SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Suasana tenang di Jalan Tidar IV, Kecamatan Baamang, mendadak ricuh, Sabtu (6/9) siang.
Warga yang sedang beraktivitas dikejutkan oleh keributan tak biasa. Seorang remaja dan ayah tirinya saling pukul di tengah jalan.
Perkelahian itu sontak mengundang perhatian. Beberapa orang yang kebetulan melintas langsung berusaha melerai.
”Waktu kejadian, kami kebetulan lewat. Pas dicek, ternyata ayah dan anak yang berkelahi. Kami langsung ikut melerai,” tutur Aji, salah seorang warga Baamang, Minggu (7/9).
Menurut Aji, penyebab keributan justru hal yang sepele. Remaja berusia 17 tahun berinisial F awalnya meminta bantuan sang ayah tiri, pria berusia 60 tahun, untuk mengurus sepeda motor temannya yang sebelumnya terjaring razia.
Sang ayah mengaku punya kenalan yang bisa membantu. Namun, karena tak kunjung ada kepastian, F mendesak ayah tirinya. Dari situlah emosi memuncak, berujung cekcok, dan akhirnya adu jotos.
Tak pelak, suasana menjadi ramai. Warga berkerumun, sebagian ikut melerai, sebagian lagi hanya menonton dengan wajah tegang.
”Entah mungkin ada masalah lain yang memicu, tapi awalnya hanya persoalan itu. Tahu-tahu keduanya saling pukul,” lanjut Aji.
Situasi makin berbahaya ketika keduanya sempat mengacungkan senjata tajam.
Untunglah, warga sigap mengamankan, dan tak lama kemudian petugas Polsek Baamang datang ke lokasi. Ayah dan anak tiri itu langsung dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.
Meski sempat panas, kasus ini akhirnya tidak berlanjut ke ranah hukum. Polisi memilih menyelesaikannya secara kekeluargaan, mengingat hubungan keduanya adalah orang terdekat dalam satu rumah tangga.
Kisah pertengkaran ini menyisakan pelajaran penting. Emosi yang dibiarkan meledak hanya akan memperkeruh keadaan, apalagi jika melibatkan keluarga sendiri.
Sebab, masalah kecil yang seharusnya bisa dibicarakan baik-baik, bisa berubah menjadi keributan besar dan merugikan semua pihak. (sir/ign)
Editor : Gunawan.