Radarsampit.jawapos.com - Dalam beberapa tahun terakhir angka pernikahan resmi yang dicatatkan di Kantor Urusan Agama (KUA) merosot drastis. Fenomena ini menjadi sorotan Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar.
Dia meminta generasi muda di Indonesia tidak terpengaruh budaya di negara lain yang memilih pacaran tinggal serumah tanpa ikatan pernikahan.
Merujuk data resmi Kemenag, pada 2020 lalu angka pernikahan yang dicatatkan di KUA sebanyak 2 juta pernikahan dalam setahun.
Sedangkan pada 2024 lalu, pernikahan yang dicatatkan di KUA susut tinggal 1,47 juta pernikahan. Jumlah tersebut sangat kontras dengan populasi masyarakat usia produktif di Indonesia yang sangat besar.
Sorotan terhadap turunnya angka pernikahan itu disampaikan Nasaruddin di sela kegiatan Nikah Massal di Masjid Istiqlal di Jakarta pada Sabtu (28/6). Dia mengatakan, Indonesia adalah negara Pancasila.
Maka budaya-budaya yang berkembang di negara lain, tidak semuanya bisa ditiru. Termasuk menunda-nunda pernikahan.
"(Termasuk juga) pacaran sampai tua. Indonesia negara Pancasila, tidak boleh mencontoh yang melanggar aturan agama," katanya.
Nasaruddin menegaskan, menikah secara resmi dengan dicatatkan ke negara sangat penting. Khususnya untuk anak-anaknya.
Imam Besar Masjid Istiqlal itu mengatakan pasangan yang nikah di bawah tangan tidak punya akta atau buku nikah. Kemudian anak yang dihasilkan tidak bisa punya akte lahir. Karena dasar penerbitan akte lahir adalah buku nikah.
Jika si anak tidak punya akte lahir, maka tidak bisa ada di kartu keluarga (KK) dan tidak punya KTP. "Kalau tidak punta KTP tidak bisa membuat paspor," jelasnya.
Jika tidak bisa membuat paspor, tidak bisa menyempurnakan rukun Islamnya. Yaitu untuk berhaji ke Makkah, Arab Saudi. Pasalnya dokumen mutlak yang harus dimiliki untuk perjalanan keluar negeri adalah paspor.
Nasaruddin juga berpesan kepada remaja atau bujangan yang sudah cukup umurnya untuk menata hidup supa siap menikah. Jika sudah siap, maka segera menikah. Karena baginya menikah itu tidak hanya sunah Rasulullah SAW saja. Tetapi juga menjadi sunnatullah. Karena Allah menciptakan manusia berpasang-pasangan.
"Burung-burung yang terbang diangkasa itu hidup berpasang-pasangan," katanya. Bahkan bunga warna-warni yang menghiasi acara Nikah Massal di Masjid Istiqlal itu hasil dari proses perkawinan.
Nasaruddin mengakui ada padangan di masyarakat bahwa nikah itu butuh biaya besar. Dia menjelaskan prosesi pernikahan bisa sangat terjangkau jika dilakukan di KUA. Apalagi di sejumlah KUA sudah dilengkapi balai nikah yang bagus.
Ia menambahkan, biaya nikah yang besar biasanya untuk urusan lain.Seperti sewa gedung dan makan-makan. Dia berpesan, ketika ada yang menikah secara sederhana di KUA jangan dicap gara-gara sudah terjadi hubungan seksual di luar nikah.Baginya nikah resmi di KUA jauh lebih baik ketimbang nikah di bawah tangan.(hil/es/jpc)
Berikut 5 Negara di Asia dengan Angka Pernikahan yang Rendah
Korea Selatan
Korea Selatan menjadi salah satu negara di Asia yang memiliki tingkat pernikahan rendah di dunia.Menurut data yang dilansir dari Strait Times, tingkat pernikahan Korsel anjlok hingga 40 persen pada 2023. Sekitar 193.673 pasangan yang menikah di tahun itu.
Menurut data yang dilansir dari Strait Times, tingkat pernikahan Korsel anjlok hingga 40 persen pada 2023. Sekitar 193.673 pasangan yang menikah di tahun itu.
Angka tersebut turun dibandingkan 2013 yang mencapai 322.807 pasangan. Penurunan tersebut disebabkan salah satunya karena pergeseran norma-norma sosial.
Tiongkok
Populasi Tiongkok dikabarkan mengalami penurunan angka pernikahan selama dua tahun berturut turut. Hal itu terjadi ketika angka kelahiran dan kematian melonjak saat Pandemi COVID-19.
Melansir Reuters, penurunan angka pernikahan berdampak pada laju pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
"Seperti yang telah kita amati berulang kali di negara-negara dengan tingkat kesuburan rendah, penurunan kesuburan seringkali sangat sulit untuk diperbaiki," ujar ahli demografi Universitas Michigan, Zhou Yun.
Banyak warga China yang merasa ogah berkeluarga dan membesarkan anak. Salah satu penyebabnya karena terlalu nyaman berkarier di dunia kerja.
Georgia
Sebagai salah satu negara yang terletak di Asia bagian barat ternyata memiliki tingkat pernikahan yang rendah.
Melansir dari Statista, tingkat pernikahan di Georgia mengalami penurunan drastis hingga mencapai 5,5 persen.
Angka pernikahan yang kian menurun jadi sorotan pemerintah Georgia untuk melakukan pembenahan guna menggenjot pertumbuhan penduduk.
Jepang
Sebagai salah satu pelopor negara maju di Asia, Jepang memiliki angka kelahiran rendah selama beberapa waktu terakhir.
Menurut sebuah survei lembaga statistik Jepang, warga Jepang yang memiliki rentang usia 25 hingga 34 tahun disebut ogah untuk menikah.
Hal itu kian menjadi kekhawatiran pemerintah Jepang usai terjadi kenaikan angka kematian mencapai 1.590.503.
Pemerintah Jepang lantas berupaya untuk mengatasi masalah tersebut. Mulai dari menjanjikan bantuan finansial, kemudahan akses perawatan anak, hingga cuti orang tua.
Qatar
Melansir dari Doha News, Qatar mengalami penurunan angka pernikahan drastis sejak Februari 2023.
Menurut data dari Otoritas Perencanaan dan Statistik Qatar, terdapat penurunan angka pernikahan sekitar 8,6 persen. Hal ini selaras dengan tingkat perceraian yang ikut menurun sekitar 17,2 persen.
Kendati demikian, pemerintah Qatar tengah gencar melakukan tindakan pencegahan melalui seminar pelatihan. Pelatihan tersebut mencakup tentang proses penanganan konflik perkawinan hingga rencana hidup bagi pasangan muda.(gus)
Editor : Agus Jaka Purnama