Radarsampit.jawapos.com – Ternyata ada beberapa negara yang punya "jalur cepat" untuk ibadah haji. Salah satunya negara-negara dengan muslim minoritas. Kenapa bisa begitu?
Pertama, kita perlu paham dulu sistem kuota haji. Kuota ini dihitung berdasarkan jumlah penduduk muslim di setiap negara.
Rumusnya, yaitu 1 kursi haji per 1.000 penduduk muslim.
Di negara mayoritas muslim seperti Indonesia, Pakistan, atau Bangladesh, jumlah pendaftar haji selalu membeludak.
Wajar saja, dengan penduduk muslim yang banyak, antriannya bisa sampai belasan bahkan puluhan tahun.
Namun, beda cerita dengan negara minoritas muslim.
Ambil contoh Thailand. Dengan penduduk muslim sekitar 5% dari total populasi, antrean hajinya jauh lebih singkat.
Bahkan, kadang kuota yang dikasih Arab Saudi tidak terisi penuh.
Sama halnya dengan negara-negara Eropa atau Amerika. Belanda misalnya, dengan muslim cuma 5% dari populasi, hampir gak ada antrean sama sekali. Daftar tahun ini, bisa berangkat tahun depan.
Di Jepang lebih ekstrem lagi. Dengan populasi muslim kurang dari 1%, mereka bahkan kadang kesulitan mengisi kuota.
Jadi, kalau ada muslim Jepang yang mau naik haji, prosesnya bisa super cepat.
Tapi ini bukan berarti sistem kuota haji tidak adil . Ini justru bentuk keadilan dari sisi proporsi.
Bayangkan, kalau semua negara dapat kuota sama rata. Negara besar dengan ratusan juta muslim dapat kuota sama dengan negara yang muslimnya cuma puluhan ribu. Tidak masuk akal bukan?
Arab Saudi sendiri punya alasan kuat mengapa pakai sistem proporsi ini.
Selain soal keadilan distribusi, ini juga terkait kapasitas tampung Mekah dan Madinah,yang tidak mungkin menampung semua jemaah dalam waktu bersamaan. (sbn)
REFERENSI: Devan Alhoni Quora, statista, seasia.co
Editor : Gunawan.