Hidayah datang bisa kapan saja. Entah tua maupun muda bisa mengalami gejolak batin yang mampu mengubah keyakinan dan memantapkan seseorang untuk memeluk Islam.
Hamparan karpet warna orens bermotif terasa luas. Karpet itu sengaja dibentangkan di atas lantai marmer Aula Rumah Jabatan (Rujab) Bupati Kotim khusus untuk menyaksikan momen langka yang terjadi seumur hidup bagi kedua pasangan suami istri lanjut usia (lansia) bernama Nasrun (70) dan Rusiani (65) asal Desa Parit, Kecamatan Cempaga Hulu.
Sekitar 15 anggota keluarga hadir menjadi saksi kedua pasutri lansia menjadi mualaf. Acara yang berlangsung singkat sekitar 30 menit itu berjalan lancar. Bupati Kotim Halikinnor secara langsung yang menuntun pasutri lansia membaca syahadat, Senin (3/6/2024) siang.
Keputusan Nasrun menjadi mualaf dilakukan dengan kesadaran penuh, tanpa paksaan. Ia didampingi istri yang sama-sama mengenakan pakaian putih duduk menghadap kearah Halikinnor.
”Apa niat pian (Anda) menjadi mualaf atas keinginan sendiri? Apa sudah merasa sudah yakin memeluk agama Islam?" tanya Halikinnor kepada Nasrun sebelum mengucapkan kalimat syahadat.
”Iya, ini keinginan saya dengan niatan karena Allah ta' ala," sahut Nasrun menjawab lirih sambil menyentuh dada dan mengusap tangan ke wajahnya, seakan menahan tangis haru.
Genggamam tangan mengikat keduanya. Sebanyak tiga kali kalimat syahadat, Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar Rasulullah yang artinya, ”Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Dan (aku bersaksi) bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah.” dibacakan Halikinnor sebagai penuntun. Bacaan yang sama diikuti Nasrun dengan terbata-bata.
Kalimat syahadat juga diucapkan Rusiani dan Jeny Zaskia (17) selaku cucu Nasrun dan Rusiani.
”Alhamdulillah, barakallah. Siapa pun yang memeluk Islam alangkah baiknya didasari atas dorongan hatinya sendiri, bukan karena paksaan. Karena, tidak semua orang mendapatkan hidayah dengan meyakini agama Islam. Maka, mulai hari ini menjadi saudara saya sesama Islam," kata Halikinnor seraya memberikan zakat untuk ketiga orang menjadi mualaf sebagai bentuk dukungan sesama muslim.
Halikinnor mengatakan, pada dasarnya, setiap orang berhak untuk memeluk agama apa pun sesuai dengan kepercayaan masing-masing. Tidak ada satu orang pun yang berhak memaksa orang lain untuk meyakini agama tertentu. Jika terjadi demikian, hal itu termasuk melanggar hak asasi manusia.
”Memutuskan menjadi mualaf itu ibaratkan kertas putih bersih dan ibarat bayi yang baru lahir tak berdosa. Maka, inilah salah satu keistimewaan menjadi mualaf," katanya.
Mualaf dalam bahasa Arab artinya sosok yang dilembutkan hatinya. Orang tersebut umumnya mendapat hidayah dari Allah SWT berupa perasaan batin yang bergejolak yang memiliki kecondongan untuk memeluk agama islam dan meninggalkan ajaran agama yang dianut sebelumnya.
Secara pengertian, mualaf merupakan seseorang yang imannya masih belum kokoh karena baru memeluk agama islam. Sehingga, seorang mualaf masih membutuhkan dukungan moral, penguatan pembelajaran agama islam dan dukungan sosial melalui pembagian zakat untuk mualaf.
Ustaz Sarifuddin yang juga hadir memberikan ceramah singkat selama tujuh menit memberikan nasihat kepada umat Islam, khususnya mualaf agar masuk Islam secara keseluruhan.
Dalam Quran Surah Al Baqarah Ayat 208 disebutkan, "Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu," kata Sarifuddin
Keseluruhan yang dimaksud artinya tidak cukup hanya mengucap kalimat syahadat tetapi juga menjalankan lima rukun islam.
”Syahadat itu baru permulaan, yang kedua mengerjakan salat lima waktu setiap hari, menunaikan zakat, berpuasa Ramadan, dan naik haji bagi yang mampu. Insya Allah kita doakan Pak Nasrun dan Ibu Rusiani bisa berangkat ibadah umrah," ujarnya.
Sementara itu, Rusiani mengaku ada perasaan gugup saat dituntun membaca kalimat syahadat. Padahal, anak-anaknya di rumah sudah lebih dulu mengajarinya membaca syahadat dengan ucapan yang jelas dan benar.
”Tadi rasanya gugup. Setelah selesai baca syahadat, ada kelegaan di hati sudah sah memeluk agama Islam," kata Rusiani, lansia kelahiran 12 Agustus 1959 ini.
Rusiani mengaku tak mudah meninggalkan agamanya terdahulu yang sudah diajarkan orang tuanya secara turun temurun.
”Berpindah agama ini menjadi keputusan yang berat. Walaupun panggilan hati itu sudah dirasakan lama. Tapi keraguan itu masih keluar masuk dalam pikiran," kata Rusmiani.
Meski sudah meninggalkan ajaran agama terdahulu, Nasrun dan Rusmiani tetap menghormati dan menghargai ajaran Hindu Kaharingan.
Hal itu dikarenakan suami Rusmiani, Nasrun, merupakan tokoh agama Hindu Kaharingan yang lahir di Banut Klanaman pada 12 November 1954 dan pernah aktif menjadi Damang Sampit, menggantikan ayahnya, Ranan Baut Bunu.
Begitu pula, Rusiani juga merupakan anak dari tokoh agama Hindu Kaharingan. Ayahnya bernama Gandi Teneng dan kakeknya Datu Ongko yang menjadi pesor, tokoh agama Hindu Kaharingan.
”Ajaran agama Hindu Kaharingan sudah turun temurun dari orang tua dan kakek, sehingga tidak mudah melepas dan berpindah agama ke islam," ucapnya.
Namun, hidayah dari Allah lebih dulu dirasakan anak sulungnya bernama Gahara (44) yang juga aktif sebagai Wakil Ketua V DAD Kotim yang sudah lebih dulu menjadi mualaf sejak tahun 1998, saat masih duduk di bangku SMA.
Kemudian, disusul adiknya, Wijaya (40), yang menjadi mualaf sejak tahun 2000, saat masih SMA, dan kemudian Mimi (41), mualaf di tahun 2003.
Anak keempat Rusmiani, Beni (35) juga menjadi mualaf tahun 2014. Kemudian, Yulia (29) dan Sinta (23) anak bungsu masuk Islam menjadi mualaf di tahun 2019. Sedangkan, anak kelima bernama Margareta (34) dan Elisa anak keenam masih menjalankan ajaran agama non-Islam.
”Jeny Zaskia ini cucu saya. Anaknya Mimi. Sekarang sudah menjadi mualaf bersamaan dengan kami berdua Pak Nasrun," kata Rusmiani yang sudah memiliki 22 cucu.
Rusmiani berharap agama Islam yang dianutnya yang sekarang membawakan kebaikan dan keberkahan untuknya dan keluarganya.
”Doakan saja, semoga atas bimbingan ajaran agama islam dari anak-anak yang sudah lebih dulu masuk islam dapat membawa kebaikan dan keberkahan untuk keluarga kami," katanya. (***/ign)
Editor : Slamet Harmoko