PANGKALAN BUN, radarsampit.jawapos.com - Pihak Kelurahan Mendawai Seberang, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) terus melakukan penyelidikan terhadap oknum pembuang bangkai sapi diwilayahnya.
Selain berkoordinasi dengan Dinas Pertanian Kobar, mereka juga meminta informasi melalui Balai Karantina untuk melacak pemilik atau pihak yang membuang bangkai sapi tersebut.
Meskipun telah mengantongi bukti berupa barcode yang ada di telinga sapi, namun penyelidikan yang dilakukan mengalami jalan buntu. Karantina mengaku bahwa persoalan tersebut bukan menjadi ranah mereka dan harusnya menjadi kewenangan pemerintah Kabupaten Kobar.
Padahal, pejabat karantina setempat harusnya mengetahui dari mana asal usul hewan berdasarkan barcode yang ada, karena pastinya seluruh dokumen masuk hewan ternak ke suatu wilayah dan fisik ternak sudah melalui pemeriksaan karantina.
Kasi Trantib Kelurahan Mendawai Seberang, Dinar Arbara mengatakan, mereka telah berusaha untuk mencari tahu asal sapi berdasarkan barcode yang mereka dapatkan di telinga bangkai sapi.
"Kami juga telah meminta Dinas Pertanian untuk mencari tahu dari mana asal sapi tersebut, tetapi belum berhasil terlacak hingga saat ini," bebernya, Selasa (11/2).
Menurutnya, mereka berusaha mencari solusi terhadap persoalan pembuangan bangkai sapi tersebut, namun instansi yang seharusnya mengetahui lalulintas hewan yang masuk dan keluar dari wilayah Kobar saling lempar tanggung jawab.
Lanjut dia, Balai Karantina menegaskan bahwa permintaan informasi terhadap asal usul sapi berdasarkan barcode tersebut ke mereka adalah salah alamat. Karantina justru mengatakan hal itu menjadi tanggung jawab pemerintah daerah setempat.
Ditegaskannya, untuk menguburkan 2 bangkai sapi yang sudah dalam kondisi membengkak besar, bukan perkara yang mudah, kalau dilakukan dengan cara manual tidak akan sanggup memindahkan bangkai tersebut.
Awalnya mereka berencana akan menggunakan alat berat (ekskavator) namun unitnya hingga saat ini belum tersedia. Dan cara termudah adalah hanya dengan menimbun bangkai sapi itu dengan tanah.
"Kami berusaha untuk mencari solusi tapi dilempar kesana kesini, besok kami timbun sapinya harusnya sore ini tapi kuatir hujan turun, rencana 3 dam tanah akan ditimbunkan ke sapi yang sudah membusuk tersebut," tegasnya.
Warga Pangkalan Bun, Romy mengeluhkan lambannya pemerintah daerah terutama petugas Dinas kesehatan hewan mensikapi penanganan (penguburan) bangkai sapi yang dibuang di tepi jalan Kolam.
Mengingat bau bangkai sapi sudah mulai keluar dan menganggu indera penciuman masyarakat sekitar dan pengguna jalan raya.
"Baunya sudah keluar dari bangkai tersebut, tadi bangkainya masih ada dan sudah membesar karena bengkak, kalau sampai esok belum dikubur maka bangkai bisa meledak dan justru membuat sulit evakuasi bangkai tersebut," tandasnya. (tyo/sla)
Editor : Slamet Harmoko