PALANGKA RAYA,radarsampit.jawapos.com - Tim Damkar Kota Palangka Raya dibantu tim dari Polsek Pahandut, satpol PP dan Dinas Sosial, kembali mengamankan satu Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) bernama Wiranto. Sebelumnya pria bertato yang mengaku asal Desa Tuyun Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah itu mengamuk di sekitar Pasar Besar Palangka Raya.
Koordinator tim Damkar Palangka Raya Sucipto mengatakan, Wiranto merupakan ODGJ yang beringas dan sangat meresahkan masyarakat dan membuat onar, mengganggu perniagaan, sehingga oleh petugas dibantu warga ia diamankan.
Diungkapkannya, sebenarnya ODGJ tersebut tidak memiliki identitas, hanya mengaku bernama Wiranto dan timnya sudah kesekian kalinya mengevakuasi ODGJ ini ke Rumah Sakit Kalawa Atei. Namun pihaknya tidak mengetahui bagaimana ia bisa kembali berkeliaran.
“Ini bisa membahayakan dan tidak tahu kenapa bisa berada di Palangka Raya. Kita sudah beberapa kali menangani hal ini,” ujar Sucipto, Selasa (28/1).
Diungkapkannya pula, saat ditangkap kali ini Wiranto kembali berbicara tidak menyambung, dan minta diantarkan ke Bukit Batu dan ingin bertapa di sana. Namun ODGJ ini kembali dievakuasi ke rumah sakit jiwa Kalawa Atei.
Saat ini sudah dirawat. Maka itu ada kecurigaan saya ini sengaja di lepas keluarganya di Kota Palangka Raya, sebab dalam dua hari ini hampir sama kasusnya tidak ada identitas sama sekali, tidak memakai baju. Kalau ditanya ngapain di pasar dijawab dalam bahasa daerah, ingin minta uang,” beber Sucipto.
Ia menegaskan, bahwa ODGJ harus ada pendampingan keluarga, sebab keluarga memainkan peran yang sangat penting dalam memberikan dukungan bagi ODGJ. Menurutnya pendidikan dan pelatihan bagi keluarga tentang cara merawat dan mendukung ODGJ di rumah sangat membantu.
Selain itu lanjut Sucipto, mengurangi stigma terhadap ODGJ di masyarakat adalah langkah penting agar mereka dapat diterima dan diberikan perawatan yang layak. Hal penting adalah rujukan ke fasilitas kesehatan, terutama jika gangguan jiwa tersebut sudah memengaruhi kualitas hidup secara signifikan.
“Setiap individu dengan gangguan jiwa itu unik, sehingga penanganannya harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Sama-sama kita antisipasi gangguan tersebut dengan cara selalu dekat dengan Tuhan,”pungkasnya. (daq/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama