SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Kebakaran lahan di belakang Kantor BPBD Kotim menjadi perhatian pihak terkait.
Puluhan personel gabungan dilibatkan dalam proses pemadaman kebakaran api yang sengaja dibakar.
Terdapat tiga titik lokasi lahan yang berdekatan sengaja dibakar. Letaknya tak jauh dari Gudang Logistik dan berada tepat di belakang kantor BPBD Kotim Jalan Jenderal Sudirman km 6,8.
Kegiatan itu merupakan simulasi penanganan kebakaran lahan, di mana kemampuan personel dan kelengkapan peralatan menjadi poin penting yang harus diperhatikan.
”Simulasi ini bagian dari rangkaian apel siap siaga yang sudah kita laksanakan Senin lalu. Simulasi ini penting untuk menguji kesiapan personel, peralatan, dan seluruh pemangku kepentingan. Alhamdulillah, kegiatan berjalan dengan baik. Banyak stakeholder bisa hadir termasuk relawan damkar," kata Multazam, Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Rabu (6/8).
Multazam mengatakan, simulasi ini seharusnya tidak menunggu status siaga, tetapi dapat dilakukan rutin untuk menguji peralatan harus dalam posisi siap pakai dan siap digunakan.
Kamis (31/7) lalu, Pemkab Kotim telah menetapkan status siaga darurat karhutla selama 90 hari mulai 1 Agustus - 29 Oktober 2025.
”Penguatan koordinasi antar stakeholder terkait dan kolaborasi yang baik di lapangan ini dapat menjadi penentu kelancaran proses pemadaman," ujarnya.
Dari simulasi ini, semua personel gabungan dapat memetik pembelajaran dari hasil evaluasi yang perlu dilakukan sebagai langkah penanganan kebakaran lahan yang lebih cepat, efektif, dan aman.
”Memang ada beberapa catatan yang perlu dievaluasi. Masih ada personel yang kurang responsif, ketika mendengar laporan apalagi berada di titik lokasi kejadian. Personel harus gerak cepat, minimal lari kecil," ujarnya.
Multazam memahami kebakaran lahan simulasi dan kejadian nyata berbeda. Namun, skenario dalam simulasi ini memang dibuat seperti yang sering dihadapi di lapangan.
”Pergerakankan personel belum terkoordinir dengan baik, tapi mereka mencoba mengaktualisasi diri mereka masing-masing. Pembentukan regu untuk penanganan kebakaran juga memerlukan waktu. Inilah pentingnya kolaborasi yang dilakukan personel dan didukung dengan peralatan yang memadai," ujarnya.
Penanganan kebakaran juga tidak hanya berfokus pada pemadaman api. Namun, keselamatan dan keamanan personel tetap menjadi prioritas.
”Sebagai contoh, dalam skenario tadi ada personel yang terluka saat proses pemadaman, bagaimana kesigapan mereka dalam mengatasi itu. Personel di lapangan penting memastikan agar jaga keselamatan diri, jangan sampai celaka," ujarnya.
Dalam skenario kebakaran dibuat terjadi lebih dari sekali. Api kembali membara setelah dipadamkan.
Kejadian ini faktanya memang pernah terjadi beberapa hari lalu saat penanganan di kawasan Yadi Kudung.
Kebakaran yang berhasil dipadamkan ternyata empat kali menyala dalam waktu berbeda.
”Tadi ada skenario tambahan, api kembali menyala setelah dipadamkan. Selang sudah digulung, bagaimana personel di lapangan merespons cepat kejadian itu," ujarnya.
Hal yang sering menjadi kendala di lapangan seperti jauh dari sumber air, lokasi kebakaran berada di kawasan gambut yang bisa menenggelamkan kaki sekitar 50 cm sehingga membuat kesulitan dalam pergerakan dan perlu kehati-hatian.
”Inilah kendala yang sering dihadapi personel di lapangan. Karena itu, kita menyediakan embung portable dan embung untuk menampung cadangan air di lokasi yang tidak ditemukan sumber air untuk pemadaman," katanya. (hgn/ign)
Editor : Gunawan.