Radarsampit.jawapos.com – Musim kemarau sering kali identik dengan langit cerah dan permainan layangan.
Tapi di balik keseruannya, terselip bahaya yang tak bisa dianggap remeh: benang gelasan. Benang tajam yang dilapisi serpihan kaca ini tak hanya bisa melukai, tapi juga mengancam nyawa.
Kasus luka akibat gelasan terus berulang setiap tahun, terutama di kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan. Korbannya pun tak main-main—mulai dari pesepeda, pengendara motor, hingga pejalan kaki.
Luka Kecil, Risiko Besar
Menurut dr. Deni Irawan, SpB, dokter spesialis bedah RSUD dr. Soetomo Surabaya, luka dari benang gelasan tergolong luka tajam terbuka.
Tapi jika mengenai area vital seperti leher, bisa berujung pada pendarahan hebat, kerusakan otot, bahkan kematian.
“Banyak yang terluka di bagian leher, tangan, atau wajah. Luka tampak kecil, tapi bisa mengenai pembuluh darah besar dan menyebabkan syok,” ujarnya.
Kasus Nyata yang Baru Yerjadi
tercatat sejumlah insiden akibat benang layangan. Sabtu (12/7/2025), seorang pengemudi ojek online di Kecamatan Baamang tersayat benang layangan di lehernya.
Dua hari berselang, seorang perempuan mengalami luka serupa di belakang Masjid Al Kamal, Sampit.
Insiden paling serius terjadi Selasa (22/7/2025) menjelang magrib. Seorang perempuan berseragam Pegawai Negeri Sipil (PNS) mengalami luka cukup parah di dahi setelah terkena benang layangan di Jalan Jeruk 1, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Korban langsung dilarikan ke RSUD dr Murjani Sampit oleh warga.
Baca Juga: Inilah 7 Tips Agar Terhindar dari Bahaya Benang Layangan Saat Berkendara
Siapa yang Paling Rentan?
-Pengendara motor tanpa pelindung leher
- Anak-anak yang bermain tanpa pengawasan
- Pejalan kaki di area terbuka dekat lapangan atau jalan raya
Dampak Psikologis Tak Kalah Serius
Menurut psikolog anak Vina Yunita, M.Psi, korban anak-anak yang terluka akibat gelasan bisa mengalami trauma jangka panjang.
“Anak bisa takut keluar rumah atau mengalami kecemasan sosial jika luka yang ditinggalkan cukup parah secara fisik dan emosional,” katanya.
Apa yang Bisa Dilakukan?
- Jangan main layangan di dekat jalan raya atau kabel listrik.
- Hindari menggunakan benang gelasan. Gunakan benang biasa yang aman.
- Gunakan pelindung leher atau helm full-face saat berkendara di musim layangan.
- Orangtua wajib mengawasi anak-anak yang bermain layangan.
Baca Juga: Benang Layangan Kembali Makan Korban, Pengendara Motor Luka Parah di Kepala
Hukum Sudah Ada, Tapi Kesadaran Masih Minim
Di beberapa daerah, penggunaan benang gelasan sudah dilarang. Contohnya di DKI Jakarta, Perda Nomor. 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum melarang permainan layang-layang yang membahayakan pengguna jalan atau fasilitas umum.
Namun, kesadaran masyarakat masih rendah. Banyak yang tetap menggunakan benang gelasan demi menang adu layangan, tanpa peduli risikonya.
Permainan layangan memang menyenangkan. Tapi jangan biarkan kesenangan itu berubah menjadi tragedi.
Benang gelasan bukan sekadar “senjata mainan” ia bisa menjadi alat yang membunuh dalam sekejap.
Jadi, kalau masih sayang nyawa orang lain, tinggalkan gelasan. Mainlah layangan dengan cara yang aman dan bertanggung jawab. (*)
Editor : Slamet Harmoko