SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Tenggelamnya Kapal Wisata Susur Sungai Mentaya milik Pemkab Kotim di Dermaga Habaring Hurung, Sampit, Selasa (21/1) dini hari, dinilai sebagai keteledoran dalam menjaga dan memelihara aset daerah.
Kapal itu harusnya tak tenggelam, mengingat masalah kebocoran sudah lama terjadi.
”Kami menyayangkan peristiwa tenggelamnya Kapal Wisata Susur Sungai yang dikelola Dinas Pariwisata. Tentunya ini menjadi preseden buruk bagi pengelolaan aset pariwisata di daerah kita,” kata Sekretaris Komisi III DPRD Kotim Riskon Fabiansyah, Selasa (21/1).
Menurutnya, hal itu menjadi salah satu barometer kurang optimalnya pengelolaan, pemeliharaan, dan pemanfaatan aset parwisata milik daerah.
”Padahal, yang kami ketahui, untuk aset tersebut reguler setiap tahun dianggarkan pemeliharaannya. Kami melihat kapal wisata itu letaknya tidak jauh dari perkotaan, tapi pengelolaannya kurang optimal," katanya.
Pihaknya di Komisi III menyarankan SOPD terkait agar mengevaluasi pemeliharaan aset parwisata serta pengelolaannya.
Selain itu, mempertimbangkan agar aset tersebut diserahkan kepada desa melalui BUMDes jika dirasa berat mengelolanya.
Dengan demikian, bisa mendatangkan pendapatan asli daerah, agar tidak ada aset yang mubazir.
”Kita ambil contoh aset di Pantai Wisata Ujung Pandaran di Kecamatan Teluk Sampit yang menelan anggaran tidak sedikit. Hampir kurang lebih Rp40 miliar, tapi sampai saat ini belum operasional dengan berbagai macam alasan, sehingga belum mendatangkan manfaat untuk daerah kita," katanya.
Kapal Sering Bocor
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kotim Bima Ekawardhana mengatakan, kapal yang telah berusia hampir 20 tahun itu sebelumnya sudah sering mengalami kebocoran.
Meski telah dilakukan upaya penambalan dan pengurasan rutin menggunakan mesin pompa air, kebocoran terus terjadi hingga akhirnya kapal tenggelam.
”Kapal ini sudah lama tidak beroperasi dan kebocoran sudah terjadi sejak beberapa waktu lalu. Sayangnya, pada malam kejadian, petugas tidak berada di kapal, sehingga tidak ada yang mengetahui air masuk perlahan-lahan hingga kapal tenggelam,” ujar Bima.
Kapal wisata yang merupakan salah satu aset Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kotim itu tenggelam sekitar pukul 02.00 WIB.
Saat ditemukan, sebagian besar badan kapal sudah berada di bawah air, menyisakan hanya bagian atap yang terlihat di permukaan.
Bima mengungkapkan, langkah berikutnya adalah mengevakuasi kapal ke bengkel perbaikan kapal di Seranau.
Namun, perbaikan akan dilakukan setelah tim ahli menilai tingkat kerusakan dan kelayakan kapal.
”Kami akan segera mengangkat kapal ini dan membawanya untuk diperiksa lebih lanjut. Jika masih layak diperbaiki, kebocoran akan ditambal dan bagian lain yang rusak akan diperbaiki. Namun, jika tidak layak, kemungkinan kapal ini tidak akan difungsikan kembali,” jelasnya.
Kapal wisata itu sebelumnya digunakan sebagai fasilitas wisata susur sungai bagi masyarakat maupun wisatawan yang ingin menikmati keindahan Sungai Mentaya. Menjadi salah satu ikon wisata lokal yang dikelola pemerintah daerah.
Meski insiden itu menjadi pukulan bagi sektor pariwisata lokal, Bima berharap kapal dapat diperbaiki dan kembali digunakan.
”Kapal ini sangat bermanfaat untuk pariwisata, khususnya wisata susur sungai. Kami akan berusaha semaksimal mungkin agar kapal ini bisa difungsikan kembali. Tentunya setelah mendapat penilaian dari tenaga ahli terkait kelayakannya,” katanya. (ang/yn/ign)
Editor : Slamet Harmoko