PANGKALAN BUN, Radarsampit.jawapos.com - Usai tragedi kecelakaan yang menimpa sopir truk Izusu Giga dengan truk Fuso bermuatan kontainer (peti kemas) di jalan pelabuhan CPO Bumi Harjo Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) yang menyebabkan korban tewas, warga mulai bersuara.
Terutama terkait dengan kelaikan armada pengangkut kontainer yang dinilai merupakan fuso-fuso yang sudah berusia uzur dan tidak laik jalan.
Warga mengungkapkan, bahwa di Bumi Harjo ada dua pengusaha ekspedisi khusus kontainer yang armadanya setiap hari mondar mandir mengangkut muatan kontainer menuju Pelabuhan CPO Kalap.
Fuso-fuso milik dua pengusaha tersebut kerap menimbulkan masalah di jalan, salah satunya kerap mogok saat operasional, kontainer terlepas dari badan Fuso, hingga Fuso menabrak bangunan rumah warga saat tidak mampu menanjak. Bahkan kontainer yang terlepas dan menimpa pengendara hingga tewas di jalan Ahmad Yani.
Informasi dari salah seorang petugas di Dinas Perhubungan Kotawaringin Barat mengungkapkan hampir semua armada Fuso milik pengusaha ekspedisi di Bumi Harjo tersebut sejatinya sudah tidak lain jalan.
Diketahui, salah satu pengusaha ekspedisi tersebut pernah membeli Fuso bekas yang sudah uzur hanya seharga Rp100 juta dari pulau Jawa. Bahkan sebagian besar armada yang mereka miliki masih ber plat luar Kalimantan Tengah.
Meski demikian, mirisnya fuso-fuso tua tersebut bebas beroperasi di jalanan menuju pelabuhan CPO Kalap dan ruas jalan di Kota Pangkalan Bun dan menebar ancaman keselamatan pengguna jalan lainnya.
"Dari fisik Fuso dengan roda 16 itu saja sudah kelihatan tidak laik jalan, tetapi tetap dipaksakan operasional, nanjak sedikit saja nyaris tidak mampu, sehingga berdampak pada keselamatan pengguna jalan, instansi terkait bukan tidak tahu kalau unit Fuso kontainer itu sudah tidak laik jalan," kata warga Sungai Rangit, Gani, Jumat (19/9).
Ia berharap, agar dilakukan tindakan tegas dan melarang fuso-fuso yang sudah tidak laik jalan beroperasi masuk pelabuhan CPO Kalap. Dan kepada pengusaha ekspedisi angkutan peti kemas agar meremajakan armadanya agar tidak menimbulkan korban lebih banyak di jalan.
Warga lainnya, Eko mengungkapkan keluhan warga juga terkait dengan keberadaan kontainer yang parkir di bahu jalan, terutama di kilometer 17, Jalan Ahmad Yani, dari depan Masjid Nur Aida hingga batas RT 7 Sungai Rangit menjadi lahan parkir.
Baca Juga: Dua Truk Saling Hantam, Satu Sopir Tewas, Inilah yang Jadi Sorotan Serius Warga
Menurutnya, salah satu pengusaha angkutan peti kemas pangkalan fusonta berada di dalam gang yang sempit, sehingga sulit bagi truk Fuso dengan roda 16 masuk. Bahkan baru-baru ini salah satu truk Fuso dengan kontainer panjang saat keluar dan akan berbelok menghantam pagar tembok warga.
"Bukan hanya itu, pengendara roda dua juga ada yang nabrak belakang Fuso yang parkir, ini juga harus menjadi perhatian, belum lagi tempat usaha warga yang tertutup oleh parkir Fuso kontainer berjejer-jejer," pungkasnya. (tyo/fm)
Editor : Farid Mahliyannor