SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Persoalan sampah di Sampit menjadi tantangan besar yang harus diatasi.
Setiap harinya, puluhan truk sampah masuk ke tempat pembuangan akhir (TPA) seluas 12,5 hektare. Kondisi ini membuat TPA hampir over load.
Plt Kepala DLH Kotim yang diwakili oleh Kepala Bidang Tata Lingkungan Endah Prihatin mengatakan bahwa yang terjadi saat ini, pihaknya belum mampu melakukan upaya yang signifikan untuk mengatasi sampah.
"Sampah ada di mana-mana, penumpukan sampah di depo atau TPS belum maksimal tertangani. Jauh dari kesadaran kita untuk memanfaatkan atau mengelola sampah. Untuk urusan membuang sampah dengan benar saja, kita masih harus berupaya dengan keras untuk melakukannya. Dan lebih parahnya lagi, sungai dianggap menjadi bak sampah alami," ungkapnya.
Kondisi ini semakin diperberat dengan target pemerintah pusat yang menghendaki tidak ada lagi pembangunan TPA sebagai upaya mengurangi emisi karbon dari sumber sampah.
"Pun jika akan dibangun, penyediaan TPA akan terkendala dengan lahan yang sangat terbatas," jelasnya.
Dirinya menekankan pentingnya perubahan paradigma dalam mengelola sampah. Idealnya, sampah dan limbah tidak langsung dibuang begitu saja, tetapi juga perlu dipilah dan diolah lebih lanjut agar nilai guna dari sampah itu terus berlanjut.
Sehingga, beban lingkungan yang disebabkan oleh sampah dapat ditekan lebih kecil lagi.
"Paradigma pengelolaan sampah yang bertumpu pada pendekatan akhir sudah saatnya ditinggalkan dan diganti dengan paradigma baru, paradigma yang menganggap sampah sebagai sumber daya yang memiliki nilai ekonomis," terangnya.
Oleh karena itu, perlu mengoptimalkan pengelolaan sampah yang melibatkan berbagai pihak.
Hal ini membutuhkan kerja sama dari kalangan masyarakat, pemerintah, dan juga sektor privat, badan usaha untuk turut berpartisipasi dalam menumbuhkan peran serta masyarakat untuk mengoptimalkan pengurangan, pemilahan, dan pengolahan sampah. (yn/yit)
Editor : Slamet Harmoko