SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), mengimbau masyarakat agar tidak memberi makan buaya yang kerap muncul di kawasan Sungai Mentawa, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.
Hal tersebut dinilai dapat mengubah perilaku alami satwa liar tersebut dan meningkatkan risiko konflik antara manusia dan buaya.
”Jika buaya terus diberi makan oleh warga, perilaku alaminya sebagai predator akan berubah. Buaya akan terbiasa mendekati manusia dan tidak lagi takut dengan kerumunan," ujar Komandan BKSDA Resort Sampit, Muriansyah.
Imbauan ini muncul setelah buaya dengan panjang sekitar 1,5 meter terlihat di Sungai Mentawa pada Rabu malam. Dalam video berdurasi 49 detik yang diabadikan warga, terlihat beberapa orang memberi makan buaya tersebut, seolah satwa itu merupakan hiburan.
Muriansyah menegaskan, kebiasaan memberi makan buaya dapat membentuk pola perilaku baru pada satwa tersebut.
Buaya yang terbiasa diberi makan oleh manusia akan betah tinggal di sekitar permukiman, karena merasa mudah mendapatkan makanan. Bahkan, buaya bisa menjadi tidak takut dan cenderung mendekati manusia.
”Buaya akan terus datang selama kebiasaan ini tidak dihentikan. Meski kami berhasil menangkap buaya ini, buaya lain akan kembali jika pola ini tetap terjadi," kata Muriansyah.
Kemunculan buaya di Sungai Mentawa bukanlah hal baru. Pada 2023, BKSDA telah berupaya menangkap buaya di lokasi yang sama dengan memasang jerat dan spanduk peringatan, namun upaya tersebut tidak membuahkan hasil.
Hal serupa kembali terjadi pada 2024, meskipun kali ini melibatkan tim gabungan seperti BKSDA, BPBD, Babinsa, dan komunitas pecinta reptil.
Diduga buaya tersebut berasal dari Sungai Mentaya yang masuk ke anak sungai, yakni Sungai Mentawa, untuk mencari makan. Faktor lain yang menarik buaya ke lokasi ini adalah kebiasaan warga memelihara unggas di sekitar sungai dan membuang sampah ke perairan.
”Kami menduga buaya yang muncul kali ini berbeda dengan tahun sebelumnya, karena ukurannya tetap sekitar 1,5 meter. Logikanya, buaya tahun lalu seharusnya sudah tumbuh lebih besar," tambah Muriansyah.
BKSDA Resort Sampit kini kembali merencanakan upaya penangkapan buaya menggunakan metode jerat. Dengan kemunculan buaya yang lebih sering dilaporkan warga, Muriansyah berharap langkah kali ini dapat berhasil.
”Kami akan terus berusaha menangkap buaya ini. Namun, kami juga berharap masyarakat bisa lebih peduli untuk tidak memberi makan buaya atau melakukan hal-hal yang dapat menarik satwa liar ke pemukiman," katanya.
BKSDA sebelumnya mengevakuasi buaya muara yang berkeliaran di Sungai Mentawa tersebut. Setelah ditangkap, predator itu langsung diikat dan matanya ditutup menggunakan kain basah, kemudian dibawa ke bak mobil BKSDA.
Meski terkenal sebagai hewan buas, kemunculan buaya tersebut tidak membuat warga setempat takut. Beberapa warga bahkan terlihat memberi makan buaya dengan ketupat dan usus ayam karena menganggap satwa itu kelaparan.
”Respons warga biasa saja, malah buaya itu dikasih makan. Mungkin karena mereka kasihan dan sudah lama tahu kalau ada buaya di sungai ini," ujar Jamiaat, salah satu warga setempat.
Kendati demikian, warga telah berhenti beraktivitas langsung di sungai. Termasuk melarang anak-anak berenang, demi mencegah risiko serangan buaya. (yn/ang/ign)
Editor : Slamet Harmoko