SAMPIT, radarsampit.jawapos.com
Ibadah Yue ini merupakan peringatan musim panas yang jatuh bertepatan dengan perayaan Duan Yang atau Go Gwee Ce Go 2576 Kongzili dalam penanggalan Khonghucu.
Momen sakral ini berlangsung saat matahari mencapai titik tertinggi, antara pukul 11.00 hingga 13.00 WIB.
Tokoh agama Khonghucu Kotim Wenshi Suhardi, menjelaskan bahwa peringatan Duan Yang merupakan bentuk eling dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
“Ibadah Yue adalah momentum bagi umat untuk membina diri, hidup selaras dengan Firman Tuhan melalui ajaran agama,” ujar Wenshi.
Dalam tradisi Tionghoa, perayaan Duan Yang turut dimeriahkan dengan ritual unik seperti mendirikan telur tepat pukul 12.00 siang. Diyakini, pada saat itu gravitasi bumi memungkinkan telur berdiri tegak karena pengaruh ekstrem posisi matahari.
Selain itu, umat juga membuat dan membagikan kue bakcang, penganan dari beras ketan berisi daging atau sayuran yang dibungkus daun bambu.
Tradisi ini merupakan penghormatan terhadap Qu Yuan, seorang negarawan setia yang menyeburkan diri di Sungai Mi Luo karena kecewa terhadap kondisi negaranya yang hancur akibat pengkhianatan pejabat.
"Qu Yuan sebagai seorang negarawan atau seorang menteri besar yang sangat setia dalam mengabdi kepada negara namun karena terjadi penghianatan oleh Pejabat Negara yang memiliki kepentingan hingga negara tersebut hancur dan kalah dalam peperangan, kemudian Qu Yuan merasa gagal dan kecewa karena tidak dapat membela negaranya lalu ia menyeburkan diri di Sungai Mi Luo, agar jasad Qu Yuan tidak dimakan oleh ikan dan hewan yang ada di sungai maka rakyat melakukan tradisi melempar kue bakcang ke sungai," terangnya.
Sebagai bentuk penghormatan lain, warga juga mengenang tradisi Pek Cun, yang berarti “seratus perahu”, menggambarkan upaya rakyat mencari jasad Qu Yuan di sungai.
"Pek Cun yang artinya Seratus Perahu, tradisi ini dilakukan untuk mencari Jasad seorang Qu Yuan yang menyeburkan diri di Sungai Mi Luo.
Wenshi menambahkan, umat Khonghucu melaksanakan Sembahyang Besar di empat momen penting dalam setahun, yaitu Musim Dingin, Musim Gugur, Musim Semi, dan Musim Panas.
“Ibadah semacam ini tidak hanya sarat nilai spiritual, tetapi juga mempererat ikatan sosial dan budaya antarumat,” tutupnya. (yn/sla)
Editor : Slamet Harmoko