SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Jumlah penduduk di Kabupaten Kotawaringin Timur pada semester II tahun 2024 lalu bertambah sebanyak 11.482 jiwa. Angka itu tergolong besar dalam beberapa tahun terakhir.
”Data itu kami dapatkan pada awal 2025 ini. Biasanya penambahan jumlah penduduk antar semester itu hanya berkisar 2.000 - 3.000 jiwa saja,” kata Kepala Disdukcapil Kotim Agus Tripurna Tangkasiang, Rabu (30/4).
Agus menuturkan, data itu diterima dari Kementerian Dalam Negeri melalui Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Ditjen Dukcapil). Pada Semester I, yakni Januari-Juni 2024, jumlah penduduk di Kotim sebanyak 443.033 jiwa.
Kemudian, pada semester II, Juli - Desember 2024, jumlah penduduk Kotim sebanyak 454.515 jiwa. Artinya, ada penambahan jumlah penduduk sebanyak 11.482 jiwa.
Agus menuturkan, penambahan jumlah penduduk kali ini merupakan paling banyak sejak ia menjabat sebagai Kepala Disdukcapil Kotim 2018. Hal itu dipengaruhi dua faktor, yakni warga yang pindah datang dan angka kelahiran di Kotim.
Warga pindah datang tersebut didominasi perantau dari luar daerah yang mencari pekerjaan di Kotim sehubungan dengan cukup banyaknya perusahaan besar swasta (PBS), baik perkebunan maupun pertambangan.
”Ada juga yang pindah karena alasan tugas, seperti ASN, TNI atau Polri, dan karena mengikuti keluarga, tapi jumlahnya tidak terlalu banyak,” katanya.
Agus melanjutkan, sebagian besar warga pindah datang itu menetap di wilayah utara Kotim. Meliputi Kecamatan Parenggean, Cempaga Hulu, Mentaya Hulu, Bukit Santuai, Telaga Antang, Antang Kalang, dan Telawang.
Seperti diketahui, wilayah utara Kotim terdapat sejumlah PBS yang beroperasi. Latar belakang pekerjaan dari warga pindah datang kebanyakan petani kebun dan karyawan perusahaan.
Sementara itu, berkaitan angka kelahiran yang dimaksud, bukan hanya tentang bayi yang baru lahir dan didaftarkan dalam Kartu Keluarga (KK), tapi juga penduduk Kotim yang baru mendaftar administrasi kependudukannya.
Di sisi lain, masih ada warga Kotim yang belum mendaftar administrasi kependudukan, terutama yang tinggal di wilayah terpencil. Sebab, mereka merasa belum perlu atau tidak memahami pentingnya administrasi kependudukan.
Selain dua faktor tersebut, angka kematian juga memengaruhi pertumbuhan penduduk, tetapi kesadaran masyarakat melapor ketika ada keluarganya yang meninggal masih kurang. ”Padahal, hal itu penting untuk pemutakhiran data kependudukan,” tegas Agus. (ang/ign)
Editor : Slamet Harmoko