Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Dua Kali Terinfeksi, Diserang Sesak Napas dan Komplikasi

Radar Sampit • Rabu, 21 April 2021 | 08:43 WIB
Perjuangan Dokter Senior RSUD dr Murjani Sampit Melawan Covid-19  

Covid-19 merenggut nyawa dokter senior di RSUD dr Murjani Sampit. Naris Roswidiyandari harus berjuang hingga akhir hayatnya melawan penyakit itu hingga akhirnya dia berpulang dan meninggalkan luka mendalam bagi orang-orang di sekitarnya.

HENY, Sampit

Suara sirine ambulans menggema di jalanan Kota Sampit, diikuti rombongan mobil dan sepeda motor pengantar jenazah. Rombongan itu berangkat dari rumah duka di Jalan Ahmad Yani menuju Masjid Al Falah, Selasa (20/4).

Jenazah almarhumah Naris Roswidiyandari yang tutup Senin (19/4) lalu, disalatkan siang itu. Jenazahnya dibawa menggunakan peti kayu yang ditutupi kain hijau tua.

Mantan Kepala Kemenag Kotim Samsudin memimpin salat jenazah. Tak lama kemudian, jenazah dimasukkan ke dalam ambulans, lalu bergerak menuju gedung baru RSUD dr Murjani Sampit untuk dilakukan penghormatan terakhir.

Setiba di teras lobi utama, ratusan tenaga kesehatan dan pegawai rumah sakit sudah berdiri menanti kehadiran jenazah. Ambulans terhenti tepat di depan pintu masuk utama lobi gedung baru. Posisinya dibuat menyerong menyesuaikan arah kiblat.

Pintu mobil ambulans dibuka di dua sisi. Nampak terlihat peti jenazah terbalut kain hijau di dalamnya. Jenazah disalatkan untuk kedua kalinya.

Tak sedikit dari pegawai dan tenaga kesehatan meneteskan air mata saat doa dipanjatkan. Suara isak tangis dan derai air mata berkali-kali membasahi pipi pihak keluarga almarhumah.

Selesai pemanjatan doa, Plt Direktur RSUD dr Murjani Sampit Benyamin Kumila menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya atas pengabdian almarhumah Naris Roswidiyandari yang sudah puluhan tahun bertugas. Bahkan, bisa dikatakan sebagai dokter perintis spesialis mata di Kotim.

”Kami menyadari selama kebersamaan dengan almarhumah tidak luput dari segala kekurangan. Khususnya selama perawatan almarhumah. Saya dan seluruh karyawan rumah sakit menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya kepada keluarga Bapak Yuendri irawanto, khususnya kepada almarhumah. Kami mohon dimaafkan," ucap Benyamin dengan suara yang berat menahan tangis.

Dia menuturkan, koleganya itu merupakan dokter senior spesialis mata yang sudah mengabdi cukup lama di RSUD dr Murjani Sampit. ”Kakak kami Dokter Naris adalah pahlawan RSUD dr Murjani Sampit yang sangat berjasa dan telah mengabdi cukup lama. Karenanya, saya dan segenap keluarga besar RSUD dr Murjani Sampit berbelasungkawa sedalam-dalamnya," katanya.

Dokter Spesialis Mata Frisma Sagara yang bertugas selama kurang lebih dua tahun terakhir, sekaligus anak kandung Naris menyampaikan ucapan terima kasih atas penghormatan terakhir untuk almarhumah.

”Sudah 20 tahun ibu mengabdi di sini. Mungkin beliau bisa dikatakan dokter spesialis terlama bertugas. Beliau sebagai senior, mentor saya, dan beliau juga yang mengarahkan saya melanjutkan pendidikan," kata Frisma.

Jenazah lalu dikebumikan di lokasi Pemakaman Wengga. Puluhan pejabat hadir menghadiri proses pemakaman terakhir. Belasan ucapan belangsungkawa memenuhi area pemakaman.

Proses pemakaman berlangsung lancar sekitar 35 menit. Yuendri Irawanto, suami almarhumah, tak bisa menahan tangisnya ditinggal pasangan hidupnya itu.

”Saya, suami Naris Roswidiyandari binti Suroso menyampaikan permohonan maaf apabila selama hidup ibu ada kesalahan. Terima kasih untuk semua yang hadir mengantarkan hingga ke tempat pemakaman terakhir," katanya.

Kepada Radar Sampit, Yuendrie menceritakan musabab meninggalnya sang istri. Istrinya terinfeksi Covid-19 pada awal Desember 2020 dan dinyatakan sembuh. Namun, pada 21 Februari 2021, virus jahat itu kembali menyerang tubuh Naris yang saat itu masih aktif bertugas melayani pasien di rumah sakit.

”Untuk kedua kalinya ibu kena (Covid-19) lagi di tanggal 21 Februari. Kemungkinan besar penularan terjadi dari pasien sekitar 10 Februari 2021, karena tubuh yang terinfeksi akan bereaksi sekitar 10-14 hari setelahnya," ucap pria menjabat Kepala UDD PMI Kotim ini.

Dia bersama tim dokter sebelumnya berkali-kali melakukan upaya penyembuhan. Almarhumah ternyata belum pernah divaksin. ”Kami mengikuti prosedur saja. Seseorang yang sebelumnya terinfeksi Covid-19 belum boleh divaksin sampai tiga bulan sejak dinyatakan positif. Saat diketahui terkena Covid-19, hasil pemeriksaan antibodi belum terbentuk. Belum divaksin, sudah keduluan kena," katanya.

Setelah dua kali virus itu menyerang, Naris akhirnya berhasil melawan virus tersebut.  ”Tanggal 10 Maret hasil pemeriksaan sudah dinyatakan negatif, tetapi ibu masih mengalami sesak napas, sehingga 15 Maret ibu dirawat di ruang ICU menjalani perawatan intensif," katanya.

Berhasil mematikan virus dalam tubuh saja tidak cukup membuat perempuan kelahiran Bandung, 24 Maret 1963 ini bangkit. Penyakit penyerta yang dialaminya, yakni diabetes dan riwayat penyakit lain, seperti stroke dan tekanan darah tinggi, membuat tubuhnya semakin tak berdaya.

Selama 18 hari almarhumah dirawat di ruang isolasi khusus pasien Covid-19. Dilanjutkan dirawat di ruang ICU selama 35 hari.

”Ibu mengalami sesak napas dan komplikasi. Sudah berapa kali menjalani cuci darah, tetapi Allah berkehendak lain," tandasnya. Istrinya mengembuskan napas terakhir pada Senin, sekitar pukul 14.00 WIB. (***/ign) Editor : Radar Sampit
#Istridokteryuendrie ##covid19 #RSUDdrmurjanisampit #tenaga medismeninggaldunia