RADAR SAMPIT - Metode hidroponik terus berkembang, salah satunya adalah sistem rakit apung.
Metode ini sempat ngetren di Sampit karena memiliki pertumbuhan yang cepat dan tetap aman saat mati listrik.
Sistem rakit apung ini mirip dengan sistem wick. Perbedaannya terletak pada penggunaan styrofoam yang mengapung di atas air sebagai tempat menanam tanaman.
Sistem jenis hidroponik ini seperti tanaman eceng gondok atau teratai yang tumbuh di atas permukaan air.
Akar tanaman akan menyerap air dan nutrisi yang tersedia dalam bak penampung sehingga kebutuhan air dan nutrisi selalu terpenuhi.
Alat dan bahan yang dibutuhkan untuk membuat rakit apung hanya bak penampungan nutrisi, styrofoam, rockwool, net pot, dan aerator.
Aerator berfungsi meningkatkan kadar oksigen terlarut dalam air.
Perawatan dilakukan dengan cara membersihkan bak penampung, membersihkan styrofoam, serta sering mengecek kondisi nutrisi agar pH tetap terjaga di kisaran 5,5 sampai 6,5.
Kelebihan sistem ini adalah pertumbuhan tanaman lebih cepat. Kondisi suhu air juga lebih stabil karena tertutup styrofoam sehingga idak terpapar matahari.
Saat listrik mati, tanaman juga tidak mengalami dehidrasi. Bahkan sistem ini lebih aman dari DFT karena akar tanaman langsung menyerap air yang berlimpah dari bak penampung.
Sementara DFT hanya mengandalkan air yang tersisa di dalam pipa.
Namun jika tidak disuplai listrik berhari hari, akan berpengaruh pada perakaran tanaman karena kadar oksigen terlarut dalam air akan berkurang. Matinya aerator terlalu lama menyebabkan terjadinya busuk akar.
Baca Juga: Dengan Sistem DFT, Tanaman Hidroponik Tetap Aman Meski Listrik Sering Padam
Sistem rakit apung juga memiliki beberapa kelemahan, diantaranya instalasi harus dibangun di dalam greenhouse.
Jika dibangun di ruang terbuka, maka air hujan akan masuk ke bak penampungan nutrisi hingga luber sehingga kandungan nutrisi akan berubah. Membangun greenhouse cukup menguras dompet.
Sedangkan sistem lain seperti NFT dan DFT bisa tanpa greenhouse dengan menyiasati buka tutup kran tandon saat hujan.
”Saya pernah menerapkan rakit apung. Sudah tanam meski greenhouse belum jadi 100 persen. Waktu itu hujan deras dan atap UV belum dipasang, air hujan masuk semua sampai luber. Ya harus set up ulang nutrisi lagi, boros nutrisi jadinya,” ujar Suryaningsih, owner Surya Hidroponik di Jalan Antang Barat Sampit.
Kelemahan lainnya adalah instalasi tidak bisa disusun secara vertikal seperti halnya sistem NFT atau DFT, sehingga memerlukan lahan yang lebih luas.
Persoalan yang paling sulit dari sistem rakit apung adalah sterilisasi styrofoam sebagai media mengapung tanaman.
Styrofoam memiliki rongga-rongga sehingga pembersihan tidak bisa 100 persen tuntas. Saat terkena penyakit juga lebih cepat menyebar karena instalasi cenderung lembab.
Styrofoam juga tidak tahan lama sehingga perlu peremajaan setiap tahun.
Hal yang perlu diperhatikan dalam membuat rakit apung adalah konstruksi meja yang menjadi penyangga bak air harus kuat, karena beban air sangat berat.
Kecuali rakit apung jongkok atau lesehan yang tidak menggunakan meja. Penerapan rakit apung jongkok wajib memperhatikan lokasi.
Lahan sering banjir atau tidak? Kalau dibangun di lahan yang sering kebanjiran, instalasi bisa tenggelam.
Banyaknya kelemahan ini membuat sejumlah pegiat hidroponik di Sampit mengganti instalasi rakit apung menjadi DFT. Contohnya Susilo Adi, Gatot Pratama, Teguh, dan Suryaningsih yang meninggalkan rakit apung.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah selalu mengganti air nutrisi di bak penampungan. Para petani hidroponik di Sampit tidak memiliki standar baku dalam mengganti air. Ada yang setiap satu kali panen.
Ada yang baru diganti setelah dua atau tiga kali panen. Biasanya kondisi pertumbuhan tanaman tidak akan maksimal jika air terlalu lama tidak diganti. (yit)
Editor : Slamet Harmoko