PANGKALAN BUN, radarsampit.jawapos.com – Petani keramba apung di sepanjang Daerah Aliran Sungai Arut dan Lamandau cemas dengan kelangsungan budidaya ikan mereka.
Sebab, cuaca panas lebih dari sepekan ini merupakan ancaman serius bagi keselamatan ikan mereka.
Cuaca panas dibarengi dengan menyusutnya debit air sungai, bila terjadi hujan deras dengan durasi waktu yang lama, dipastikan akan berdampak pada potensi peningkatan kematian ikan.
Hujan beberapa pekan lalu, contohnya. Setelah sekian lama tidak hujan kemudian hujan deras tujuh jam, ribuan ikan mas mati di keramba mati dalam sekejap.
"Terparah tahun 2023 silam, seluruh pembudidaya ikan merugi akibat perubahan cuaca tiba-tiba. Beberapa minggu lalu ketika hujan tujuh jam, ikan kami mati dengan jumlah yang lumayan banyak. Hanya ikan jenis mas yang mati," beber pembudidaya ikan keramba Alfianur Firdaus, Sabtu (2/8).
Para pembudidaya ikan sejak dini sudah mempersiapkan langkah-langkah bila tanda-tanda hujan lebat akan turun. Salah satunya adalah dengan memanen cepat ikan mereka, dan menunda penaburan benih ikan.
Menurutnya, kadar oksigen dalam air berubah mendadak bila cuaca panas dalam waktu lama kemudian turun hujan deras.
Faktor kualitas air yang semakin buruk akibat aktivitas pertambangan juga menjadi ancaman serius, bukan hanya ikan budidaya tetapi ikan endemik Sungai Arut.
"Kualitas air di Sungai Arut ini semakin tahun semakin menurun, keruh, dan tidak sehat untuk budidaya. Makanya kita harus berhati-hati," pungkasnya. (tyo/yit)
Editor : Slamet Harmoko