SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Penjualan hewan kurban mulai ramai menjelang Iduladha 1446 Hijriah. Tiga pekan sebelum Lebaran, permintaan terus meningkat.
Puluhan ekor sapi berkulit cokelat tua mulai menunjukkan eksistensinya. Tak lagi dikandangi, tapi sengaja dilepas bebas dalam satu kawasan lahan. Sapi yang dirawat hingga besar itu siap diperjualbelikan dengan harga puluhan hingga ratusan juta.
Masrani, peternak sekaligus pedagang sapi di Jalan HM Arsyad menyebut, ada 90 ekor sapi lokal yang ia rawat hingga besar siap diperjualbelikan.
Puluhan sapi bali itu ia beli sejak usianya masih 2,5 tahun. Dengan telaten dia merawatnya di Desa Bapeang, asal kampungnya tinggal.
Usaha menjadi peternak sapi sudah dilakoni sejak turun-temurun. Warisan orang tuanya di Desa Bapeang. Sekitar tahun 2016, ia mulai mengambil peluang mendagangkan sapi unggulannya dengan bobot daging bersih 75-120 kg dengan harga kisaran Rp18-25 juta.
”Saya memang peternak sapi sudah lama. Dari tahun 1980-an mulai orang tua sampai nurun ke saya. Tetapi, baru ikut menjual sapi sekitar tahun 2016. Saya melihat, setiap tahun permintaan sapi selalu ada apalagi menjelang Lebaran Iduladha, umat Islam yang mampu, banyak yang beli sapi untuk berkurban," kata Masrani saat ditemui Radar Sampit, Sabtu (17/5).
Tak hanya sapi lokal hasil penggemukan, ia juga mendatangkan sapi dari Makassar yang dikirim dari Pelabuhan Barru, Sulawesi Selatan menuju Pelabuhan Batu Licin, Kalimantan Selatan.
Setiba di Pelabuhan Batu Licin, sapi diangkut menggunakan truk kemudian dikirim melalui jalur darat sampai ke Sampit.
”Seminggu yang lalu datang 21 ekor sapi, Selasa depan rencana datang lagi sapi Sulawesi 58 ekor. Sekarang sudah masuk kapal sedang dalam perjalanan. Jumat depan juga akan datang lagi estimasi 50 ekor," ujarnya.
Masrani menargetkan tahun ini akan menyediakan 300 ekor sapi sudah termasuk sapi lokal.
”Ini yang sudah di lokasi ada 120an ekor sapi. Tahun ini sapinya bagus-bagus badannya, tidak ada yang sakit, semua sehat. Tahun lalu aja ada sapi yang pincang," ujarnya.
Ia mengaku sudah ada 50 persen sapi yang sudah dipesan. ”Transaksi lebih sering di lokasi, karena pembeli bisa melihat langsung kondisi sapi. Kalau deal tinggal bayar Down Payment (DP). Ada juga yang sudah kenal saya pesan lewat telepon," ujarnya.
Ditanya perawatan sapi, Masrani mengaku tak ada perlakuan khusus. Setiap sapi yang baru datang dari perjalanan jauh melewati jalur laut dan darat, dibiarkan beristirahat tanpa diberikan minum.
”Terpenting, ketika sapi diturunkan dari bak truk setelah menempuh perjalanan jauh jangan langsung dikasih minum. Kalau datangnya pagi, sore baru boleh dikasih minum. Kalau datangnya malam, besok pagi baru boleh dikasih minum. Supaya perutnya tidak kembung. Sehari-hari dikasih makan rumput," ujarnya.
Masrani menyebut, sapi ras bali lebih tangguh, tidak gampang sakit. Bahkan, sapi tetap aman dibiarkan dilepasliarkan di lahan kosong dalam kondisi panas dan hujan tanpa atap.
”Panas atau hujan seperti ini, insya Allah sapi tidak apa-apa. Kuat saja pertahanan tubuhnya, asalkan persediaan makannya jangan sampai habis," ujarnya.
Selama menjadi peternak sekaligus pedagang sapi, ia tak mengalami tantangan yang berarti.
”Tidak ada tantangan yang berat. Tahun lalu menyediakan 400 ekor, tahun ini 300 ekor saja. Karena ada kendala pengangkutan antrean kapalnya. Bulan depan juga dekat tahun ajaran baru, orang tua perlu biaya untuk pendidikan anak, sehingga penjualannya standar saja. Tidak menurun, tidak juga mengalami peningkatan," ujarnya.
Masrani juga tak khawatir apabila sapi yang dipesannya tak sepenuhnya laku terjual.
”Inilah kelebihannya peternak lokal yang turun langsung jualan sapi. Kalau tidak habis, sapinya ya dirawat lagi. Kalau pedagang sapi dadakan, biasanya kalau enggak habis, ngobral harga sampai sapinya habis," ujarnya.
Masrani juga menyarankan kepada calon pembeli untuk memastikan langsung kondisi sapi dengan melihat langsung dan pastikan sudah sesuai syariat islam.
”Minimal usia sapi berumur 2,5 tahun dan tidak cacat ataupun sakit. Kalau pun sakit, harus diobati sampai sembuh, sampai sehat dan layak jual. Agar lebih aman, lebih baik mengecek langsung sapi di lokasi penjualan secara langsung," ujarnya
Di Jalan Tjilik Riwut Kota Sampit, sapi asal Madura juga sudah siap dijual Syamsul Bahri, pedagang sapi yang berkecimpung menjadi penjual hewan kurban.
”Sapi sudah datang 10 hari lalu sebanyak 220 ekor. Ada juga sapi limosin yang bobotnya 200-300 kg per ekor. Sudah saya pesan 30 ekor," ujar Syamsul kepada Radar Sampit.
Rencananya, Kamis depan akan datang lagi 82 ekor sapi madura yang dikirim dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya menuju Pelabuhan Sampit.
”Sampai hari ini sudah terjual 190 ekor. Target saya menyediakan 300 ekor lebih. Apabila ada permintaan dari pejabat atau dari perusahaan, kemungkinan bisa saya order lagi 500-1000 ekor dengan syarat pemesanan 10 hari sebelum Lebaran," ujarnya.
Syamsul memprediksi penjualan sapi tahun ini akan mengalami peningkatan dibandingkan tahun lalu.
”Tahun lalu tembus penjualan 240 ekor sapi dan 150 ekor kambing. Tahun ini prediksi ada peningkatan. Saya juga jual di enam titik lokasi yang berbeda supaya mudah masyarakat membelinya," ujarnya.
Adapun harga jual sapi bobot daging bersih 90-95 kg di harga Rp22 juta, sapi dengan bobot 100-110 kg dijual Rp24 juta, sapi dengan bobot 120-130 kg dijual Rp28 juta dan sapi dengan bobot 150-160 kg dijual di kisaran Rp30-35 juta. Sedangkan, kambing menyediakan 150 ekor dengan harga kisaran Rp4-5 juta.
”Harga jual masih sama seperti tahun lalu. Yang naik itu harga ongkos kapal kirimnya. Tahun lalu seekor sapi dikenakan Rp2 juta ini naik menjadi Rp3 juta per ekor," ujarnya.
Dia memastikan sapi Madura yang dijualnya dalam kondisi sehat dan sudah ada barcode di setiap lehernya. Menandakan bahwa sapi sehat dan sudah dikarantina sebelum dikirim.
”Semua sapi yang datang sehat dan harga sapi Madura punya saya ini selain banyak diminati karena dagingnya tidak bau, harganya juga lebih terjangkau. Tidak ngambil untung banyak, yang terpenting laris," ujarnya.
Pengalaman berbeda dialami Daeng, pedagang sapi di Jalan HM Arsyad. Ia memulai usaha menjadi pedagang hewan qurban sejak tahun 2014.
”Saya sudah merantau di Sampit sejak tahun 2002. Dulunya jualan Coto Makassar. Mulai 2014 memberanikan diri jualan hewan kurban," kata Daeng.
Daeng awalnya memiliki saudara seorang peternak sapi asal Kabupaten Bone. Dengan niatan membantu memasarkan sapi, mencoba peruntungan menjadi pedagang sapi di Kota Sampit.
”Berani jual sapi Sulawesi ini sebenarnya niatnya juga ingin bantu masyarakat di Sampit. Dengan memasok sapi Sulawesi bisa menyeimbangkan harga sapi. Kalau tidak, sapi dari Pulau Jawa seperti sapi Madura harganya bisa melambung tinggi," ujarnya.
Daeng membeli sapi peternak Bone dengan bobot 70-150 kg di kisaran harga Rp18-25 juta. Sedangkan, sapi limosin bobot 200-300 kg di harga kisaran Rp25-35 juta.
Dia menjual lagi dengan bobot daging bersih 70-220 kg seharga Rp20-50 juta. Dengan rata-rata keuntungan mulai dari Rp200 ribu-1 juta.
”Keuntungan jual sapi itu tidak selalu untung gede. Seperti tahun lalu lebih banyak jual modal saja. Setiap tahun menjelang Lebaran Iduladha, ada satu atau dua orang yang dibantu, punya nazar ingin berkurban. Sudah cari sana-sini tidak nemu harga yang lebih terjangkau. Dari hati saya juga tidak tega, masa orang mau niat berkurban tidak dibantu. Walaupun tidak ada dapat untung, tapi saya niatkan ibadah bantu orang bernazar. Mudah-mudahan berkah dapat rejeki di lain," ujarnya.
Penjualan sapi dari tahun ke tahun tak menentu. Jika tahun lalu penjualan tembus 500 ekor, tahun ini targetnya hanya menyediakan 200-250 ekor.
”Kendalanya banyak faktor, karena ada utang yang belum terbayarkan, biaya pengiriman membengkak dan proses penerbitan surat izin rekomendasi kirim antar provinsi juga memerlukan waktu cukup lama 2 minggu sampai 20 hari paling lama," ujarnya.
Menggeluti usaha sebagai pedagang hewan kurban juga memiliki tantangan dan risiko yang sangat tinggi. Jika tak kuat iman dan mental, kerugian bisa mencapai ratusan juta apabila hewan tiba-tiba mendadak mati.
”Tahun lalu kerugian sampai Rp400 juta, ditanggung empat rekan kerja sesama pedagang. Ada 21 ekor sapi yang mati. Kendalanya bisa karena perubahan cuaca dan suhu yang berbeda, risiko patah tangan dan kaki hingga mati saat pengiriman di perjalanan," ujarnya.
Untuk menyiasati kerugian, apabila sapi ditemukan drop tidak mau makan karena terlalu sering kehujanan, sapi seharusnya diberikan suntik vitamin seharga Rp50 ribu per ekor.
”Kalau 2-3 jam sudah mati jadi bangkai mau tidak mau harus di buang. Tetapi, kalau badannya drop, dikasih vitamin. Kalau masih tidak mau makan, sapi yang drop mau mati itu disembelih, dagingnya dijual murah yang biasa harga normal Rp150 ribu per kg dipasaran ini hanya bisa laku terjual Rp70 ribu per kg. Mau nyari yang ingin membeli juga bingung mau jual kemana, mau dimakan juga kebanyakan. Mau tidak mau dijual dengan turun harga," ujarnya.
”Tapi menjual daging sapi ini juga sudah dipastikan sapi bukan sakit karena penyakit berbahaya, tapi sapi yang dagingnya masih layak konsumsi. Kalau kakinya patah, di perjalanan, saya biasa sedekahkan ke warga setempat," tambahnya.
Selain memiliki risiko kerugian yang sangat besar, pedagang sapi juga harus merogoh kocek jutaan rupiah untuk mengurus biaya surat rekomendasi layak kirim antarprovinsi dan surat keterangan sehat.
Sebelum sapi dan kambing dikirim, dikarantina dipasang barcode di bagian kuping. Kemudian, pengambilan sampel darah dan pemberian empat jenis vaksin untuk menyatakan hewan kurban sehat.
Daeng lalu melaporkan kedatangan sapi dan kamping ke Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kotim untuk dilakukan pemeriksaan antemortem.
”Biaya surat keterangan sehat, vaksin itu Rp1.250.000 per ekor dan pengiriman kapal Rp2 juta per ekor. Perawatan selama di tempat penampungan di sini dalam sehari Rp1-1,5 juta ini mulai ngasih makan, libatkan 18 pekerja, nyari rumput, ongkos bahan bakar minyak segitu rata-rata. Kalau tidak kuat-kuat iman melatih kesabaran, bisa stress menanggung hutang. Inilah risiko jual sapi dan kambing," ujarnya.
Daeng bersama keempat rekan kerjanya juga meminjam pakai lahan seluas 1 hektare di Jalan HM Arsyad. Lahan itu dibayar Rp3 juta selama kurang lebih sebulan dan biasanya ia kerap memberikan sapi secara cuma-cuma.
”Ini sapi yang sudah ada di lokasi penampungan ada 51 ekor. Kedatangan pertama Kamis minggu lalu 40 ekor, Senin sore besok rencana akan datang lagi 50 ekor, Kamis pekan depan akan datang lagi 80 ekor. Apabila permintaan meningkat, saya bisa order lagi tetapi dengan catatan pemesanan seminggu sebelum Lebaran," ujar Daeng saat ditemui di Pondok Lokasi Penampungan Jalan HM Arsyad, Minggu (18/5) pagi.
Daeng juga menyediakan 20 ekor kambing dengan harga kisaran Rp3-5 juta dengan bobot 25-30 kg dan bobot daging bersih 10-12 kg.
”Saya sebenarnya tidak terlalu berminat menjual kambing karena risikonya tinggi, gampang mati. Karena, kawan sudah memesan jadi tetap jual kambing. Tahun lalu saja ada 8 ekor yang mati, tahun ini sudah 4 ekor mati karena faktor cuaca," ujarnya.
Setiap sapi dan kambing semua dikirim dari Pelabuhan Barru menuju Pelabuhan Batu Licin kemudian dilanjutkan lewat jalur darat menuju Sampit. Daeng pun memastikan semua hewan qurban yang dikirim dipastikan sudah layak sehat.
”Semua sapi dan kambing yang di barcode saya jamin sehat dari bahaya penyakit. Jadi, barcode itu tidak asal tempel di kuping tapi benar-benar setiap sapi sudah diperiksa dan menjalani karantina sebelum dikirim. Ketika ternyata sampai Sampit itu badannya lemas ada ada yg kakinya patah, itu wajar karena sapi menempuh perjalanan jalur laut dan darat cukup jauh dan melelahkan. Mudah-mudahan saja cuacanya mendukung tidak hujan, sehingga fisiknya tetap kuat dan sehat layak jual dan dagingnya layak di konsumsi," ujarnya.
Ambotehe, rekan kerja Daeng juga mengungkapkan pengiriman hewan kurban harus melalui Provinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur, dikarenakan tidak terbuka rekomendasi untuk pengiriman ke Provinsi Kalteng.
”Pengiriman itu dari Pelabuhan Barru tujuan Pelabuhan Batu Licin. Kalau pengiriman dari Pelabuhan Pare Pare tujuannya ke Pelabuhan Balikpapan. Sayangnya, Kalteng tidak menyediakan penerimaan rekomendasi hewan kurban sehingga pengiriman sampai ke Sampit lumayan jauh dan mempengaruhi ongkos kirim ke Sampit," pungkasnya. (hgn/ign)
Editor : Gunawan.