Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Gelap-gelapan, Warga Hanjalipan Harapkan Kehadiran Listrik dan Sekolah

Administrator • Rabu, 22 September 2021 | 13:45 WIB
BANTUAN: Ratusan paket bantuan dari donatur untuk warga Desa Hanjalipan harus diangkut menggunakan kelotok. (HENY/RADAR SAMPIT)
BANTUAN: Ratusan paket bantuan dari donatur untuk warga Desa Hanjalipan harus diangkut menggunakan kelotok. (HENY/RADAR SAMPIT)
Selama puluhan tahun warga Desa Hanjalipan, Kecamatan Kotabesi, belum menikmati listrik. Mereka berusaha berdamai dengan gelapnya malam. Mengurangi aktivitas dengan penerangan seadanya. Berharap mentari pagi segera menyapa.

HENY, Sampit

Langit jingga sore itu perlahan memudar. Warga desa nampak sudah bersiap menyambut malam yang jauh dari keramaian dan penerangan. Bagi warga yang mampu membeli bahan bakar minyak (BBM), mesin genset dan solar cell jadi pilihan. Ada pula warga yang memilih menggunakan lampu teplok atau lampu lentera ataupun menggunakan aki sebagai penerang malam.

Ahmad (54) baru saja mengisi daya aki miliknya yang menjadi barang berharga untuk menerangi rumahnya di malam hari. Dalam kondisi rumah yang masih tergenang banjir, dengan penerangan seadanya, dia beraktivitas malam hari dengan penuh hati-hati.

Lantai kayu yang berlubang dan genangan banjir yang menyelimuti rumahnya membuatnya kesulitan bergerak. Namun, gelapnya malam dan banjir yang nampaknya sudah biasa dihadapi warga.

Meski demikian, warga memiliki harapan suatu saat Desa Hanjalipan memiliki jaringan listrik yang bisa menerangi hingga 24 jam tanpa batas, layaknya di perkotaan.

”Beraktivitas dalam kegelapan dan penerangan yang seadanya sudah biasa bagi kami. Banjir pun sudah biasa kami hadapi setiap tahun. Ya, walaupun kami juga ingin suatu saat Desa Hanjalipan teraliri listrik,” kata Ahmad saat menunjukkan aki yang biasa digunakannya untuk penerangan.

Sebagian besar warga Desa Hanjalipan tinggal di bantaran Sungai Mentaya. Sepanjang 1.800 meter rumah warga yang terbuat dari kayu berjejer.

Ketika Radar Sampit mengunjungi Hanjalipan, toilet hampir tak pernah ditemukan. Setiap rumah masih mengandalkan jamban; ruang persegi yang terbuat dari kayu mengapung di atas air yang biasa digunakan warga untuk buang hajat.

Kehadiran listrik begitu diimpikan warga. Purliansyah (52), Ketua RT 3 RW 2 yang ketika itu mengantarkan Radar Sampit menggunakan kelotok menuju rumah Kades Hanjalipan mengatakan, warga begitu mengharapkan kehadiran listrik dan sekolah.

”Yang kami butuhkan dan kami impikan selama ini listrik dan sekolah menengah pertama (SMP). Di sini hanya ada SDN 1 Hanjalipan yang sekarang kondisinya banjir. Banyak warga Desa Hanjalipan yang harus bersekolah SMP ke Tehang, naik kelotok selama 30 menit,” kata Purliansyah.

Selama banjir sejak Rabu (25/8) lalu, warga tak bisa bekerja dan hanya menerima belas kasih dari bantuan berbagai pihak. ”Alhamdulillah kami bersyukur, selama banjir bantuan datang untuk warga Desa Hanjalipan hampir setiap hari. Kalau tidak ada bantuan, tidak bisa bekerja, dan tidak ada pekerjaan lain selain menangkap ikan, rasanya sulit mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” katanya.

Kepala Desa Hanjalipan Sapransyah mengatakan, banjir yang terjadi di Desa Hanjalipan telah menenggelamkan 313 unit rumah dengan kedalaman 30-170 cm. Jumlah penduduk di Desa Hanjalipan terdiri atas 427 KK atau 1.740 warga secara keseluruhan.

”Bencana banjir tahun ini yang paling parah dan lambat surutnya. Sekarang kondisinya sudah semakin surut. Di beberapa titik, ketinggian air ada yang sudah surut 30 cm dan ada yang di dataran rendah masih sepinggang orang dewasa,” kata Sapransyah.

Selama bencana banjir melanda, Sapransyah bersyukur dan berterima kasih karena bantuan dari pemerintah dan berbagai pihak, meringankan beban warga.

Ada bantuan beras dari Pemkab Kotim dan dari Pemprov Kalteng  berupa 320 paket sembako, bantuan paket bahan pokok dari Kecamatan Kotabesi, dan dari berbagai pihak lainnya.

”Kami mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya pada semua pihak yang sudah membantu warga kami. Semua bantuan yang diberikan langsung kami salurkan untuk warga,” katanya.

Camat Kotabesi Ninuk Muji Rahayu (sebelum dimutasi, Red) mengatakan, persoalan banjir di Desa Hanjalipan sudah pernah diusulkan pemerintah agar warga direlokasi ke dataran yang lebih tinggi.

”Sudah pernah ditawarkan pemerintah usulan relokasi warga ke dataran yang lebih tinggi. Warga yang masih betah dan nyaman tinggal di tempat yang sekarang. Jadi, untuk saat ini tidak ada solusi, selama masyarakat tidak mau pindah kami juga tidak bisa memaksa,” kata Ninuk.

Ninuk menambahkan, lamanya banjir yang menggenang Desa Hanjalipan dipengaruhi faktor lokasi Desa Hanjalipan yang berada di antara Sungai Mentaya dan Sungai Tualan. ”Posisi Desa Hanjalipan itu berada di hulu yang membelah Sungai Mentaya dan Sungai Tualan. Selama air dari atas masih deras dan pasang, banjir di Desa Hanjalipan diprediksi lama turunnya,” tandasnya. (***/ign) Editor : Administrator
#banjir #listrik #desa hanjalipan