PANGKALAN BUN, radarsampit.jawapos.com – Debit air Daerah Aliran Sungai (DAS) Arut mengalami penurunan signifikan sejak sepekan terakhir. Menyusutnya air sungai tersebut bahkan dimanfaatkan anak-anak sebagai wahana bermain perosotan di sejumlah titik bantaran sungai.
Kondisi ini berdampak langsung terhadap mata pencaharian warga, khususnya nelayan sungai. Warga mengaku kesulitan mencari ikan akibat debit air yang terus menurun.
Selain itu, surutnya Sungai Arut juga membuka peluang terjadinya praktik penangkapan ikan ilegal. Oknum masyarakat diduga memanfaatkan kondisi tersebut dengan menggunakan alat tangkap tidak ramah lingkungan, seperti racun dan setrum.
Warga Desa Runtu, Kecamatan Arut Selatan, Rudi, mengatakan penurunan debit air sungai telah terjadi sejak sepekan terakhir. Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi oleh minimnya curah hujan serta cuaca panas yang berkepanjangan.
“Biasanya tebing sungai tidak terlihat. Namun saat air surut seperti sekarang, tebing bertipe tanah liat ini dimanfaatkan anak-anak untuk bermain perosotan,” ujarnya, Senin (26/1).
Ia mengungkapkan kekhawatirannya jika debit air terus menurun, praktik penangkapan ikan ilegal akan semakin marak. “Kalau air makin surut, pelaku ilegal fishing bisa semakin merajalela dengan menggunakan setrum dan racun,” katanya.
Hal senada disampaikan Ari, warga Pangkut, Kecamatan Arut Utara. Ia mengakui penurunan debit Sungai Arut menyulitkan aktivitas warga, terutama karena jarak antara permukaan daratan dan permukaan air sungai semakin jauh serta akses menuju sungai menjadi curam.
“Sebagian besar warga masih bergantung pada sungai untuk mandi dan mencuci. Sekarang jarak dari daratan ke sungai sekitar lima meter. Semoga hujan segera turun dan kondisi sungai kembali normal,” pungkasnya. (tyo/yit)
Editor : Heru Prayitno