PANGKALAN BUN, radarsampit.jawapos.com - Pembudidaya sarang burung walet di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) menjerit. Harga sarang burung walet yang harganya mencapai belasan juta per kilogram, kini turun drastis.
Merosotnya harga sarang burung walet sudah terjadi sejak pertengahan 2024 silam, dan hingga saat ini tidak kunjung membaik. Kondisi tersebut membuat pembudidaya frustasi.
Jatuhnya harga sarang walet terjadi lantaran adanya penutupan pasar ekspor ke China yang merupakan pasar terbesar sarang burung walet.
Kondisi tersebut diperparah dengan menghilangnya burung walet yang masuk ke rumah budidaya.
Para pembudidaya walet banyak yang sudah terancam gulung tikar akibat dampak penutupan ekspor ke Negeri Tirai Bambu tersebut.
Pemilik budidaya walet di Kelurahan Raja Seberang, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat, Mario menyampaikan bahwa penutupan ekspor ke China yang merupakan negara terbesar konsumen sarang burung walet berdampak signifikan bagi kelangsungan usaha mereka.
"Kalau dipaksakan akan terus merugi, mungkin bisa saya tutup sementara waktu sembari menunggu harga bagus, selain itu sekarang potensi burung walet juga berkurang drastis," ungkapnya, Minggu (18/1).
Ia menyebut, saat ini harga sarang burung walet grade A hanya berada di kisaran Rp3 juta, padahal saat normal dahulu harganya mencapai Rp12 juta per kilogram.
Sementara itu, Pemilik Budidaya Walet di RT 03, Desa Bumi Harjo, Kecamatan Kumai, Sumar, menyampaikan bahwa sejak pandemi Covid-19 harga sarang walet mulai mengalami penurunan, dan diperparah dengan penutupan ekspor ke China.
Diakuinya penurunan harga tidak sekaligus tetapi bertahap, selain harga anjlok mereka dihadapkan pada persoalan banyak rumah walet yang tidak terisi.
"Sejak Covid mulai turun dari harga Rp12 juta, turun Rp10 juta, kemudian Rp8 juta, terus turun sampai sekarang terakhir saya jual kemarin Rp 4 juta yang grade A. Selain harga anjlok, juga banyak yang tidak terisi karena burung bermigrasi atau kabur," pungkasnya. (tyo/yit)
Editor : Slamet Harmoko