Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Lanud Iskandar Gelar Renungan Malam di Monumen Palagan Sambi

Syamsudin Danuri • Minggu, 19 Oktober 2025 | 05:15 WIB
Malam renungan di Monumen Pesawat Palagan Sambi, kawasan Bundaran Pancasila Pangkalan Bun, 17 Oktober 2025.
Malam renungan di Monumen Pesawat Palagan Sambi, kawasan Bundaran Pancasila Pangkalan Bun, 17 Oktober 2025.

PANGKALAN BUN, radarsampit.jawapos.com - Di Desa Sambi, Kecamatan Arut Utara, Kabupaten Kotawaringin Barat, berdiri sebuah Tugu Palagan Sambi. Monumen ini  menjadi saksi bisu operasi penerjunan militer pertama Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) pada 17 Oktober 1947.

Dalam rangka mengenang jasa 13 penerjun pertama dalam misi operasi militer di Kalimantan, Pangkalan TNI AU (Lanud) Iskandar menggelar renungan malam di Monumen Palagan Sambi, Jumat (17/10). Kegiatan ini menandai 78 tahun peristiwa penerjunan pasukan pada 1947, yang menjadi bagian penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan di Kalimantan Tengah.

Komandan Lanud Iskandar Letkol Pnb Nugroho Tri Widyanto menyampaikan bahwa semangat patriotisme dan pengorbanan para penerjun tersebut harus menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus mencintai dan menjaga tanah air.

“Semangat para pahlawan ini adalah warisan penting yang harus kita teruskan. Mereka berjuang tanpa pamrih demi Indonesia merdeka,” ujarnya.

Letkol Nugroho juga menegaskan bahwa para penerjun dalam operasi militer tersebut merupakan putra asli Dayak Kalimantan, bukan dari Jawa. Hal ini menunjukkan bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan adalah tanggung jawab seluruh anak bangsa, tanpa memandang asal daerah atau suku.

“Semangat patriotisme saat ini sangat memudar. Kita masih mudah dipecah belah. Dengan mengenang perjuangan Palagan Sambi, mari kita pupuk kembali semangat ikhlas berbakti kepada negara,” tambahnya.

Pada kesempatan tersebut, ia juga mengajak masyarakat untuk menumbuhkan kembali jiwa nasionalisme dengan mengisi kemerdekaan melalui karya nyata. Ia menekankan pentingnya menjaga dan mengembangkan Monumen Palagan Sambi sebagai situs sejarah yang memiliki nilai edukatif tinggi.

“Monumen ini milik bersama. Jika ke depan dibangun lintasan sejarah di lokasi ini, itu akan menjadi sarana edukatif bagi generasi penerus dalam mengenal perjuangan leluhurnya,” ucapnya.

Selain sebagai bentuk pelestarian sejarah, Danlanud berharap kawasan Monumen Palagan Sambi dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata edukasi sejarah. Ia meyakini hal tersebut dapat memberikan dampak positif terhadap peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Kotawaringin Barat. 

“Sejarah perjuangan para penerjun pertama adalah kebanggaan masyarakat Kalimantan yang patut dijaga dan diwariskan,” ungkapnya.

Dari pihak Kesultanan Kutaringin, Gusti Muhammad Awaluddin menyatakan bahwa kesultanan turut mendukung terbentuknya pemerintahan pada masa awal kemerdekaan. Ia juga menekankan pentingnya memperingati 17 Oktober 1947 sebagai momentum lahirnya Komando Pasukan Gerak Cepat (Kopasgat).

“Harapan kami, pemerintah daerah memberikan perhatian lebih terhadap kegiatan-kegiatan yang mengusung nilai perjuangan seperti ini,” tuturnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Kotawaringin Barat Suyanto yang hadir dalam kegiatan tersebut, menyebut renungan malam sebagai momen refleksi agar masyarakat tidak melupakan sejarah.

“Kisah perjuangan Palagan Sambi perlu diabadikan dalam bentuk audio visual, agar bisa dipelajari pelajar sejak tingkat PAUD hingga SMA,” katanya.

Ia menilai, penanaman nilai-nilai sejarah sejak dini sangat penting untuk membangun karakter dan semangat kebangsaan generasi muda.

“Ketika semangat itu ditanamkan sejak dini, maka akan melekat dan menjadi bagian dari upaya membangun sejarah bangsa,” ujarnya. 

Seperti diketahui, Tugu Palagan Sambi merupakan tempat bersejarah yang menandai operasi penerjunan militer pertama Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) pada 17 Oktober 1947. Usia kemerdekaan Indonesia, Belanda kembali melancarkan serangan lewat Agresi Militer I, dan wilayah Kalimantan khususnya Kotawaringin menjadi salah satu target mereka.

Untuk menghadapi ancaman itu, Gubernur Kalimantan  menggagas aksi infiltrasi militer ke Kalimantan. Ia meminta dukungan dari AURI yang kala itu dipimpin Suryadarma, guna menyiapkan pasukan khusus yang akan diterjunkan langsung ke medan operasi.

Setelah melewati proses pelatihan, terpilihlah 13 prajurit pilihan di bawah komando Tjilik Riwut, pejuang asal Kalimantan. Mereka diutus membawa misi penting memperkuat perlawanan rakyat Kalimantan dan membuka jalur komunikasi rahasia di tengah blokade Belanda.

Dengan seluruh jalur laut dan sungai yang dikuasai oleh tentara Belanda yang dikenal sebagai Netherlands Indies Civil Administration (NICA) misi penerjunan menjadi satu-satunya cara bagi pasukan Indonesia untuk masuk ke Kalimantan. 

Tentara Belanda, yang bersenjata lengkap, menjadi alat utama Belanda dalam menghadapi perlawanan rakyat Indonesia. Pasukan Indonesia harus mencari jalur udara sebagai satu-satunya celah untuk masuk ke Kalimantan.

Maka, pada dini hari 17 Oktober 1947, prajurit pilihan diterbangkan dari Lanud Maguwo, Yogyakarta, menggunakan pesawat Dakota RI-002 yang dipiloti oleh Robert Earl Freeberg, seorang sukarelawan asal Amerika Serikat.

Sesuai rencana, mereka akan mendarat di Lapangan Sepanbiha, Rantau Pulut (Seruyan). Namun karena malam yang gelap, mereka justru terjun di sekitar Kampung Sambi, Kotawaringin Barat. Inilah yang kemudian tercatat dalam sejarah sebagai penerjunan militer pertama yang dilakukan oleh AURI di wilayah Indonesia. 

Meski terjun di tempat yang tidak direncanakan, seluruh 13 prajurit berhasil terjun dengan selamat saat mendarat di tengah belantara Kalimantan. Penerjunan itu memang tidak berjalan mulus.

Banyak di antara mereka yang terperangkap di rimba lebat Desa Sambi, Kecamatan Arut Utara. Keberadaan mereka akhirnya diketahui oleh tentara Belanda. Bentrok pun tak terhindarkan. Tiga penerjun Iskandar, Achmad Kosasih dan Hari Hadisoemantri gugur dalam pertempuran.

Salah satu bentuk penghargaan atas perjuangan para pahlawan ini diwujudkan dalam pembangunan Monumen Palagan Sambi lengkap dengan pesawat C-47 Dakota RI-002 pesawat bersejarah yang digunakan dalam operasi penerjunan tersebut. (sam/yit)

 

 

Editor : Heru Prayitno
#palagan sambi #Renungan #Lanud Iskandar