Radarsampit.jawapos.com-Setelah pemerintah mengungkap 212 merek beras yang diduga dioplos, masyarakat diimbau lebih waspada dalam memilih beras agar tidak mudah tertipu.
Di pasaran masih ditemukan beras yang tampak bersih, tetapi diduga mengandung campuran bahan kimia atau berasal dari hasil proses ulang beras rusak. Praktik ini meresahkan karena bisa membahayakan kesehatan konsumen.
Beras-beras semacam ini diduga diproses ulang dari beras lama yang sudah rusak, kemudian dicampur pemutih atau pengawet agar kembali terlihat layak jual. Konsumen awam kerap terkecoh karena hanya menilai kualitas dari penampilan fisiknya saja.
Pakar pertanian dari IPB University, Prof Tajuddin Bantacut, mengingatkan bahwa masyarakat harus lebih jeli saat membeli beras di pasaran. Apalagi jika tampilannya terlalu putih atau berkilau tidak wajar.
"Kalau nasi terasa beda dari biasanya, dari warna, bau, tekstur, dan bentuk butiran bisa dicurigai itu beras oplosan. Bisa jadi kualitasnya rusak atau bahkan mengandung zat asing," kata Prof Tajuddin dalam keterangannya, dilansir dari website resmi IPB University, pekan lalu.
Kenali Perbedaan Beras Asli dan Oplosan
Secara umum, ada beberapa tanda fisik yang bisa diamati langsung oleh konsumen sebagai berikut.
- Dalam satu kemasan, bisa ditemukan butiran beras putih bersih bercampur dengan yang kusam, kekuningan, atau mengapur.
- Beras asli cenderung seragam, sedangkan beras oplosan dicampur berbagai ukuran panjang-pendek, besar-kecil.
- Bau apek, kimia, atau terlalu tajam menjadi indikator beras bukan dari kualitas baik.
- Nasi cepat basi, terlalu lembek, atau tidak pulen. Ini bisa jadi tanda beras oplosan atau kualitas rendah.
- Muncul partikel asing saat dicuci seperti serbuk putih, atau butiran mengapung yang tidak lazim.
Dalam kasus tertentu, beras yang sudah lama atau rusak sengaja diputihkan dengan bahan kimia agar tampak baru sehingga bisa dijual dengan harga tinggi.
Ini tidak hanya menipu konsumen, tetapi juga membahayakan kesehatan dalam jangka panjang.
Modus Oplosan Beragam, Risiko Kesehatan Nyata
Prof Tajuddin menjelaskan ada beberapa praktik oplosan yang umum dilakukan.
- Dicampur bahan lain seperti jagung atau umbi kering, tanpa informasi pada label kemasan.
- Dicampur antarvarietas, misalnya beras medium digabungkan dengan beras premium untuk meningkatkan tampilan, tetapi dijual sebagai premium.
- Beras rusak yang dipoles ulang sehingga paling berisiko karena beras bisa terkontaminasi jamur atau mikroorganisme. Untuk menutupi, biasanya ditambah pemutih atau bahan kimia pengawet.
Jika dikonsumsi terus-menerus, beras oplosan berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan serius. Zat pemutih dan pengawet sintetis bisa menumpuk di tubuh dan merusak organ vital seperti hati dan ginjal.
Selain itu, kontaminasi dari jamur atau mikroorganisme bisa menyebabkan keracunan atau menurunkan daya tahan tubuh.
Oleh karena itu, masyarakat perlu lebih waspada terhadap peredaran beras oplosan yang kini marak di pasaran.
Jangan mudah tergiur tampilan menarik atau harga murah karena keamanan pangan adalah tanggung jawab bersama. (*)
Editor : Farid Mahliyannor