Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Keteguhan Hati Pedagang Pentol Bundaran Pancasila

Slamet Harmoko • Senin, 16 Agustus 2021 | 10:10 WIB
Pedagang Kali Lima (PKL) di Taman Kota Bundaran Pancasila biasanya begitu ramai. Namun sejak pemberlakuan penyekatan jalur di belasan titik jalan dalam masa PPKM level 4, nyaris semuanya tak ada lagi, saat ini hanya satu pedagang yang masih tersisa. Dialah Siti Nurjanah pedagang pentol.

KOKO SULISTYO, Pangkalan Bun

Malam itu belum begitu larut, tapi udara dingin telah menusuk tulang lantaran sore hari Kota Pangkalan Bun diguyur hujan. Terlihat di kejauhan seorang perempuan paruh baya masih setia menjaga gerobak berisi dagangan pentol. Tidak seperti biasanya, lapak jualannya sepi tak ada satupun pembeli yang menghampiri.

Wajar saja, lima akses jalan menuju tempat ia mengais rezeki sejak pukul 18.00 WIB menjadi jalur penyekatan, baik itu dari arah HM Rafi’i, Jalan Pemuda, Jalan Malijo, Jalan Iskandar dan Jalan menuju Desa Pasir Panjang.

Meski ditutup, ia masih menyimpan asa untuk mengais rejeki kala penyekatan dibuka pukul 21.00 WIB. Siti Nurjanah tidak patah arang, padahal sejak 5 Agustus 2021 ia selalu merugi, dagangannya tak pernah habis seperti sebelum masa penyekatan. Ia baru menggelar dagangannya pukul 16.00 WIB dan harus terima dengan penyekatan pada pukul 18.00 WIB.

Saat dihampiri senyum perempuan mungil itu terlihat sumringah, matanya berbinar, dengan ramah menyapa dan tangannya cekatan membuka tutup panci besar berisi bermacam varian pentol.

Kepada Radar Sampit ia mengaku pasrah dengan keadaan di masa pandemi Covid-19, meski berbagai kebijakan menghantam sektor usahanya namun perempuan itu tidak pernah menyalahkan pemerintah.

Ia mengaku kehilangan pundi-pundi rupiah selama penyekatan seluruh akses menuju Taman Kota Bundaran Pancasila. Bahkan, dalam sehari ia hanya membawa uang Rp100 ribu.

Hasil jualannya hanya cukup untuk kebutuhan makan sehari-hari, tidak ada lagi yang tersisa untuk ditabung guna mencukupi setoran kontrak rumahnya.

“Betul mas, sejak ada penyekatan hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, padahal saya harus menabung untuk membayar kontrakan, saya pasrah tetapi tidak putus asa,” ujarnya.

Saat ditanya, mengapa tidak mengikuti jejak pedagang lainnya yang memilih tidak buka? Dengan wajah murung ia menjawab “Kalau saya tidak buka mau makan apa, suami saya kan yang membuat pentol-pentol dagangan, praktis ya hanya berjualan sumber penghasilan kami,” imbuhnya.

Ia mengaku beberapa kali ditegur Satgas Covid-19, namun ia merasa bersyukur sebab mereka menegur dengan ramah dan humanis tanpa menyita dagangannya.

Menurutnya, di masa sulit seperti saat ini tidak ada waktu untuk mengeluh dan meratapi keadaan, justru harus lebih giat dan terus berusaha meski berat.

“Saya yakin bukan hanya saya yang mengalami dampak dari pandemi, namun hal itu tidak lantas membuat kita putus asa, tetapi justru harus lebih bersemangat," pungkasnya. (sla) Editor : Slamet Harmoko
#pedagang pentol #pedagang kali lima #kobar #PPKM level 4 #pkl #Pangkalan Bun #kalteng