Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Runway Tak Mampu Tampung Pesawat Modern, Apa Jadinya Masa Depan Penerbangan Sampit?

Rado. • Sabtu, 24 Mei 2025 | 11:50 WIB
MENDARAT: Penumpang yang turun di Bandara Haji Asan Sampit, Selasa (8/4).
MENDARAT: Penumpang yang turun di Bandara Haji Asan Sampit, Selasa (8/4).

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) membidik peningkatan kelas Bandara H Asan Sampit melalui pengembangan besar-besaran. Termasuk usulan perpanjangan runway menjadi 2.300 meter dan relokasi fasilitas penting.

Langkah ini tak hanya soal infrastruktur, tapi juga strategi mendorong pertumbuhan ekonomi dan menarik lebih banyak maskapai penerbangan.

Sejumlah upaya konkret telah dilakukan, termasuk penyusunan master plan, pembebasan lahan, dan persiapan fasilitas pendukung guna mendukung masuknya pesawat berbadan lebar seperti seri 800 dan Airbus.

Plt Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setda Kotim Rody Kamislam menjelaskan, Kementerian Perhubungan menyatakan kesiapannya mengembangkan bandara, dengan syarat-syarat teknis yang harus dipenuhi pemerintah daerah.

”Salah satu atensi utama dari kementerian adalah tidak boleh ada gangguan saat landing maupun take off, termasuk gangguan manusia. Selain itu, runway harus diperpanjang, dan fasilitas seperti gedung PKPPK (Pertolongan Kecelakaan Penerbangan dan Pemadam Kebakaran) harus dipindahkan karena posisinya saat ini tidak memungkinkan untuk manuver pesawat besar,” katanya.

Rody menuturkan, dari total 8 hektare lahan yang diperlukan untuk memperpanjang runway, 5 hektare sudah diselesaikan dan diserahkan ke Direktorat Jenderal Perhubungan Udara.

”Sisanya tinggal 1,8 hektare untuk gedung PK yang saat ini masih dalam proses di Dinas Cipta Karya. Jika itu selesai, maka semua persyaratan lahan akan clear dan bisa langsung ditindaklanjuti kementerian,” terangnya.

Dia menambahkan, master plan pengembangan Bandara H Asan telah selesai sejak 2024 dan disusun saat dirinya masih menjabat di Dinas Perhubungan.

Master plan tersebut telah diserahkan pengelola bandara dan diterima langsung oleh Kementerian Perhubungan sebagai dasar perencanaan proyek pengembangan ke depan.

”Pak Bupati mendorong agar proses ini segera dituntaskan karena ini menyangkut masa depan layanan penerbangan kita. Kalau tidak dikembangkan, pesawat seri lama akan habis masa operasinya dan kita bisa kehilangan layanan penerbangan,” lanjutnya.

Runway eksisting sepanjang 2.060 meter dinilai belum memadai. Kotim mengusulkan perpanjangan menjadi 2.300 meter. Minimal menyamai Bandara di Pangkalan Bun yang sudah 2.100 meter.

”Target kita minimal 2.200 meter agar pesawat seperti Boeing 737-800 bisa mendarat dengan aman. Kalau runway tidak sesuai standar, maskapai tidak akan mau masuk karena faktor keselamatan adalah hal utama,” ujar Rody.

Pemerintah daerah juga sudah menyiapkan jalan alternatif di sisi darat Jalan Tjilik Riwut, untuk mengantisipasi penutupan jalur lama akibat perpanjangan runway.

”Jalan ini dulunya sudah disiapkan di era Bupati Supian Hadi, jadi sekarang kita tinggal melanjutkan saja. Semua infrastruktur pendukung secara bertahap sedang kita lengkapi,” katanya.

Bandara H Asan Sampit hanya dilayani oleh satu maskapai karena keterbatasan landasan. Rody berharap dengan peningkatan fasilitas, akan lebih banyak maskapai yang masuk dan persaingan harga tiket menjadi lebih kompetitif.

”Kita ingin menarik minat operator penerbangan, dan itu tidak mungkin terjadi kalau fasilitas kita belum memenuhi standar,” tegasnya.

Menurutnya, bandara yang berkembang akan memicu pertumbuhan ekonomi secara luas. ”Dengan pesawat besar bisa masuk, investor dari pusat bisa langsung datang ke Sampit. Dampaknya terasa di hotel, transportasi, hingga sektor oleh-oleh dan kuliner. Ini yang sedang kami kejar,” ujar Rody. (ang/ign)

Editor : Slamet Harmoko
#pesawat #bandara h asan sampit #penerbangan #sampit #Bandara sampit