RADAR SAMPIT - Bagi pecinta hidroponik yang ingin menanam melon, semangka, stroberi, cabai, tomat, paprika, atau mentimun, bisa mencoba dengan dutch bucket system (DBS).
Metode ini menyirkulasikan air nustrisi terus-menerus atau waktu tertentu menggunakan listrik dan pompa ke dalam media tanam.
Media tanam yang bisa digunakan pada dutch bucket antara lain hidroton, batu apung, sekam bakar, pecahan bata, dan arang.
Kebun hidroponik di markas Direktorat Polairud Polda Kalteng dan kebun hidroponik Mirsa Farma milik Amir menjadi dua contoh yang menerapkan dutch bucket.
Pengelola kebun hidroponik Direktorat Polairud Nurcahyo mengatakan, ada beberapa metode yang diterapkan di kebun Polairud, yakni NFT dan dutch bucket.
NFT digunakan untuk menanam selada dan sawi sawian. Sedangkan dutch bucket untuk menanam melon.
Nurcahyo menjelaskan, komponen penting pada dutch bucket adalah ember yang berfungsi sebagai wadah media tanam.
Pada bagian bawah bucket tersebut terdapat lubang outlet yang letaknya sedikit lebih tinggi dari dasar bucket. Lubang outlet terhubung dengan pipa menuju tandon.
”Lubang outlet tersebut berfungsi untuk menjaga agar larutan nutrisi tersedia dalam batas tertentu sehingga tanaman selalu mendapat pasokan nutrisi dan air,” terang Nurcahyo yang juga Bendahara Petani Hidroponik Sampit.
Kemudian, pipa inlet merupakan pipa untuk mengalirkan larutan nutrisi ke media tanam. Pipa inlet terhubung langsung dengan pompa yang berada pada tandon nutrisi.
Air nutrisi dari pipa inlet dialirkan ke media tanam melalui selang HDPE ukuran kecil. Biasanya selang ini berukuran 5 milimeter atau 7 milimeter.
Pipa outlet merupakan pipa yang terhubung dengan lubang di bawah bucket dan berfungsi untuk mengembalikan larutan nutrisi ke tandon.
Jika larutan nutrisi pada media tanam dalam bucket sudah melampaui ambang tetentu, maka kelebihan larutan nurtrisi tersebut secara otomatis akan kembali ke tandon.
Owner Mirsa Farm Amir menambahkan, dutch bucket system bisa diaplikasikan baik skala kecil (hobi) maupun skala besar (skala budidaya).
Sederhana dan relatif murah karena bisa dibuat dengan barang-barang bekas dan peralatan seadanya.
Tanaman lebih subur dan produktif, karena adanya sirkulasi air dan nutrisi yang memungkinkan terdapat lebih banyak oksigen pada larutan nutrisi tersebut. (yit)
Editor : Slamet Harmoko