Radarsampit.jawapos.com - Hujan deras mengguyur Kota Sampit Jumat (1/11) malam. Lomba tari Dayak pun molor dari jadwal, menunggu hujan reda. Padahal, 10 tim yang akan tampil sudah siap dari sore hari.
Hujan turun pada pukul 19.00-20.30 WIB, area Radar Sampit Food Festival pun tanpa suara musik.
Setelah hujan reda, lomba tarian Dayak baru dimulai pukul 21.00 hingga pukul 23.00. Setiap tim peserta tari yang tampil selalu mendapatkan sorakan riuh penonton sambil mengabadikan momen video menggunakan handphone.
Semua peserta tampil maksimal, meski panggung acara basah dan licin. Salah satunya, tim peserta nomor urut 11 mendapatkan sorakan tanpa henti.
Semua mata tertuju pada 7 penari. Gerakan lincah dan kompak serta cerita legenda yang menarik menjadi daya tarik pengunjung.
Wais Wilian (24) penari dari tim peserta nomor 11 berasal dari Sanggar Indang Nyaho. Mereka tampil membawakan tema mitos legenda, seorang tokoh Dayak bernama Ngabe Anoem Soekah yang diperankan Aprin.
"Ngabe Anoem ini sosok prajurit yang ikut berperang melawan penjajah Belanda. Kami mengangkat kisah ini dalam tarian Dayak karena, kami merasa ceritanya sesuai dengan tema yang ditentukan panitia yaitu mitos dan legenda," ujar Wais saat diwawancara usai tampil di halaman Kantor Radar Sampit, Jumat (1/11) malam.
Ngabe ini sosok prajurit yang dikenal dengan pasukan hantu karena bisa menyerang secara senyap dan mematikan.
Adapula tokoh Sikerei atau dukun yang menyembuhkan para prajurit yang tertembak dalam berperang melawan penjajah. Tokoh sirei ini diperankan tiga penari perempuan.
Di pertengahan pertunjukan tari, juga ada atraksi menggunakan media api sebagai lambang semangat melawan penjajah.
"Ini ide garapan baru dan belum pernah diangkat di Kota Sampit dan belum pernah ditampilkan dalam tari manapun," ucap Wais yang juga menjadi pelatih tari di SMAN 2 Sampit.
Wais mengaku lomba tarian Dayak di Food Festival Radar Sampit menjadi awal baginya memulai kembali tampil di hadapan publik.
"Saya tampil tahun 2019 dan dalam lomba ini saya juga ikut tampil sebagai pemain tari," kata penari yang sudah memulai tari sejak tahun 2018.
Wais dari penari lainnya juga sudah melakukan persiapan selama kurang lebih sebulan.
"Lomba ini kan sudah lama dikabari, jadi selama sebulan kami persiapan latihan. Tadi tampil setelah hujan reda, jadi agak mempengaruhi peforma kami, karena halaman licin dan panggung tarinya sempit. Tapi kami tetap berusaha tampil maksimal," ujarnya.
Radar Sampit sempat memprediksi Tim Nomor 11 ini akan masuk tiga besar. Tak disangka juri mengumumkan Tim Nomor 11 meraih juara 1.
"Saya tidak tahu apakah mendapatkan juara atau tidak. Tapi, untuk masuk tiga besar sepertinya memungkinkan," ucapnya penuh percaya diri sebelum nama pemenang diumumkan oleh ketiga juri.
Santo, Juri Tarian Dayak, mengevaluasi peserta tari harus mampu mempertanggungjawabkan cerita legenda agar tidak menimbulkan ketersinggungan.
"Ini jadi catatan saya, ada peserta tari menyebut Basir itu bancir. Atau menyebut Basir itu dukun, padahal Basir itu rohaniawan di agama Hindu Kaharingan, bukan bancir. Harapan saya, penata tarinya perlu mencari narasumber yang akurat," ujarnya seraya tetap mendukung peserta tari untuk tetap bekarua menuangkan ide dan gagasannya.
"Kalah menang itu biasa dalam perlombaan. Terus berlatih dan jangan pantang menyerah. Tetap semangat bagi penari," kata Yuni Pratiwi yang juga Juri Tarian Dayak.
Dodi Eka juri lomba tarian Dayak juga menyampaikan beberapa evaluasi kepada peserta sebelum mengumumkan nama pemenang.
"Sesuai tema mitos dan legenda. Tujuh grup peserta tari ini lebih tampil ke arah kreasi. Jadi, perlu saya garis bawahi kalau tema sudah ditentukan mitos dan legenda," kata Dodi penari senior yang sering melatih tarian Dayak di Kota Sampit.
Menurutnya, penampilan penari dari ide cerita, kostum harus selaras, sehingga tarian yang dipertunjukkan menciptakan harmonisasi yang bagus.
"Saya lihat ada yang menyebutnya cerita legenda, cuma garapannya tarian kreasi. Sinopsis banyak bercerita secara gamblang. Sinopsis hanya menggambar oleh penata tari. Sangat disayangkan padahal penarinya bagus," katanya.
Ia juga mengingatkan kepada penari agar tidak berhitung saat menari dan ia juga mengevaluasi busana yang tak sesuai.
"Sudah sering saya ingatkan jangan berhitung saat menari. Saya juga lihat penampilan penari yang karet roknya melorot. Maka sebelum tampil dicoba dulu, karena itu sangat mengurangi nilai estetika," ujarnya.
Begitu pula yang menggunakan garanuhing di kaki sangat mengganggu dalam penilaian.
"Kalau hentakan kakinya sesuai dengan musiknya itu bagus, tapi kalau hentakannya tidak pas, hitungan musiknya tidak sesuai gerakannya juga mempengaruhi dan sangat mengganggu dalam penilaian," ujarnya.
Dodi juga mengkritik beberapa penampilan peserta tari yang terlalu heboh. "Boleh saja cetar membahana tapi harus disesuaikan dengan tema tarian. Tema legenda tidak perlu make up terlalu heboh. Ada grup tari yang kostumnya tidak mengimplementasikan atau tidak nyambung dengan cerita legenda yang dibawakan," ujarnya.
Sebelum mengumumkan nama pemenang, Dodi menyampaikan perbedaan juara 1 dan juara 2 dua yang mencolok ada di penari perempuan yang banyak lupa gerakan.
"Walaupun cuma persiapan satu minggu mohon penata tari tolong dilatih lagi. Disiplin geraknya masih ada yang kurang kompak," ujarnya.
Dodi mengumumkan juara 1 grup peserta tari 11 dengan perolehan nilai 1.079 dari Sanggar Tari Indang Nyaho. Juara kedua dengan perolehan nilai 1.036 grup peserta tari 12 dari SBB Tampung Karuhai Sampit dan juara 3 dimenangkan grup peserta tari nomor 4 dari Sanggar Penyang Sangkalemu dengan perolehan nilai 1.015.
Selepas acara, peserta dan pengunjung juga masih tetap astik menikmati 33 stan jajanan kuliner yang dipersiapkan seperti Pawon Gudeg Bu Cip Wengga, Mie Getcuan, Dapoer Mama Icha, Pempek dan Tekwan, Ada Steak 28, Twins Food, De Opis, Bakso Beranak, Darelia Kitchen, Summer Ricebowl, Nona Foodies, At & Qy, Kedai Alwi, Roti Kukus Sekawan, ASR.
Adapula jajanan ringan seperti Daebak Cake, Fantastic Fries, Risol Gemoy, Ririsol, Bakoel Sosis Bude Tika, Wekha Snack and Food, Pangdas Ginon Pangsit Pedas dan Jasuke, Ini Dimsum, Ayam Gunting Rumah Arra, Chic Cutt Chicken Cutting.
Serta aneka minuman menyegarkan tenggorokan seperti Es Teh Poci Abilia, Es Teh Solo, Es Centong Dera Elisya, Es Teh Candu, Kopte Tarik, Rumah Ice Cream, Asinan Buah Kartika dan By U.
Ketua Panitia Penyelenggara Food Festival Radar Sampit Brima Putra mengatakan event ini digelar selama delapan hari mulai 27 Oktober-3 November 2024.
"Setiap harinya selama delapan hari berturut-turut, panitia akan menghibur pengunjung dengan rangkaian event seru," kata Brima Putra Ketua Panitia Penyelenggara Food Festival.
Pada malam pembukaan, Minggu (27/10) ada penampilan Band Master Piece. Hari kedua, Senin (28/10) malam, ada event Body Contest dan Turnamen Mobile Legend yang diikuti 32 team.
Di hari ketiga, Selasa (29/10) malam, juga ada event Back to Culture BBOY Battle 1 On 1 dan Dance Cover Mix Category Duo.
Di hari keempat, Rabu (30/10) ada event Senam Zumba Party yang diikuti sekitar 150 peserta dan jam 19.00 juga ada event Night Fun Run.
Di hari kelima, Kamis (31/10) lomba Fashion Show dan di hari keenam Jumat (1/11) ada Tarian Dayak. Hari ketujuh, Sabtu (2/11) ada penampilan band musik yang menghibur pengunjung sambil menikmati malam minggu.
Pada hari terakhir, Minggu 3 November 2024 pukul 15.30 WIB juga ada event Pound Fit bersama Dessy Aqila. "Semua perlombaan ini merupakan rangkaian event Food Festival Radar Sampit yang kami harapkan dapat menjadi wadah bagi para pelaku UMKM untuk mempromosikan produknya dan peserta yang hadir dapat menunjukkan bakat dan kreativitasnya," tandasnya. (hgn/yit)
Editor : Slamet Harmoko