelat besi, hingga mengaspal tanjakan jembatan yang semula hanya ditimbun agregat. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi risiko kecelakaan dan memastikan jembatan tetap layak digunakan.
“Kami berupaya maksimal melakukan pemeliharaan secara rutin agar kondisinya tetap baik dan tidak membahayakan,” ujar Koordinator Lapangan UPTD Pemeliharaan Jalan dan Jembatan, Suhardiono.
Dengan langkah ini, Pemkab Kotim berharap masyarakat tetap bisa beraktivitas dengan aman di sekitar Jembatan Patah sembari menunggu keputusan desain permanen yang akan ditetapkan setelah studi kelayakan selesai.
“Yang terpenting, akses masyarakat tetap berfungsi sambil kita pastikan ke depan konstruksi jembatan ini bisa dibangun lebih kuat dan tahan lama,” pungkas Mentana. (oes)
Editor : Slamet Harmoko