PANGKALAN BUN – Sebuah fenomena kecil berupa keberadaan sarang lebah dan kucing luar yang di Pangkalan Bun, rupanya menyebabkan beberapa warga menjadi resah.
Beberapa warga yang bersantai di taman Bundaran Kecubung (Pangkalan Lima), Kelurahan Baru, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat bergidik ngeri. Betapa tidak, sebuah sarang Lebah madu berukuran besar, tergantung di bawah puncak menara dengan ketinggian lebih dari 25 meter.
Warga khawatir lebah akan menyengat para pengunjung. Terlebih sehari sebelumnya, Bupati Kotawaringin Barat Hj Nurhidayah baru saja melakukan kegiatan gerakan penghijauan di Bundaran Kecubung.
"Kaget juga ketika bersantai, dan melihat ke atas ternyata ada sesuatu yang menggumpal dalam ukuran besar, dan setelah di zoom dengan kamera ternyata lebah madu yang bersarang," kata Darsono, salah satu warga Pangkalan Lima, Sabtu (21/6).
Menurutnya, keberadaan sarang lebah di fasilitas publik tersebut sangat membahayakan, karena lebah madu ini akan menyerang bila merasa terusik. Namun, jika d evakuasi juga terbilang sulit karena berada di ketinggian, sehingga sulit dijangkau.
Sementara itu Plt Sekretaris Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Kotawaringin Barat Dwi Agus Suhartono menegaskan, mereka akan melakukan asesmen terlebih dahulu sebelum bertindak.
Ia mengakui, untuk rescue sarang lebah madu di ketinggian puluhan meter mereka belum mempunyai alat untuk bisa menjangkaunya.
Terpisah, belasan kucing liar yang diketahui tanpa pemilik meresahkan masyarakat Kelurahan Raja Seberang, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar).Berbagai jenis kucing baik anggora, kucing lokal, dan mixdom berkeliaran dan membuang kotoran sembarangan, bahkan di halaman dan teras rumah warga.
Tidak diketahui dari mana datangnya kucing-kucing tersebut, sejak beberapa bulan terakhir jumlahnya semakin banyak. Bahkan kucing-kucing tersebut berani masuk ke rumah warga dan mencuri lauk pauk di dalam tudung saji. Setiap pagi, warga disibukan dengan aktivitas membuang kotoran kucing di tengah jalan, kucing - kucing itu membuang kotoran di lubang-lubang yang terdapat di jalan aspal permukiman.
Kondisi tersebut selain membuat kumuh, juga berpotensi menimbulkan penyakit, warga berharap agar kucing-kucing liar tersebut di bersihkan dan dijauhkan dari permukiman.
"Setiap pagi saya harus membersihkan kotoran kucing di jalan, kalau tidak dibersihkan baunya masuk ke dalam rumah, jarak antara jalan dan rumah hanya 2 meter saja, kita engga tahu kucing siapa yang berkeliaran," keluh salah satu warga RT 03, Suci pada Sabtu (21/6).
Warga lainnya, Ratna mengungkapkan, setiap pagi kotoran kucing berhamburan di jalan, bahkan ia juga harus rela membuang sendiri kotoran kucing dari depan rumahnya.
Ia mengaku sudah gerah dengan keberadaan kucing-kucing liar tersebut, selain menyebarkan penyakit lewat kotoran dan bulunya, juga berpotensi rabies. Karena kucing-kucing liar belum pernah di vaksin.
"Kalau kucing perempuan pasti bunting terus, nanti anak-anaknya berkeliaran, dan jumlahnya semakin banyak, beberapa kali sudah dimasukan dalam karung dan dibuang jauh dari permukiman, tetapi kucing-kucing baru bermunculan," bebernya.
Ia pun berharap agar Pemerintah Kelurahan, Dinas Kesehatan, Dinas Pertanian dapat turun membersihkan kucing-kucing liar tersebut.
"Kalau kucing peliharaan aman saja, karena mereka menyediakan tempat buang kotoran kucing dan tentu makan kucing terjamin, kalau yang liar ini berak dan kencing sembarangan, teras bau pesing kucing," pungkas Ratna. (tyo/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama