Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Kesedihan Anang Mukri yang Gagal Menyekolahkan Anaknya di Sekolah Rakyat Kotim, ’Saya Menyerah!’

Tono Triyanto • Kamis, 2 Oktober 2025 | 07:20 WIB
BERJUANG SENDIRI: Anang Mukri di depan barakan tempat tinggalnya saat mendapat bingkisan dari dermawan.
BERJUANG SENDIRI: Anang Mukri di depan barakan tempat tinggalnya saat mendapat bingkisan dari dermawan.

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Impitan ekonomi memaksa Anang Mukri harus memutar otak setiap hari. Hampir tiga dekade nyaris tidak ada kata menyerah dalam kamus hidupnya.

Hari ini semuanya berubah. Anang Mukri mengucapkan kata menyerah. ”Saya sudah tidak sanggup lagi”.

Impiannya untuk menyekolahkan anak bungsunya ke jenjang SMA buyar. Bahkan, harapan terakhir untuk bisa masuk Sekolah Rakyat yang diprioritaskan bagi warga miskin tertutup rapat.

Di usianya yang menginjak 55 tahun, Anang Mukri masih terlihat gagah. Jalannya tegap dengan tatapan mata tajam.

Sepeda tua dengan kondisi yang sudah reot dan mengeluarkan bunyi berdecit terus dikayuhnya.

Warga Baamang Tengah ini tidak mempunyai pekerjaan tetap. Apa pun dilakukan selagi fisiknya mampu dan yang dikerjakan halal.

Menjadi pengantar koran dan mencari plastik bekas menjadi penopang hidup Anang Sukri dan keluarga sejak 15 tahun terakhir.

Tahun ini merupakan tahun yang sangat berat bagi Anang Mukri. Putra sulungnya yang baru lulus SMP tidak bisa melanjutkan ke jenjang SMA.

Keterbatasan ekonomi keluarga mengubur impian untuk bisa masuk sekolah negeri. Meski ada kuota bagi warga tidak mampu, Anang tidak berani memasukkan ke sekolah negeri.

”Istilahnya saja gratis. Tapi saat masuk sekolah tetap saja ada biaya yang harus dikeluarkan. Uang dari mana saya, untuk makan sehari-hari saja kadang pas-pasan,” cerita Anang Mukri.

Dengan kondisi ekonomi yang boleh dibilang masuk garis merah, Anang tetap berjuang menafkahi keluarga. Uang yang didapat hari ini akan habis hari itu juga. Semuanya untuk membeli kebutuhan makan.

”Saya ini hidup miskin, tapi tidak boleh mengeluh. Selama badan masih sehat kita harus berjuang mencari nafkah. Yang penting keluarga di rumah bisa makan dan bayar barakan untuk tempat berteduh,” kata Anang.

Lampu hijau sempat didapat Anang. Wali kelas anaknya di SMP sebelum kelulusan, sempat menghubungi jika anak bungsunya akan didaftarkan di Sekolah Rakyat yang dibuka Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur.

Secercah harapan muncul di kepala Anang dan anaknya. Meski konskuensinya jika diterima, si anak harus masuk asrama dan terpisah dengan orang tua.

”Saya dari awal mengikuti perkembangan Sekolah Rakyat yang dibuat Presiden Prabowo. Infonya saya dapat dari koran yang saya jual. Karena ada tawaran dari wali kelas anak saya, makanya saya iyakan untuk didaftarkan di Sekolah Rakyat. Bagi saya pendidikan anak sangat penting, apalagi ini gratis dan semuanya dibiayai pemerintah,” jelas Anang.

Hari berganti hari. Minggu berganti minggu. Hingga bulan berganti bulan. Tak ada kabar kelanjutan soal Sekolah Rakyat. Kesibukan mencari nafkah nyaris tidak ada waktu bagi Anang untuk mencari informasi lanjutan.

Inisiatif muncul dari anak tertuanya. Sang kakak mencoba ulang mendaftarkan lewat online menggunakan handphone butut milik kakaknya.

Saat mendekati waktu pembukaan Sekolah Rakyat yang semakin mepet, Anang belum juga mendapat jawaban.

Apakah diterima atau tidak. Hingga waktu pelaksanaan itu tiba, Anang mencoba memberanikan diri meunju ke Islamic Center, tempat Sekolah Rakyat.

Pagi-pagi buta, Anang membonceng anaknya menggunakan sepeda bututnya menuju tempat sekolah yang diimpikan. Jarak tidak menjadi penghalang, lelah diabaikan. Yang pentingnya anaknya bisa diterima.

Namun, harapan itu sirna. Impian bisa menyekolahnya si anak buyar saat itu juga. Anaknya tidak ada dalam daftar peserta yang diterima di tingkat SMA.

”Dari keterangan petugas di sana, nama anak saya tidak masuk. Calon siswa yang diterima harus berasal dari keluarga miskin dan masuk dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional,” kata Anang.

Anang dan anaknya hanya bisa terduduk. Sepanjang hidupnya yang berada dalam lingkaran garis kemiskinan, Anang tidak pernah mendapatkan pendataan dari petugas untuk masuk data base sebagai warga penerima bantuan atau apa pun itu dari pemerintah.

”Jika, syaratnya wajib terdata di data base anak saya tidak akan pernah bisa masuk Sekolah Rakyat. Dari dulu sampai sekarang saya sekeluarga juga tidak pernah dapat bantuan, baik itu BLT, sembako murah atau apa pun itu. Mungkin ini sudah takdir saya jadi warga miskin,” lirih Anang.

Anang hanya bisa berujar, program Sekolah Rakyat ke depannya hendaknya dijalankan dengan maksimal.

Mulai dari pendaftaran hingga pengumumann penerimaan. Sampai saat ini, informasi yang didapatkan sangat minim. Baik itu dari ketua RT hingga instansi terkait.

”Kalau bisa pendaftarannya dibuat secara terbuka, ada tempat pendaftarannya. Informasinya juga dibuat seluas-luasnya, libatkan RT di lingkungan masing-masing. Tidak semua warga miskin di Kotim masuk data base. Masih banyak orang tua yang tidak bisa menyekolahkan anakknya, termasuk saya. Kalau semuanya berpatokan pada data base, sampai kapan pun warga miskin yang tidak terdata tidak akan pernah mendapatkan kesempatan untuk masuk ke Sekolhg Rakyat,” harap Anang.

Menurut Anang, Sekolah Rakyat yang digagas Presiden Prabowo sangat membantu warga miskin seperti dirinya.

Meskinya konsekuensi anak harus masuk asrama, hal itu tidak jadi masalah. Yang terpenting anak yang orantuanya tidak punya biaya tetap berkesempatan mendapatkan pendidikan seperti anak lainnya. (ton/ign)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : Gunawan.
#warga miskin #Sekolah Rakyat #kotim